
"Terima kasih karena sudah mengantarkan aku sampai ke rumah," ujar Putri di saat mobil Arash sudah berada di depan gerbang rumahnya.
Arash menatap rumah yang terbilang tidak terlalu besar, jika mengingat sekaya apa keluarga Putri, maka Arash akan membayangkan rumah yang mewah dan megah lah yang akan di pilih oleh Bara.
Tapi ini?
Rumah yang saat ini ada di hadapannya lebih terlihat minimalis dan sangat cantik untuk di tinggali oleh pengantin baru. Ah, mengingat kata pengantin baru, Arash berharap jika dirinya bisa segera bisa menyunting Putri sebagai istrinya.
"Rumah yang indah," puji Arash.
"Huum, Bara yang memilihnya," jawab Putri menyetujui ucapan Arash.
"Aku salut dengan kamu dan Bara," ujar Arash yang lagi-lagi membuat kening Putri mengkerut.
"Salut kenapa?"
"Walaupun kalian berasal dari keluarga yang berada dan bisa membeli apa pun yang kalian inginkan, tetapi kesederhanaan tetap tercermin dari diri kamu dan juga Bara. Aku cukup terkesan," puji Arash menatap lurus ke arah mata Putri.
Putri ikut tersenyum. Tentu saja sifat manjanya yang bagaikan ratu dan terkesan selalu memiliki barang-barang yang mewah telah berubah semenjak dia bertemu dengan Mama Nayna. Karena Mama Nayna selalu mengajarkan mereka untuk terlihat sederhana dan murah hati. Untuk itu, Putri tidak merasa malu jika harus membeli pakaian di pasar, padahal dia sangat mampu untuk membeli pakaian di butik-butik ternama.
"Kamu juga, kamu cukup sederhana jika di lihat dari latar belakang kamu," puji Putri balik.
"Itu karena aku seorang polisi, Put. Jadi aku harus terbiasa hidup dengan kesederhanaan. Jika tidak, maka aku akan benar-benar sama persis dengan Abash yang tidak pernah makan di pinggir jalan. Percayalah, dia hanya melakukan itu saat mengenal Sifa," kekeh Arash.
Putri yang melihat senyuman di wajah Arash, saat pria itu menyebut nama Sifa pun, merasa tercubit di dalam hatinya.
"Benarkah kamu mencintai aku, Rash? Jika hanya menyebut namanya saja kamu bisa setulus itu untuk tersenyum," batin Putri merasa cemburu tak jelas.
"Sadarlah, Put, umur kamu itu berbeda dua tahun dengan Arash. Bahkan empat tahun lebih tua dari Sifa. Sudah tentu kamu kalah telak di usia, Put. Mana mungkin Arash sungguh-sungguh mencintai kamu, jika tidak menjadikan kamu sebagai pelariannya. Sadarlah, Put," batin Putri berbisik.
"Tapi, tatapan matanya saat mengajakku menikah tadi?" sambung Putri di dalam hati dan menatap dalam ke arah mata Arash.
"Put?" tegur Arash yang melihat gadis itu terbengong menatap ke arahnya.
"Ya?"
__ADS_1
"Sepertinya pengawal kamu sudah menjemput keluar," kekeh Arash sambil menunjuk ke arah Bara yang berjalan menuju ke arah mereka. "Apa kamu ingin aku meminta izin kepada Bara? Untuk membawa kamu pulang ke apartemen aku?" goda Arash.
"Jangan ngaco kamu, Rash," cibir Putri dan bersiap untuk turun.
"Put," panggil Arash lagi sambil menahan lengan Putri, sehingga membuat gadis itu menghentikan pergerakannya menoleh ke arah Arash.
"Ya?"
"Aku serius, kalau aku hanya ingin menikah dengan kamu. Aku bersiap bersaing dengan Soni atau pria manapun untuk membuktikan jika aku juga layak menjadi pendamping hidup kamu, Put," ujar Arash dengan sungguh-sungguh dan menatap dalam ke mata Putri dengan serius.
