
Sifa membuka matanya perlahan, gadis itu kembali menutup matanya kala merasakan pening, kemudian kembali membuka matanya.
Sifa menatap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu matanya menyisir sekelilingnya.
Sifa langsung terduduk saat menyadari jika dirinya berada di dalam kamar, bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka dan menampilkan Abash yang membawa nampan.
"Kamu udah bangun?" tanya Abash sambil berjalan mendekati Sifa.
Sifa menarik sedikit selimutnya menutupi tubuh bagian bawahnya. Yaa walaupun pakaian Sifa tak terbuka, tapi, Sifa merasa risih saja berada di atas tempat tidur dengan pria asing di sebelahnya.
Pria asing? Tentu saja, mereka baru kenal beberapa minggu saja. Lagi pula, interaksi keduanya juga tidak sering, setidaknya tidak sesering Sifa menyapa satpam di kantor milik bosnya itu.
"Saya kenapa bisa di dalam kamar?" tanya Sifa kepada Abash yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.
"Kamu pingsan,"
Sifa pun ber-oo ria. Bersamaan dengan itu, perutnya juga ikut berbunyi.
"Jangan bilang kamu belum makan dari siang?" tebak Abash.
Ya, walaupun Abash dapat melihat jika tak ada yang berkurang di dalam kulkasnya, bahkan, tempat sampah pun tak ada bekas makanan yang di buang. Sudah bisa Abash tebak jika Sifa belum makan sama sekali, tetapi, Abash bertanya hanya untuk memastikannya saja.
"Iya, Pak."
"Kenapa? Di kulkas banyak bahan makanan, kamu bisa memasaknya,"
"Saya gak berani mengambil barang yang belum di izinkan oleh si pemiliknya."
"Lalu, kenapa gak pesan makanan?" tanya Abash lagi.
"Ponsel saya habis batre, chargernya juga kelupaan saya bawa."
Abash menganggukkan kepalanya sekilas. Pria itu memberikan bubur tangan da di atas nampan kepada Sifa.
"Makanlah, saya masih bubur kacang hijau, pakai jahe seperti yang kamu bilang tadi pagi."
Sifa menyambut nampan yang di sodorkan oleh Abash. Matanya sedikit membulat saat melihat isi dari mangkok tersebut.
"Ini bubur kacang hijau atau bubur jahe?" gumam Sifa sambil mengaduk isi dari mangkok tersebut.
Sifa merasa lucu, sepertinya bos-nya itu memang tak mengerti bagaimana cara memasak bubur kacang hijau dengan menggunakan jahe.
Bayangkan saja, entah berapa banyak jahe yang Abash iris di dalam bubur tersebut. Hingga mangkok yang kata Abash berisi bubur kacang hijau, terlihat seperti bubur jahe. Banyak banget irisan jahe di dalamnya.
"ini sih udah jadi rebusan air jahe," batin Sifa sambil terkikik geli.
"Kenapa?" tanya Abash yang melihat Sifa tertawa pelan.
"Hah? Oh, gak papa. Terima kasih banyak, Pak," ujar Sifa akhirnya.
Ya, Sifa harus berterima kasih kan kepada Abash, karena sudah bersusah payah memasakkannya bubur.
__ADS_1
Sifa pun mengucap bismillah dan mulai menikmati bubur kacang hijau atau bubur jahe itu. Sifa memaksa masuk suapan demi suapan yang dari setiap sendoknya.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Abash yang sedari tadi memperhatikan Sifa seakan terpaksa menelan buburnya.
"Hmm?" Sifa hanya tersenym dan kembali menyendokkan bubur tersebut ke dalam mulutnya.
Merasa penasaran, Abash pun merebut sendok yang ada di tangan Sifa dan menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.
"Emm, rasanya seperti bandrek, aneh banget. Ini sih bukan bubur kacang hijau," gerutu Abash saat merasakan hangat dalam tenggorokannya.
"Jangan di makan, ntar kamu makin sakit perut," ujar Abash sambil meraih kembali nampan yang ada di pangkuan SIfa.
"Eh, gak papa, Pak. Saya gak masalah kok. Lagian kalo harus di buang, mubazir. Biar saya habiskan saja," ujar Sifa menahan nampan yang suddah berhasil Abash pegang.
"Saya pesanin kamu makanan lain, makan ini yang ada kamu malah sakit perut."
