Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab.


__ADS_3

Zia keluar dari kamar dengan wajah menahan sakit.


"Pagi, Ma," sapa Zia tanpa melihat siapa orang yang ada di dapur.


Zia berjalan menuju lemari pendingin, mengambil air mineral yang ada di dalam sana.


"Ma, leher aku sakit banget deh, kayaknya salah posisi tidur," ujar Zia saat mengambil air mnieral di dalam lemari pendingin. "Badan aku juga rasanya pegal-pegal, Ma. Seperti habis di timpa sama raksasa," ujarnya lagi sambil berjalan menuju meja makan.


"Nanti tolong Mama pijitin boleh?" pinta Zia sambil mendudukkan dirinya di kursi dan meletakkan botol air mineralnya di atas meja.


Zia mengernyitkan keningnya, di saat melihat sebuah tangan terulur mengambil botol air mineral miliknya. Gadis itu pun menoleh ke arah samping, melihat siapa orang yang berani mengambil air mineral miliknya.


Zia mengerjapkan matanya sekali, di saat mengetahui siapa orang yang mengambil air mineral miliknya.


"M-Maas?" cicit Zia pelan.


Zia menoleh ke arah kompor dan Westafle, berharap ada sang mama yang berdiri di sana. Sungguh, Zia tidak menyangka jika orang yang dia pikir duduk di kursi makan adalah Mama Nayna, dan ternyata adalah Arash.

__ADS_1


Jadi, sejak awal orang yang dia sapa adalah Arash, bukan Mama Nayna. Tapi, kenapa pria itu masih berada di rumah? Bukannya seharusnya Arash sudah berangkat ke kantor?


Tidak biasanya pria itu pergi ke kantor kesiangan. Biasanya dia selalu berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan di saat Rayyan dan Yumna masih tertidur lelap.


"Masih pagi, seharusnya kamu minum air hangat, bukan air dingin," tegur Arash dan menyodorkan segelas air putih hangat kepada Zia.


"Te-terima kasih, Mas." Zia terpaksa menerima air mineral yang Arash berikan, karena dia tidak ingin berdebat dengan pria itu pagi-pagi.


"Le-leher dan badan kamu memangnya kenapa?" tanya Arash yang sudah kembali fokus kepada kopi yang ada di hadapannya saat ini.


"Oh, gak papa, Mas," jawab Zia pelan.


"Oh itu. Iya, Mas. Sepertinya aku salah tidur," jawab Zia.


"Lain kali jangan salah tidur," sahut Arash yang mana membuat Zia mengernyitkan keningnya.


Loh, bukannya kalau sedang tidur, kita tidak pernah sadar bagaimana posisi tidur kita?

__ADS_1


"Sebaiknya kamu melakukan refleksi, agar badan kamu yang di timpa oleh raksasa tidak sakit lagi." Arash berdiri dari tempat duduknya, kemudian dia berlalu begitu saja melewati Zia dengan perasaan kesal.


"Ketus banget bahasanya? Memangnya salah aku apa?" gumam Zia sambil mengendikkan bahunya.


Zia mengulurkan tangannya untuk mengambil air mineral dingin miliknya yang berada di samping gelas kopi milik Arash.


Gadis itu pun berniat untuk membuka tutup botol, hingga sebuah tangan kembali menyambar botol air mineral miliknya. Zia benar-benar terkejut, sehingga membuat wanita itu memekik pelan.


"M-Maas?" gugup Zia dengan mata yang terbelalak.


"Bukankah aku sudah melarang untuk tidak meminum air dingin saat di pagi hari!" tegur Arash menatap tajam ke arah Zia.


"I-itu …."


"Dasar bandel," cibir Arash dan kembali berlalu meninggalkan Zia sambil membawa air mineral dingin di tangannya.


"Kenapa dia kembali?" cicit Zia pelan dan mencuri pandang ke arah Arash pergi.

__ADS_1


Entah mengapa, Arash merasa kesal di saat mendengar Zia menyebutnya sebagai raksasa. Apakah gadis itu tidak menyadari jika dirinya lah yang sudah menimpa tubuh Zia, sehingga membuat tubuh gadis itu terasa pegal? Dan apakah Zia tidak menyadari aroma tubuhnya? Di saat jarak mereka terkikis habis? Bahkan Zia menggunakan lengan Arash untuk di jadikan bantal. Apakah gadis itu tidak menyadarinya?


Akhh … Arash benar-benar kesal. Seharusnya Zia menyadari keberadaan dirinya 'kan?


__ADS_2