
Sifa menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya masih bergetar karena kejadian tadi. Tidak, bukan hanya tangannya, tetapi seluruh tubuhnya masih bergetar.
Sifa melihat wanita yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi. Wajahnya terlihat sangat cantik, akan tetapi tatapan matanya terlihat tajam dan menakutkan saat menatap ke arah Sifa.
Dengan gugup, Sifa mencoba tersenyum kepada wanita tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanya wanita itu tiba-tiba dengan nada yang terdengar dingin dan menakutkan.
"Si-sifa," jawabnya dengan kaku.
"Ngapain kamu di rumah sakit ini," tanyanya lagi.
'Ngapain? Ya berobat lah, masa makan pisang goreng?' batin Sifa.
"Ke-ketemu Dokter Lucas," jawab Sifa dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.
Tatapan mata dari wanita itu semakin tajam kepada Sifa.
Sreet ....
Tiba-tiba Sifa terkejut dan langsung memundurkan dirinya saat wanita itu mendekat dengan gerakan tiba-tiba.
Jantung Sifa berdetak cepat, bibirnya bergetar, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Rasanya saat ini Sifa ingin sekali menangis. Sifa menutup matanya dengan rapat, dia tidak tahu apa yang saat ini sedang di lakukan oleh wanita itu.
"Kakak kenal dengan namanya Sifa?"
"......"
"Iya, kakinya di gips, Kakak kenal?" tanya gadis itu dengan mata yang masih tertuju kepada Sifa yang menutup matanya rapat.
"Oke, aku kesana sekarang."
"Maaf ya, Aku pikir tadi kamu salah satu dari mereka," ujar wanita itu dengan nada yang terdengar lebih ramah.
Sifa perlahan membuka matanya, perlahan dia menoleh kepada wanita yang ada di hadapannya ini, wanita yang sudah tersenyum dengan lembut kepadanya.
"Kenalin, aku Desi."
Ya, wanita yang membuat Sifa takut adalah Desi.
"Si-sifa," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
"Ya ampun, sampe keringetan dan gemetar gini," ujar Desi denga terkekeh.
Sifa hanya tersenyum kaku, rasa takutnya masih belum hilang walaupun Desi bersikap ramah dengannya saat ini.
"Ayo, Kak Lucas sudah menunggu," Desi membantu Sifa berjalan dan keluar dari toilet.
"Loh, Arash? Kok di sini?" tanya Desi yang terkejut mendapati Arash di depan pintu toilet.
"Aku nungguin dia," ujar Arash menunjuk kearah Sifa.
"Kamu kenal?" tanya Desi lagi.
"Iya, kamu mau bawa dia kemana?"
__ADS_1
"Ketemu Kak Lucas,"
"Oh, ya udah kalau gitu, aku titip dia sama kamu ya, aku harus kembali keposisi, Daddy udah manggil."
"Oke,"
"Kamu sama Desi ya, tenang aja, dia itu sepupu aku," ujar Arash sebelum meninggalkan Sifa bersama Desi.
"Ayo," ajak Desi kepada Sifa.
Mereka pun berjalan menuju ruangan Lucas. Desi bertanya kepada Sifa, bagaimana dia bisa bertemu dengan Arash. Sifa pun menceritakan pertemuannya dengan Arash saat pria itu menyuruh dirinya memutar balik sepedanya dan memilih jalur lain menuju kampus.
Tak berapa lama mereka sampai di depan ruangan Lucas. Desi mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum membukanya.
Lucas pun mempersilahkan mereka untuk masuk, tetapi, Desi memilih pamit karena masih ada yang harus dia selesaikan bersama Raysa. Mengingat keadaan saat ini semakin genting.
"Bagaimana kaki kamu? Apa ada berdenyut?" tanya Lucas dan menyuruh Sifa untuk di kursi.
Ruangan ini bukanlah ruangan konsul pasien, melainkan ruangan privat Lucas dalam menyelesaikan pekerjaan kantornya.
"Gak terasa berdenyut lagi, tapi, tadi sempat berdenyut saat ada tembakan."
"Tembakan?" tanya Lucas.
"Iya,"
Lucas mengingat kapan tembakan itu terjadi, kemudian dia menganggukkan kepalanya saat mengingat kapan kejadian itu dan apa penyebab terjadinya tembakan tersebut.
Lucas berjongkok di depan Sifa dan melihat keadaan kakinya. Perlahan, Lucas membuka gips yang membalut kaki Sifa.
"Oke, gak ada masalah lagi. Tapi, kamu masih harus berjalan menggunakan tongkat."
