
Putri terpaksa menginap di hotel, karena bajunya yang telah basah karena terkena air kencingnya sendiri.
"Maafin aku, ya?" sesal Arash.
Putri hanya melirik ke arah pria itu, kemudian dia menutup pintu kamar hotel dan membiarkan tunangannya berada di luar tanpa sepatah kata pun.
"Dasar nyebelin," gerutu Putri dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi, bersama dengan paper bag yang berisi pakaian gantinya.
Di luar kamar, Arash menghela napasnya dengan pelan, sepertinya dia harus membujuk sang kekasih esok hari, agar tidak lagi marah kepadanya. Tapi, bagaimana cara membuat agar Putri terkesan dan memaafkan kesalahannya?
Di saat satu pasangan sedang merajuk dan menghabiskan waktu sendiri-sendiri, padahal malam ini adalah malam yang indah dalam hidup mereka, tetapi harus terpisah karena kejadian yang membuat Putri marah dan merajuk. Sedangkan satu pasangan lainnya, mereka sedang menghabiskan waktu bersama hingga tidak ingat waktu yang semakin larut.
Abash menoleh ke arah Sifa yang berada di dalam pelukannya saat ini, pria itu tersenyum kecil di saat melihat pujaan hatinya sudah terlelap ke alam mimpi.
"Haah, bagaimana cara aku memindahkannya ke dalam kamar?" gumam Abash bingung.
Kaki pria itu belum benar-benar pulih, akan tetapi dia juga merasa tidak tidak jika harus membiarkan Sifa tertidur di sofa. Pastinya hal itu benar-benar tidak akan membuat tubuh Sifa akan terasa nyaman.
"Sebaiknya aku mencobanya sekali," gumam Abash dan nekad untuk menggendong Sifa dengan kakinya yang pincang.
Perlahan dan sambil menahan rasa sakit, Abash pun kahirnya berhasil memindahkan Sifa ke dalam kamar dan merebahkan tubuh gadis itu ke dalam kamar. Tak lupa dia menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut agar tidak kedinginan. Setelah memastikan jika Sifa sudah dalam posisi yang nyaman, Abash pun keluar dari dalam kamar dan meninggal apartemen sang kekasih.
"Akkh ... sakit banget," lirih Abash di saat merasakan kakinya terasa sedikit ngilu di saat berpijak.
Pria itu masih menahan rasa sakitnya, walaupun keringat sudah bercucuran membasahi kening dan sebagian tubuh bagian atasnya.
"Tuan muda, Abash, kenapa berkeringat begitu?" tanya Pak Udin yang masih menunggu Abash di dalam mobil.
Selama menunggu, pria paruh baya itu pun sempat mengistirahatkan tubuhnya, hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, di mana si pengirim adalah Abash sendiri. Pria itu mengatakan kepada Pak Udin untuk bersiap karena sebentar lagi dia akan segera turun.
"Gak papa, Pak, cuma kaki saya nyeri aja sedikit," bohong Abash.
"Mau periksa ke dokter?" tawar Pak Udin yang di jawab gelengan oleh Abash.
Pak Udin pun menuruti perintah Abash, di mana pria itu menyuruh untuk segera pulang saja, karena dia sudah mulai mengantuk.
Sepanjang perjalanan, Pak Udin mencuri pandang ke arah Abash yang terlihat seakan menahan sakit. Ada rasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada majikannya itu.
__ADS_1
"Tuan Muda Abash yakin? Gak mau di bawa ke rumah sakit?" tawar Pak Udin lagi yang sudah melihat wajah pucat dari majikannya itu.
"Yakin,Pak. Lagi pula jam segini mana ada dokter spesialis," lirih Abash sambil menahan sakit pada kakinya.
Pak Udin pun menghela napasnya pelan. Pria paruh baya itu juga tidak bisa membawa majikannya itu ke rumah sakit atas izin dari yang bersangkutan.
Mobil yang di kendarai oleh Pak Udin pun tiba di rumah, Abash turun dari mobil dengan jalan yang semakin tertatih. Dalam pikirannya saat ini, dia harus bergegas masuk ke dalam kamar dan meminum obat penghilang rasa sakit, dan juga, dia tidak boleh berpas-pasan dengan Mama Kesya. Bisa gawat jika sampai dia ketahuan pergi malam-malam untuk bertemu dengan Sifa dan pulang hingga pukul empat pagi.
