
"Bantu aku mencari Putri," mohon Arash dengan tatapan matanya yang sendu.
Desi pun melirik ke arah Jo yang saat ini sedang menatap lurus ke arah Arash.
"Untuk apa kami membantu kamu mencari Putri?" tanya Jo yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
"Jika kamu tidak yakin dengan perasaan kamu, sebaiknya jangan berikan harapan apa-apa kepada Putri," ujar Jo yang mana membuat Arash langsung memasang wajah serius.
"Aku mencintainya. Dan aku tidak akan membuatnya menangis lagi," ungkap Arash yang mana membuat Jo mengerjapkan matanya sekali.
Pria itu menatap lurus ke mata Arash, di mana terlihat jika Arash benar-benar mengatakan jika dia mencintai Putri, dengan perasaan yang tulus.
"Oke, kami akan membantu kamu mencari Putri," ujar Jo yang mana membuat Arash menghela napasnya dengan lega.
"Baiklah, kalau begitu tugas kamu menghubungi Putri dan mencari tahu di mana dia berada," titah Arash kepada Desi.
Desi pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Putri. Sudah beberapa kali dering panggilan yang terdengar, akan tetapi Putri masih juga belum menerima panggilannya.
"Bagaimana? Apa di angkat sama Putri?" tanya Arash yang di jawab gelengan oleh Desi.
"Tidak, dia tidak mengangkat panggilanku."
Arash pun langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Abash. Pria itu akan meminta kepada sang kembaran untuk melacak di mana keberadaan Putri dan Soni saat ini.
"Ya?" jawab Abash dari seberang panggilan.
"Tolong kamu cek di mana keberadaan Putri," titah Arash tanpa berbasa basi.
"Untuk apa? Bukannya Yosi sudah di tangkap?" tanya Abash.
"Cepat cari tahu di mana Putri. Nanti aku akan menjelaskannya," ujar Arash yang di jawab 'ya' dengan sang kembaran.
Arash pun memutuskan panggilannya. Pria itu pun menatap ke arah Desi dan Jo.
"Kita tunggu kabar dari Abash."
Setelah tiga menit berlalu, sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel Arash, di mana pesan tersebut berasal dari sang kembaran.
"Putri berada di apartemen kamu." Satu kalimat yang di baca oleh Arash, membuat Desi, Putri dan Jo saling menatap.
"Sepertinya Putri tidak memakai kalungnya," lirih Arash dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Desi kepada Pria itu.
Arash pun memicit pangkal keningnya yang terasa berdenyut. Pria itu pun mencoba memikirkan restoran mana yang menjadi kemungkinan akan di datangi oleh Soni dan Putri.
"Kita cari mereka berpencar. Aku akan mencari ke restoran xxx, dan kamu mencari ke restoran yyy," titah Arash kepada Desi dan Jo.
"Kamu gilaa ... Itu restoran mewah yang tidak bisa sembarangan orang dapat masuk ke dalam sana," ujar Desi dengan terkejut di saat Arash menyuruhnya mendatangi sebuah restoran yang sangat elit. Bisa di katakan hanya para sultan saja yang dapat menikmati makanan yang ada di sana.
"Pakai ini, agar kalian bisa masuk ke dalam restoran itu." Arash pun memberikan salah satu black cardnya kepada Desi dan Jo.
"Kabari aku jika kalian menemukan Putri," ujar Arash dan langsung berlari meninggalkan Jo dan Desi yang masih terbengong dengan memegang black card yang di berikan oleh Arash.
"Gak salah dia suruh kita pakai ini?" tanya Desi kepada Jo.
"Mari lakukan tugas kita," ajak Jo dan merangkul pinggang sang kekasih.
"Baiklah," jawab Desi dan menyimpan black card tersebut ke dalam tasnya.
Di tempat lain.
"Put, boleh aku meminta waktu kamu penuh malam ini?" pinta Soni.
"Hm? Maksud kamu?' tanya Putri dengan kening mengkerut dan mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah wajah Soni.
"Ah, maaf," cicit Putri dan menyimpan ponselnya ke dalam clouth.
"Terima kasih," ujar Soni dengan tersenyum. "Kita turun sekarang?" ajak Soni yang di angguki oleh Putri.
Mereka pun meninggalkan ponsel masing-masing di dalam mobil.
"Ya."
Soni pun turun dari mobil dan berlari kecil menuju pintu mobil penumpang bagian Putri. Pria itu pun membukakan pintu mobil untuk Putri keluar dari dalam sana.
"Terima kasih banyak." Putri pun menerima uluran tangan yang di berikan oleh Soni.
