Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 317


__ADS_3

Sudah hampir tiga jam Abash menunggu di dalam mobil. Pria itu berharap jika Mama Kesya berhasil membujuk sang kekasih untuk kembali tinggal di apartemennya.


Entah yang keberapa kalinya Abash melirik ke arah jam tangan, akan tetapi Mama Kesya belum juga keluar dari kos-kosan Sifa.


"Mereka ngapain, sih? Kok lama amat?" gumam Abash dengan perasaan gundah gulana.


Ya, Mama Kesya meminta kepada Abash untuk mengantarkan dirinya ke tempat di mana Sifa tinggal saat ini. Karena, saat Mama Kesya datang ke apartemen, ternyata apartemen itu sudah kosong. Bahkan, gak ada satu pun pakaian Sifa di dalam lemari.


Mama Kesya menebak, jika Abash pasti tahu di mana kekasihnya itu tinggal.


Baru juga Abash ingin turun dari dalam mobil, pria itu mengurungkan niatnya di saat melihat pintu kos-kosan Sifa terbuka. Terlihat dari kejauhan, jika Mama Kesya sedang berpamitan dan bercium pipi kiri dan kanan dengan Sifa.


Saat Mama Kesya sudah berbalik badan, Abash sangat tahu, jika Sifa saat ini sedang menatap ke arahnya. Bahkan, mereka merasa jika saat ini tidak ada penghalang yang menutupi keduanya, namun, jarak di antara mereka tidak bisa di dekatkan.


"Aku merindukan kamu, Fa," lirih Abash dengan perasaan berkecamuk.


"Aku harap kamu bahagia, Mas," batin Sifa yang sebenarnya juga melihat ke arah Abash.


Tak salah berarti apa yang Abash pikir dan rasakan, jika Sifa juga memandang ke arahnya, walaupun jarak membentang dan terhalang oleh mobil.


Ceklek ...

__ADS_1


Pintu mobil terbuka, Abash tersenyum tipis ke Mama Kesya.


"Bagaimana keadaan Sifa, Ma?" tanya Abash langsung.


Mama Kesya menghela napasnya pelan dan berat.


"Fisiknya baik, tapi batinnya tidak," jawab Mama Kesya.


"Kita pulang sekarang?" ajak Mama Kesya sebelum Abash kembali bertanya banyak hal.


Abash menghela napas pelan, pria itu pun akhirnya memilih untuk menurut apa kata sang ratu.


Abash benar-benar merasa penasaran dengan apa yang Mama Kesya bicarakan dengan Sifa. Akan tetapi, wanita paruh baya itu tidak ingin memberitahu apapun yang dia bicarakan dengan Sifa.


"Mama," bujuk Abash dengan manja.


"Enggak, pokonya Mama gak akan bicara apapun kepada kamu," tegas Mama Kesya.


"Ayolah, Ma. kasih tau apa yang Mama bicarakan dengan Sifa?!" bujuk Abash lagi tidak mau menyerah.


"Bash, jangan ganggu mama kamu," tegur Papa Arka yang mana membuat Abash terdiam.

__ADS_1


Pria itu terpaksa bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mama Kesya yang sedang menonton komedi hiburan bersama Papa Arka.


"Sifa, kamu bicara apa sih sama Mama?" lirih Abash sambil berjalan menuju kolam renang.


"Mama ketemu sama Sifa?" tanya Arash yang mendengar suara lirih Abash.


"Sejak kapan kamu di situ?" kejut Abash. Dia pikir jika tidak ada orang di kolam berenang, maka dari itu dia memilih untuk menenangkan pikiran di sana.


"Dua Minggu lagi kamu nikah dengan Putri, tapi gue masih belum bisa bertemu dengan Putri," lirih Arash.


"Jadi, apa rencana kamu akan gagal total?" tanya Abash.


"Kalau dari Tante Nayna, aku sudah mendapatkan dukungan penuh. Tapi, kata Tante Nayna, Putri menolak ide tersebut."


"Maksud kamu? Putri gak mau nikah sama kamu?" tanya Abash.


"Iya, kata Tante Nayna, itu sama saja dia melihat Abash di diri aku, karena wajah kita terlalu mirip," desah Arash. "Asal kamu tau, Bash. Untuk pertama kalinya aku ingin mengubah bentuk wajahku."


"Abash ... Arash ... Cepat, Kakek ... kakek kalian," pekik Papa Arka.


"Kakek? Ada apa dengan kakek?" ujar Abash dan Arash secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2