"Dari mana kamu?" Suara lembut yang menyapa Abash pun, membuat pria itu terpaksa menghentikan kakinya yang hendak memasuki kamar di lantai dasar, kamar Abash untuk sementara waktu.
Abash berbalik, kemudian pria itu tersenyum kikuk kepada sang kakak.
"O-oh, dari luar, Mbak. Gak bisa tidur, jadi cari angin," bohong Abash.
Quin pun menghela napasnya pelan. "Jangan sering bergadang, Bash, sebaiknya kamu tidur sekarang," titah Quin dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Abi yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Aku baru lihat burung," ujar Quin yang mana membuat Abi menaikkan alisnya sebelah.
"Burung apa?"
Abash pun menggelengkan kepalanya, pria itu memiliki firasat, jika Quin pasti akan merengek untuk minta di belikan burung hantu. Padahal, Papa Arka sengaja memindahkan beberapa hewan peliharaan Quin, agar kakaknya bisa terhindar dari bulu-bulu halus yang berterbangan.
Abash pun masuk ke dalam kamar, detik selanjutnya di kejutkan dengan keberadaan seseorang yang tengah duduk termenung di sofa sambil menatap ke arah jendela yang terbuka.
"Ngapain lo di situ?" tanya Abash yang sudah tahu, siapa orang yang duduk di dekat jendela itu.
Arash menoleh ke arah sang kembaran, tatapan matanya yang sendu membuat Abash menaikkan alisnya sebelah.
"Tolong, bantuin gue cari cara agar bisa membujuk Putri untuk memaafin gue," pinta Arash dengan nada yang sendu.
"Apa? Lo lagi berantam sama Putri?" tanya Abash dengan terkejut. "Bukannya kalian baru saja bertunangan?"
Arash menghela napasnya dengan pelan dan berat. "Semua ini salah gue. Seharusnya gue tidak membuatnya merajuk dan mendiami gue sepanjang malam," lirih Arash sambil menundukkan wajahnya.
"Emangnya, apa yang lo perbuat sehingga Putri merajuk?" tanya Abash penasaran.
__ADS_1
Arash melirik ke arah sang kembaran, pria itu pun menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengatakan apa yang telah terjadi kepada Putri. Jika dia mengatakannya kepada orang lain, itu sama saja kan dia membuka aib calon istrinya sendiri?
Tidak, Arash tidak akan melakukan hal itu.
"Mau bantu gak buat kasih ide untuk membujuk Putri?" ketus Arash yang mana membuat Abash melongo mendengarnya.
"Ada ya, orang minta tolong tapi marah-marah," cibir Abash dan memilih untuk tidur.
Ya, tidur ada jalan terbaik dari pada meladeni kembarannya yang sedang galau saat ini.
"Bash, bantuin gue, dong," bujuk Arash yang sudah menghampiri sang kembaran.
Abash meletakkan gelas berisi air minum, di mana dia hendak membasahi tenggorokannya.
"Emangnya lo pernah lilhat gue melakukan hal yang romantis?" tanya Abash yang di jawab gelengan dengan Arash.
"Kalau begitu lo salah orang untuk bertanya," sambung Abash dan kali ini dia benar-benar bisa membasahi tenggorokannya.
"Dasar pelit," cibir Arash dan membaringkan tubuhnya di kasur.
"Lo ngapain tidur di sini?" tanya Abash.
"Berisik. gue mau tidur," ketus Arash yang masih merasa bingung bagaimana cara agar dia bisa merayu dan membujuk sang tunangan.
"Lo dari mana? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Arash di saat setelah hening beberapa menit.
"Ada deh, yang jelas malam ini gue bisa tidur dengan nyenyak," ujar Abash sengaja memanas-manasi kembarannya.
"Pasti habis jumpa Sifa, kan?" tebak Arash. "Semalam ini pulangnya?" tanya Arash lagi. "Apa yang kalian lakukan hingga sepagi ini?" sambungnya lagi.
Abash mencebikkan bibirnya. "Yang jelas kami tidak melakukan hal yang akan merusak nama baik keluarga," jawab Abash yang sudah merebahkan tubuhnya ke kasur.
Arash mengernyitkan keningnya, di saat melihat Abash malah merebahkan tubuhnya dari pada memilih membersihkan tubuhnya yang baru saja dari luar.
"Tumben gak bersih-bersih sehabis dari luar?" tanya Arash.
"Lagi malas," gumam Abash yang sekuat tenaga menahan rasa sakit dari kakinya.
__ADS_1
"