Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 195 - Cemburu dalam diam


__ADS_3

Abash mendudukkan Putri di sofa. Pria itu pun kemudian berlutut di hadapan gadis itu dan memeriksa kakinya.


"Pak Abash mau apa?" tanya Putri sambil menyilangkan tangannya di kaki.


"Saya hanya ingin memastikan kaki kamu baik-baik saja." Abash langsung mengambil kaki Putri dan menaikkannya ke atas kaki pria itu.


"Eh, Pak Abash, mau apa? Jangan," tolak Putri yang merasa tak enak dengan Sifa.


Putri sempat melirik ke arah gadis itu, di mana Sifa saat ini sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sudah enakan?" tanya Abash sambil memicit pelan kaki Putri.


"Hah? Ya, sudah," jawab Putri cepat yang mana dia merasa tak enak kepada Sifa.


"Anda terlalu terkejut, makanya kakinya terasa lemas," ujar Abash sambil menurunkan kaki Putri dari pangkuannya.


"Iya," cicit Putri yang benar-benar merasa tak enak dengan Sifa.


Lihatlah, gadis itu sama sekali tidak memandang ke arahnya dan lebih memilih untuk melihat ke arah lain.


"Sifa, ini minyaknya." Mami Vina pun memberikan minyak zaitun yang selalu dia bawa-bawa ke mana pun pergi.


"Iya, Tante," jawab Sifa sambil mengambil botol minyak zaitun tersebut.


"Mas Arash, duduk aja dulu," titah Sifa yang di turuti oleh Arash.


"Lepas bajunya," titah Sifa lagi.


Abash yang mendengar perintah Sifa, mengepalkan tangannya erat di dalam kantong. Pria itu benar-benar tak suka jika sang kekasih menyentuh tubuh pria lain.


Andai saja pria yang mau di urut oleh sifa bukanlah sang kembaran, mungkin saat ini juga Abash sudah menendang bokong pria itu. Atau kalau perlu mengirimnya ke planet lain.


Sifa pun duduk di belakang Arash yang sudah membuka bajunya. Tetapi, pria itu masih menutup bagian depan tubuhnya.


Abash langsung mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu di sana. Pria itu sungguh tidak tahan melihat pemandangan yang saat ini tersaji di depan matanya.


Sebuah pesan baru pun masuk ke dalam ponsel Sifa, gadis itu pun meraih ponselnya dan mengernyitkan kening di saat melihat nama sang kekasih tertera di sana.


"Mas Abash? Kenapa kirim pesan?" batin Sifa, gadis itu pun merasa penasaran dengan apa yang tertulis di dalam sana, hingga perlahan mata Sifa membulat sempurna saat membaca isi pesan tersebut.


"Aku cemburu. Lain kali, jangan pernah menyentuh pria lain lagi. Atau aku akan mengirimnya ke planet lain, walaupun itu kembaran aku sendiri."


Sifa menelan ludahnya dengan kasar. Tetapi, saat ini dia sudah tidak bisa mundur lagi. TIdak mungkin kan tiba-tiba dia menolak untuk memijit bahu Arash? Padahal dia sendirilah yang menawarkannya.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Ini yang terakhir." send.


Sifa melirik ke arah Abash yang saat ini sedang menatap ponselnya. Kemudian pria itu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan duduk di sebuah kursi single yang bersebelahan dengan kursi panjang yang di duduki oleh Sifa dan Arash.


"Kapan ini di urutnya?" tegur Arash yang mana membuat Sifa terkejut.


"Iya, Mas."


Sifa kembali menyimpan ponselnya dan mulai menuangkan minyak zaitun ke atas bahu Arash.


"Awww .." ringis Arash di saat Sifa mulai memicit bahunya.


"Tahan, Mas," ujar Sifa yang mana membut Arash menganggukkan kepalanya.


Abash yang sudah yang terbakar api cemburu pun, berdiri dengan ponsel yang menempel di telinga. Pria itu pun memilih tempat yang sepi untuk menerima panggilan.


Ya, walaupun tidak ada yang tahu, jika saat ini Abash sedang berakting. Dia sengaja menempelkan ponselnya di telinga agar terlihat seolah-olah sedang menghubungi seseorang.


Sesampainya di rooftop, pria itu pun menggeram kesal dan menendang apa pun yang bisa dia tendang.


"Sakit banget hati gue lihatnya," geram Abash sambil mengacak rambutnya. "Walaupun Arash kembaran gue, tapi dia itu pria dewasa."


Abash pun mengambil rokok dan mancis yang ada di saku jasnya. Pria itu pun mengeluarkan satu batang rokok dan menghidupkannya. Ya, semenjak terjerat masalah dengan Yosi, sehingga menyebabkan Abash harus menjaga jarak dengan Sifa, membuat pria itu stres dan melampiaskannya dengan merokok.


Di tempat semula, Sifa menatap kepergian Abash dengan tatapan terluka. Gadis itu tau, jika saat ini sang kekasih pasti sedang menahan amarahnya.