Sifa mengalah dan membiarkan Abash membawa nampan tersebut keluar dari kamarnya.
Abash terkejut saat dia mendapati Sifa ada di belakangnya.
"Ngapain kamu ngikut ke dapur?" tanya Abash.
"Saya lapar, Pak. Boleh gak kalau saya amakna apa yang ada di dalam kulkas?" tanya Sifa.
"Silahkan, selama kamu tinggal di sini, kamu boleh memakan apa yang ada di dalam kulkas itu."
Sifa menganggukkan kepalanya dengan senyum yang melebar. "Terima kasih, Pak."
"Saya pinjam dapurnya, ya Pak," izin Sifa untuk memakai dapur Abash.
"Silahkan, saya ke kamar dulu." pamit Abash dan berlalu menuju kamarnya.
Ingat, kamarnya, bukan kamar yang Sifa gunakan tadi.
Sifa pun mulai mengeksekusi bahan-bahan yang sudah di ambilnya dari dalam kulkas. Hanya butuh waktu 20 menit, semua makanan telah selesai di masak.
Sifa memandang ke arah pintu kamar yang di masuki oleh Abash.
"Panggil gak ya?" gumam Sifa sambil menatap omelet buah yang ada di atas piring.
"Kalau dingin, ntar gak enak lagi."
Setelah berdebat dengan pikirannya, akhirnya Sifa memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Abash.
Tok .. tok .. tok ...
"Pak, saya masak omelet buah, Bapak mau? Mumpung masih panas."
Tak ada sahutan dari dalam, Sifa pun kembali menarik napasnya dalam dan kembali mengetuk pintu kamar Abash.
"Pak, saya masak omelet buah, Bapak mau?" tanya Sifa lagi dengan nada yang sedikit di di tinggikan.
__ADS_1
Tak ada sahutan lagi dari dalam, Sifa pun kembali mengetuk pintu kamar tersebut.
"Pa___k .... " ujar Sifa dengan nada menggantung karena pintu kamar itu terbuka.
Sifa mematung saat melihat wajah segar Abash. Yaa, Abash baru saja selesai mandi, rambutnya terlihat masih basah.
"Kamu masak apa? Omelet buah?" tanya Abash.
Sifa menganggukkan kepalanya, masih dengan mata yang menatap lurus kewajah Abash. Rambut basah yang masih acak-acakan, serta wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Bolehkah Sifa merasa beruntung dapatelibat Abash seperti ini?
"Kenapa melamun? Ayo," ajak Abash yang ternyata sudah berlalu.
Sifa menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia pun mengekori Abash yang sudah berjalan menuju meja makan.
Abash menatap omelet yang ada di atas piring. Benar-benar tak ada sayur di sana, hanya potongan buah dan telur.
"Ide dari mana buat seperti ini?" tanya Abash.
"Iseng aja, waktu itu ada pisang di rumah, berhubung udah terlalu matang, jadi saya coba kreasi dengan membuat omelet pisang," jawab Sifa yang mana membuat Abash merasa takjub.
"Emangnya enak?" Abash benar-benar penasaran dengan rasanya.
"Menurut saya sih enak, gak tau kalau menurut, Bapak."
Oke, sepertinya Abash harus mencicipi perlahan omelet yang ada di hadapannya saat ini.
Sebelum mencobanya, Abash memperhatikan Sifa yang sudah menuangkan saos kenatas omelet dan memotongnya, serta memasukkannya ke dalam mulut. Terlihat Sifa sangat menikmati makanannya itu.
Abash mulai tergoda dengan melihat Sifa makan, pria itu mulai mencicipi sedikit omelet buah apel.
"Tidak buruk," ujar Abash dengan tersenyum tipis.
"Enak kan, Pak?" tanya Sifa.
"Lumayan, setidaknya tidak seburuk yang ada dalam pemikiran saya."
Sifa tersenyum dan kembali menikmati makanan siang yang telah menangkap menjadi makan malamnya.
"Kamu beneran bisa kenyang hanya makan beginian tanpa nasi?" tanya Abash saat makanan mereka sudah habis.
"Iya, kenapa, pak?"
"Tidak ada."
"Bapak masih lapar? Mau saya masakin lagi?" tanya Sifa.
"Tidak, tadi saya sudah memesan makanan. Saya juga pesan satu untuk kamu, tanpa nasi."
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari ABASH dan ARASH