"Kenapa mengajak aku makan malam di sini?" tanya Putri yang sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin di katakan oleh Soni.
Namun, tempat yang di tuju oleh Soni bukanlah sebuah restoran mewah, melainkan sebuah taman bermain yang sudah di sulap menjadi tempat makan malam yang romantis.
"Aku tahu, kalau kamu pasti sudah bisa menebak apa yang ingin aku katakan nanti," ujar Soni yang mana membuat Putri mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu jika ingin memberikan kejutan itu, harus totalitas. Masa mudah banget ketahuan seperti ini?" kekeh Putri.
"Aku sengaja, agar kamu bisa memikirkan jawaban yang akan nanti kamu berikan ke aku nantinya. Ayo," Soni pun menarik kursi dan menyuruh Putri untuk duduk di sana.
"Terima kasih," cicit Putri pelan.
Soni pun berjalan menuju kursi yang lain, di mana letakknya berhadapan dengan kursi yang Putri duduki. Seorang pelayan pun datang dan menghidangkan makanan yang memang sudah Soni pesan untuk makan malam kali ini.
"Makan steak di taman bermain?" kekeh Putri yang di angguki oleh Soni.
Tanpa bertanya pun, Putri sudah tahu jika makan malam yang tersaji malam ini berasal dari salah satu restoran mewah yang tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Bisa gadis itu bayangkan, berapa banyak Soni harus merogoh koceknya untuk menyiapkan makan malam romantis yang terkesan unik ini. Makan malam yang sangat berbeda dari makan malam romantis yang sering dia tonton di televisi.
"Ayo, makan," titah Soni yang di angguki oleh Putri.
Sepanjang makan malam, sesekali Soni menceritakan tentang masa kecil mereka, di mana membuat Putri pun ikut tertawa di saat mengingatnya.
"Kamu dulu itu sangat gendut, terakhir kali aku mengingat tentang kamu, pipi kamu masih terlihat chuby dan sangat menggemaskan," kekeh Putri, tapi sekarang siapa yang mengira jika kamu bisa sekeren dan setampan ini?" puji Putri.
"Jadi, menurut kamu aku tampan?" tanya Soni dengan nada yang menggoda.
"Huum, harus aku akui jika kamu tampan," ujar Putri yang mana membuat Soni pun tersenyum manis mendengarnya.
Setelah makan malam selesai, Soni pun mengajak Putri untuk bermain ayunan, di mana tentu saja hal tersebut sangat lah di sukai oleh Putri.
"Baru kali ini deh makan malam romantis di tempat seperti ini, kemudian di ajak main ayunan dengan menggunakan gaun malam," kekeh Putri yang mana membuat Soni ikut tertawa juga.
"Biar lain dari pada yang lain," jawab Pria itu dan mulai mengayunkan secara perlahan ayunan yang sedang di naiki oleh Putri.
Mereka pun berbincang tentang masa kecil mereka, hingga tiba saatnya Soni mengatakan hal yang paling penting di malam ini.
"Apa kamu sudah memiliki jawabannya, Put?" tanya Soni yang mana membuat Putri menghentikan ayunan yang sedang berayun.
Soni yang paham akan maksud Putri, langsung berjalan menuju ke hadapan gadis itu. Pria itu pun berlutut di hadapan Putri dengan sebuah kotak cincin, di mana di dalam kotak tersebut terdapat sebuah cincin yang sangat indah sekali. Cincin berlian yang bisa Putri tebak jika harganya pasti sangatlah fantastis.
"Aku ingin melamar kamu, Put. Aku kembali ke Indonesia, itu juga karena kamu. Aku mencintai kamu dari dulu hingga saat ini. Jadi, aku memiliki harapan untuk membina rumah tangga bersama kamu, Put. Maukah kamu menjadi istri aku?" tanya Soni yang memang tidak bisa merangkai kata-kata romantis.
"Apa hanya itu kemampuan kamu untuk mengungkapkan kata-kata romantis?" tanya Putri yang mana membuat Soni mengernyitkan keningnya.
"Kamu tau aku kan? Kalau aku tidak bisa berbasa basi," kekeh Soni.
Pria itu pun mengeluarkan secarcik kertas yang berada di dalam saku jasnya. "Padahal aku sudah mencatatnya di sini dan berusaha untuk menghafalny." Soni pun tertawa karena merasa jika dirinya saat ini terlihat sangat bodoh di depan Putri.
__ADS_1
"Jadi, apa kamu menerima lamaran aku, Put?" tanya Soni yang mana membuat Putri menarik napas dan menghelanya dengan pelan.
"Aku---"