Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 8 - Maafin Mama


__ADS_3

"Apa karena Zia bukan ibu kandung, Yumna? Makanya Mama dan Tante tidak menganggap jika kabar Yumna penting untuk Zia?"


"Zia, sayang ... Bukan begitu, Nak. Mama tidak bermaksud seperti itu. Mama hanya---"


"Ma, Zia tahu, Zia bukan ibu kandung Yumna. Tapi, Zia sudah menganggap Yumna seperti anak Zia sendiri, Ma. Yumna bukan hanya seorang keponakan bagi Zia. Yumna sudah Zia anggap bagian dari hidup Zia," ujar Zia memotong kalimat Mama Nayna.


"Iya, sayang. Mama minta maaf. Mama salah." Mama Nayna pun mencoba meredam kekesalan Zia.


"Zia kecewa sama Mama, hiks ..."


"Jika kamu ingin melampiaskan rasa kecewa kamu, maka lampiaskan lah kekecewaan kamu kepada Mas, Zi, karena Mas yang salah. Mas yang melarang mama untuk tidak memberitahu kamu tentang keadaan Yumna saat ini."


Zia menoleh ke arah sumber suara, di mana gadis itu melihat keberadaan sang Abang yang berdiri gak jauh darinya.


Bara menghela napasnya pelan, pria itu pun kembali berjalan semakin mendekat ke arah sang adik.


"Mama dan Tante Kesya gak salah, Dek, Mas yang salah. Mas yang melarang beliau untuk tidak memberitahu kamu tentang keadaan Yumna," ujar Bara menjelaskan.


"Tapi kenapa, Mas? Kenapa Mas melarang Mama?" tanya Zia sambil terisak.


"Karena Mas tau, pameran di Singapure itu adalah salah satu mimpi yang ingin kamu raih, Zi," sahut Bara.


Zia mendengus pelan, gadis itu pun mengusap air matanya dengan kasar.


"Tidak ada mimpi yang ingin aku raih saat ini, Mas, selain melihat jika Yumna baik-baik saja dan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar, seperti Mbak Putri," ujar Zia menatap dalam ke mata Bara.


Zia dan Bara pun saling memandang, entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya saat ini. Hingga suara yang sangat familiar, membuat Zia, Bara, Mama Nayna, dan Soni terkejut.


"Kalau mimpi kamu saat ini hanya ingin melihat Yumna baik-baik saja. Maka menikahlah dengan Arash. Jadilah ibu yang sah bagi Yumna," ujar Mama Kesya.


Semua orang yang ada di sana benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh Mama Kesya.


Zia mengernyitkan keningnya, di saat dia melihat keseriusan dari wajah Mama Kesya, bukankah wanita paruh baya itu sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Ibra? Lalu, kenapa Mama Kesya meminta dirinya untuk menjadi istri Arash?


Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Zia tidak akan pernah menikah dengan suami kakaknya sendiri.

__ADS_1


Mama Kesya menghela napasnya pelan, dia pun melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Zia. Mama Kesya mengambil satu tangan Zia, menggenggamnya dengan erat dan hangat.


"Zi, tidak ada ibu pengganti yang lebih baik dari kamu untuk Yumna. Dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi Putri di samping Yumna, selain kamu, Zi, tidak ada." Mama Kesya menatap Zia dengan tatapan sendunya.


"Jadi, Tante mohon, menikahlah dengan Arash, agar kamu bisa menjadi ibu sambung yang terbaik untuk Yumna," pinta Mama Kesya penuh harapan.


"Ta-tante, apa maksud dari pemerintah Tante?" gugup Zia. "Jika Tante meminta Zia untuk menjadi istri Mas Arash, Zia tidak bisa, Tante. Zia tidak bisa," tolak Zia. "Jika Tante ingin Zia menjadi ibu bagi Yumna, Zia bisa melakukannya tanpa menikah dengan Mas Arash, Tante."


Terlihat raut wajah kekecewaan yang terpancar dari wajah Mama Kesya, akan tetapi wanita paruh baya itu tetap tersenyum kepada gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Itu hanya sebuah harapan Tante aja, Zi. Walaupun Tante tahu, jika hal itu tidak mungkin terjadi," ucap Mama Kesya.


"Tante tahu seberapa besar cinta Arash kepada Putri, walaupun Tante sangat ingin kaju menikah dengannya, tapi pasti dia juga akan menolak permintaan Tante secara mentah-mentah, seperti kamu menolak permintaan Tante," ucap Mama Kesya dengan lirih.