Hening, hanya tatapan mata yang saling terkunci saja yang saat ini terjadi di antara Arash dan Putri. Arash yang berusaha menunjukkan keseriusannya melalui tatapan matanya, sedangkan Putri yang mencari ketulusana di mata Arash.
Tok .. tok ... tok ...
Terdengar suara jendela yang di ketuk dari luar, sehingga membuat tatapan mata Putri dan Arash pun terputus.
"Apa kalian tidak akan keluar dari dalam mobil?" tegur Bara dari luar mobil Arash dengan tubuh membungkuk dan mengintip ke dalam mobil..
Putri dan Arash pun bergegas turun dari dalam mobil secara berbarengan. Arash langsung menghampiri Bara yang sedang manatapnya dengan tajam.
"Tidak masalah, yang penting Putri kembali ke rumah ini," jawab Bara dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam celana tidurnya.
"Kalau begitu, aku balik dulu. Put," pamit Arash kepada Bara dan Putri.
"Huum, ya. Terima kasih banyak."
Arash pun kembali masuk ke dalam mobil, kemudian pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Bara.
"Apa malam ini menyenangkan?" tanya Bara yang menyadarkan Putri dari menatap kepergian mobil Arash yang sudah tidak terlihat lagi lampu merah bagian belakang mobilnya.
'"Menyenangkan apa? Ikannya hangus," cibir Putri dan masuk ke dalam rumah.
"Ikan hangus? Apa kalian tidak makan di restoran mewah?" tanya Bara yang merasa penasaran ke mana kakaknya itu pergi.
"Tidak, kami hanya memanggang ikan dan terong menyebalkan," jawab Putri yang mana di akhir ucapannya dia memelankan suara agar Bara tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Memangnya kalian ke mana?" tanya Bara yang benar-benar sangat merasa penasaran.
"Pinggir danau," jawab Putri yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, melepaskan lelah dan penat seharian ini.
"Pinggir danau? Di mana?" tanya Bara lagi.
Putri menatap kesal ke arah adiknya yang super kepo itu.
"Ada deh, aku bilang di mana juga kamu gak akan tau," jawab Putri sambil berdiri dari duduknya.
"Mbak, kasih tahu dong, cerita gitu kalian ke mana dan ngapain aja tadi?" tanya Bara sedikit merengek sambil mengukuti Putri menuju kamarnya.
"Rahasia, Bar. Gak semua apa yang terjadi sama aku kamu harus tau," jawab Putri yang sudah masuk ke dalam kamarnya dan dengan cepat menutup pintu.
Bara yang memang tak jauh berada dari sang kakak pun bergegas menahan pintu kamar Putri yang ingin di tutup oleh gadis itu.
"Apa lagi sih, Bar? Aku mau istirahat," ujar Putri yang memang sengaja ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sang adik.
"Mbak, cerita dong? Jangan bikin aku penasaran," rengek Bara yang sudah memeluk tubuh Putri.
"Bara, lepas ih. Dasar tuan kepo," geram Putri yang memang sepertinya tidak bisa menghindar dari adiknya yang super kepo dengan kehidupannya itu.
"Ayo cerita, atau aku akan tetap terus mengikuti kamu, Mbak," ancam Bara dengan wajah seriusnya.
"Mister Kepo menyebalkan!" pekik Putri yang mana membuat Bara tersenyum lebar.
Ya, jika sudah seperti itu, maka Bara tidak akan menyerah untuk membuat sang kakak menceritakan apa yang terjadi antara gadis itu dengan pria bernama Arash.
"Ayo cerita, aku siap mendengarkan sampai pagi."
Bara menarik tangan sang kakak untuk duduk di atas tempat tidur. Pria itu pun duduk bersilang kaki dan benar-benar menunjukkan jika dia sudah siap untuk mendengarkan cerita sang kakak sampai pagi.
"Huuff, setidaknya biarkan aku mandi dulu, Bar." Putri kembali berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ya, Putri butuh menyegarkan dirinya setelah beraktifitas seharian ini.
__ADS_1