Putri meremas bajunya, saat melihat Sifa sedang menyentuh punggung telanjang Arash. Di tambah lagi, gadis itu menangkap sudut bibir pria itu tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Tapi, dia benar-benar meringis di saat Sifa menekan kuat bahunya.


"Ada apa, Put? Kenapa kamu tak suka melihat pemandangan ini? Kenapa hati ini terasa sakit? Apa kamu benar-benar sudah terjatuh dalam pesona Arash? Yang benar saja, Put. Arash itu mencintai Sifa. Tapi Sifa? Akkh, kenapa rumit sekali cinta ini? Tapi, apakah ini benar-benar cinta? Atau hanya rasa nyaman sesaat?" batin Putri dan menatap cemburu ke arah Sifa.


Gadis itu pun perlahan menggerakkan kakinya, di saat sudah merasa kakinya sudah tak lemas lagi, Putri pun perlahan bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana, Put?" tanya Mami Vina.


"Mau ke toilet, Tante," jawab Putri dengan tersenyum manis.


Mami Vina pun memanggil pelayan wanita untuk mengantarkan Putri ke toilet.


"Gak papa, Tan, Putri bisa jalan sendiri, kok," tolak Putri yang merasa tak enak di perlakukan sespesial ini.


"Udah, gak papa," ujar Mami Vina dan menyuruh pelayan perempuan untuk membantu dan mengantarkan Putri ke toilet.


"Sudah, Mbak, sampai di sini aja. Mbak bisa kembali bekerja," titah Putri yang di angguki oleh pelayan tersebut.

__ADS_1


Putri masuk ke dalam toilet, gadis itu pun memandang pantulan dirinya di cermin.


"Apa yang kamu pikirkan, Put? Kenapa kamu merasa tak suka melihat Sifa dan Arash seperti tadi? Apa kamu gak mikir perasaan Sifa yang melihat kamu dan Abash? Pasti dia juga merasakan hal yang sama, seperti yang kamu rasakan saat ini. Bahkan mungkin lebih sakit dari ini," lirih Putri dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya Allah, kenapa bisa begini? Kenapa aku harus tertarik kepada Arash yang jelas-jelas aku tahu jika dia mencinta Sifa."


Putri membasuh wajahnya, gadis itu pun mengambil tisu dan mengeringkannya. Setelah melihat penampilannya kembali di cermin, dia pun keluar dari dalam toilet.


"Pak Abash?" tegur Putri di saat melihat Abash yang baru saja turun dari tangga.


"Bagaimana kaki Anda? Sudah tidak lemas lagi?" tanya Abash.


"Alhamdulillah, sudah tidak , Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi."


"Sama-sama, itu biasa terjadi karena Anda terlalu terkejut dan membuat peredaran darah tak lancar. Makanya kaki Anda bisa selemas itu," jelas Abash.


"Iya, Pak. Saya tahu."


"Ini kamu mau ke toilet? Atau sudah selesai?" tanya Abash.


"Sudah selesai."


"Ayo, kita kembali ke tempat mereka," ajak Arash yang diangguki oleh PUtri.


Abash dan Putri pun berjalan menuju ruangan VIP yang mereka tempati tadi. Masih ada Sifa, Abash, dan Mami Vina di sana, sedangkan Bimo dan Didi sudah duduk di meja makan.


Mata Sifa pun menangkap bayangan sang kekasih dan juga Putri yang sedang berjalan bersama. Gadis itu pun merasa cemburu melihat pemandangan yang memang terlihat sangat serasi itu.


"Pantas saja lama di toiletnya, pasti sengaja dan mencari keberadaan Mas Abash," batin Sifa merasa cemburu kepada Putri.


"Sudah selesai, Mas," ujar Sifa dan membersihkan punggung Arash dengan menggunakan handuk yang di sediakan oleh Mami Vina tadi.


"Terima kasih, Sifa, berkat kamu, tangan aku sudah lumayan enakan," ujar Arash sambil memainkan bahunya sedikit.


"Sama-sama, Mas. Untuk sementara, Mas jangan angkat yang berat-berat dulu, ya. Setidaknya untuk seminggu," ujar Sifa memberitahu sambil melirik ke arah Putri. Gadis itu pun menangkap mata Sifa yang melirik ke arahnya.


"Apa maksudnya? Gak boleh angkat yang berat-berat itu apa maksudnya angkat aku?" batin Putri menatap kesal ke arah Sifa.


"Tatapan apa itu? Kenapa dia gak senang melihat aku? Bukannya seharusnya aku yang gak senang melihat dia bersama pacar aku?" batin Sifa yang juga menatap kesal ke arah Putri.


"Ayo, kita makan. Mami sudah memesankan makanan spesial untuk kalian." Suara Mami Vina pun mengambil atensi Sifa dan Putri.


"Iya, Tante," jawab Putri dan Sifa hampir berbarengan.

__ADS_1


"Iih, sok kompak," batin Sifa dengan geram.


"IIh, ngapain sih barengan gitu jawabnya," batin Putri pula.


__ADS_2