"Zia janji, Zia akan selalu ada untuk Yumna. Tapi, Zia harap hal ini tidak terulang kembali, Tante, Ma. Zia mau, Mama dan Tante tetap memberikan kabar apa pun tentang Yumna. Zia hanya tidak ingin Yumna kenapa-napa," ujar Zia sambil menatap dalam ke mata Mama Kesya dan Mama Nayna secara bergantian.


"Baju kamu basah, sayang, sebaiknya kamu ganti baju dulu, ya," titah Mama Nayna mengalihkan pembicaraan yang membuat suasana menjadi kikuk.


"Koper kamu mana?" tanya Mama Nayna yang tidak melihat jika Zia atau pun Soni menarik sebuah koper.


"Ma, Zia ke sini gak bawa pulang baju," ucap Zia memberitahu.


"Kalau baju kamu basah begini, yang ada kamu masuk angin, sayang. Sebaiknya kamu balik pulang ke rumah dulu ya sama Bara? Nanti setelah ganti baju, kamu ke sini lagi, gimana?" usul Mama Nayna.


"Enggak, Ma. Zia mau lihat keadaan Yumna sekarang."


"Tapi baju kamu basah, sayang. Mama takutnya kamu kelepasan gendong Yumna dengan baju basah," ujar Mama Nayna mengingatkan.


"Tapi, ma---"


"Begini saja, kebetulan saya ada bawa dasternya Putri, Mbak. Bagaimana jika Zia memakai dasternya Putri? Selagi menunggu pakaian Zia di antar ke sini?" usul Mama Kesya.


"Ide bagus. Emm, ya sudah kalau begitu, Mama suruh si Mbok untuk siapin baju kamu dan bawa ke sini, ya!" ujar Mama Nayna dan mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten rumah tangganya.


"Ayo, Zia, kita masuk ke dalam saja. Anginnya dingin di luar, takutnya kamu masuk angin lagi kalau kelamaan pakai baju basah," ajak Mama Kesya dan membawa Zia masuk ke dalam ruang inap Yumna.

__ADS_1


Bara menghela napasnya pelan, pria itu menoleh ke arah Soni yang berdiri di dekatnya.


"Mas Soni, makasih banyak ya sudah mau di repotkan oleh Zia," ujar Bara sambil tersenyum.


"Iya, gak papa kok. Lagi pula aku juga sedang tidak terlalu sibuk," bohong Soni.


Bara hanya tersenyum kecil, pria itu tahu jika Soni sedang berbohong saat ini. Tapi, Bara memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu.


Di dalam kamar inap Yumna.


Mama Kesya tersenyum di saat melihat Zia sudah berganti pakaian.


"Kamu mirip banget sama almarhumah," ujar Mama Kesya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Namanya juga Zia adiknya Mbak Putri, Tante," kekeh Zia pelan hanya untuk menghibur Mama Kesya.


"Mama sudah menyuruh si Mbok untuk membawa baju ganti kamu ke sini," ujar Mama Nayna memberitahu.


"Iya, Ma." Zia menoleh ke arah Yumna yang sedang tertidur pulas di ranjangnya.


"Pergilah, Yumna pasti sangat merindukan kamu," titah Mama Nayna.


Zia menganggukkan kepalanya pelan, gadis itu pun berjalan mendekat ke arah brankar di mana Yumna sedang terbaring dengan tangan yang di pasangkan selang infus.


"Zia," panggil Mama Kesya yang membuat Zia mengentikan langkahnya dan berbalik ke arah Mama Nayna.


"Ya, Ma?"


"Maafin Mana, ya!" mohon Mama Nayna dengan tatapan mata yang sendu.


Zia tersenyum, kemudian detik selanjutnya dia menganggukkan kepalanya.


"Iya, Ma. Zia percaya, pasti Mama punya alasan yang tepat."


Mama Nayna tersenyum, wanita paruh baya itu tidak menyangka jika putri bungsunya yang manja ternyata sudah beranjak dewasa. Andai saja waktu bisa di putar kembali, mungkin Mama Nayna akan memutar waktu itu kembali untuk menemani masa-masa Zia yang telah di lewati.

__ADS_1


"Maafin mama, Sayang. Dan terima kasih," batin Mama Nayna merasa bangga dengan Putri kecilnya itu.


__ADS_2