"Terima kasih banyak, Dok."
"Sebenarnya saya mau nyuruh kamu untuk Rontgen, untuk memastikan jika tak ada yang salah dengan tulang kamu."
"Gak, saya gak mau," ujar Sifa langsung yang terdengar tegas.
Lucas masih memperhatikan wajah Sifa, sebagai seorang dokter saraf, tentu saja Lucas sangat tahu ekspresi apa yang saat ini Sifa berikan.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Lucas.
Ya, sebenarnya Lucas ingin mengetahui apa yang membuat Sifa takut dengan dokter.
Napas Sifa terlihat mulai memburu, tangannya mencekram kain bajunya, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke depan.
Lucas masih setia menunggu, melihat mata Sifa yang mulai berkaca-kaca.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Lucas akhirnya.
"Tidak ada," jawab Sifa sambil menghapus air matanya yang mulai mengalir dengan kasar.
Lucas menghela napasnya pelan, pria itu menganggukkan kepalanya.
"Oke,"
__ADS_1
"Boleh saya pergi?" tanya Sifa.
Lucas berdiri. "Ayo, saya antar kamu keluar."
Sifa dan Lucas pun keluar dari ruangan, mereka berjalan beriringan hingga bertemu dengan Abash.
"Gimana keadaan kaki kamu?" tanya Abash.
"Baik, Pak."
"Oke, ikut saya," ujar Abash dan mengajak Sifa mengikutinya.
"Bash, jangan cepat-cepat, kakinya belum sepenuhnya pulih," pekik Lucas sehingga membuat Abash membalikkan tubuhnya.
Sifa berjalan secepat yang dia bisa, Abash pun setia menunggu hingga Sifa bisa mensejajarkan langkahnya dengan dirinya.
"Saya perlu bantuan kamu," ujar Abash membuka percakapan dan menyampaikan apa yang ingin dia katakan.
"Kamu bisa?" tanya Abash saat mereka sampai di depan ruangan IT rumah sakit.
"Insya Allah bisa, Pak," jawab Sifa dengan mantap.
"Good."
Abash membuka pintu ruangan tersebut, sehingga membuat Farhan menolehkan kepalanya.
"Kak, ini Sifa, dia akan membantu kita," ujar Abash memperkenalkan Sifa kepada Farhan.
Farhan menautkan alisnya saat melihat Sifa menatapnya dengan mulut yang terbuka.
"Anda?" tanya Sifa membuka suaranya.
Abash menaikkan alisnya sebelah, begitu pun dengan Farhan.
"Saya kenapa?" tanya Farhan.
"Anda pemilik perusahaan IT terbesar di Indonesia kan? Anda Tuan Farhan kan? IT muda yang terkenal sangat menakutkan di dunia heacker?" ujar Sifa dengan menggebu-gebu.
"Ya?"
"Saya Sifa, penggemar berat Tuan." Sifa mengelap tangannya di baju dan mengulurkannya kepada Farhan.
Siapa yang gak senang saat bertemu dengan idolanya. Sifa sudah lama mengidolakan Farhan. Mengingat dan melihat berapa banyak program yang di keluarkan oleh Farhan. Bahkan, Farhan banyak mendapatkan nominasi penghargaan terhadap program-program yang di keluarkannya.
Sebenarnya, Sifa berencana untung magang di perusahaan yang di pimpin oleh Farhan, akan tetapi, rezekinya berada di perusahaan Sifa. Bukannya tak merasa bersyukur, Sifa hanya sangat nge-fans sama Farhan.
Farhan menyambut uluran tangan Sifa. Lihatlah, betapa riangnya wajah Sifa saat dapat bersalaman dengan idolanya.
"Biasa aja wajahnya," tegur Abash akhirnya.
"Ya Allah, Pak. Saya seneng banget bisa jumpa langsung dengan Tuan Farhan. Ya Allah, ternyata lebih ganteng aslinya dari pada di gambar," puji Sifa dengan mata berbinar.
Farhan menggaruk alisnya dan kembali fokus kepada pekerjaannya. Dalam hati, Farhan sangat tak nyaman berkerja dengan orang yang tak profesional.
Saat Abash melihat Sifa melalui cctv, Abash langsung merekomendasikan Sifa untuk membantunya. Menurut Abash, Sifa sangat baik dan profesional dalam bekerja. Tetapi, melihat bagaimana Sifa menatapnya dengan memuja, Farhan meragukan apa yang di katakan oleh Sifa.
__ADS_1
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH