
Sudah satu hari Sifa tak melihat batang hidung sang bos. Bahkan, pagi ini bos-nya itu tak datang ke apartemen untuk seperti pagi sebelumnya.
"Hmm, ngapain juga dia ke sini? Emangnya kamu siapa, Fa?" ujar Sifa pada dirinya sendiri.
Semenjak melihat senyuman Abash, Sifa selalu terus saja memikirkan sang bos tampannya itu. Bahkan, gadis itu sampai berani memimpikan sang bos. Emang sih, bukan mimpi yang gimana-gimana banget. Tapi, tetap aja Sifa udah berani-beraninya memimpikan sang bos. Padahal, selama ini tak pernah sekali pun Sifa bermimpi tentang seorang pria.
Sifa kembali teringat akan perkataan Abash kepadanya, untuk memeriksakan kakinya ke rumah sakit. Lagi pula, Sifa sudah merasa mendingan dan risik dengan kakinya yang di gips.
"Sebaiknya aku pergi sekarang aja, mumpung jam segini angkutan umum pada sepi," gumam Sifa dan bergegas untuk bersiap ke rumah sakit.
Di tempat lain, Absh tengah sibuk memasang komputer dan juga alat pendeteksi rangkaiannya dan juga rangkaian milik Farhan.
"Gimana? Udah beres?" tanya Lucas kepada adik sepupunya itu.
"Sedikit lagi, Ti Anggel gimana?" tanya Abash, di mana keadaan aunty-nya itu juga dalam keadaan terluka parah.
Ya, karena kasus yang mereka hadapi ini bukanlah dari kalangan mafia biasa, jadi mereka lebih ekstra memperketat penjagaan.
Bagi Abash, mafia yang di hadapinya saat ini bagaikan belut listrik yang licin, kecil, tapi menyengat. Perlu jebakan ekstra untuk menangkapnya.
Jika hanya menangkap seekor ulat piton besar, Arash sang kembaran sudah cukup mampu untuk menangkapnya.
"Anggel sudah di tangani. Lana dan Veer juga berjaga di kamar. Bunda Sasa dan Daddy Bara sudah membuat strategi penjagaan."
"Oke, kita sebaiknya kembali ke posisi masing-masing," titah Abash.
Terlalu sibuk mengurusi keamanan rumah sakit untuk melindungi para ratu di keluarga Moza, Abash dan Lucas sampai lupa dengan janjinya kepada Sifa.
Emangnya siapa Sifa? Ratu-ratu Moza lebih penting darinya.
*
Sifa baru saja menapakkan kakinya di rumah sakit utama. Dia begitu takjub menatap rumah sakit yang terlihat megah bagaikan hotel berbintang itu.
"Kalau gini rumah sakitnya, pada betah sakit kali ya orang-orang," gumam Sifa sambil melangkahkan kakinya menuju resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya mau berobat," ujar Sifa sambil mengulurkan kartu tanda pengenalnya.
"Silahkan daftar ke sini ya kak, lalu ambil nomor antrian untuk ke dokter umum." ujar wanita yang menjaga di meja resepsionis.
"Emm, itu. Saya udah janji sama dokter Lucas. Mau buka gips." Sifa menunjukkan kakinya yang masi ter gips.
"Dokter Lukas? Maaf, tapi dokter Lucas itu spesialis saraf."
"Hah? tapi, kemarin saya di suruh ke rumah sakit dan menjumpai dokter Lucas." ujar Sifa dengan wajah polosnya.
Resepsionis tersebut melirik kearah temannya yang ada di sebelah. Temannya mengangkat kedua bahunya dan tak ingin ikut campur.
__ADS_1
Resepsionis tersebut takut, jika gadis yang bernama Sifa ini adalah salah satu penggemar Dokter Lucas. Pernah sekali ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mengatakan jika dirinya adalah pacar dokter Lucas. Tentu saja resepsionis tersebut menunjukkan ruangan Lucas, tetapi yang terjadi malah dirinya yang kena marah dengan Lucas.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, Resepsionis tersebut mencoba menghubungi asisten dokter Lucas.
"Maaf, Mbak. Tapi nama Mbak gak da di daftar temu janjinya dokter Lucas," ujar wanita resepsionis tersebut dengan ramah.
"Masa sih? jadi buat apa Juag di suruh datang?" kesal Sifa.
"Mbak mau periksa? Kalau Mbak mau, saya bisa bantu untuk mendaftarkannya ke dokter umum dulu." tawar wanita resepsionis tersebut.
Sifa menghela napasnya pelan, tentu saja dia tak ingin bertemu dengan dokter lain, selain Lucas. Sifa takut, jika dokter lain akan memperlakukan dirinya dengan kasar.
"Gak, Mbak. Terima kasih."
Dengan perasaan kesal, Sifa membalikkan badannya dan berjalan keluar gedung rumah sakit.
Bruukk ....
"Aww ...." Sifa memekik sakit karena tertabrak oleh seseorang.
"Maaf, saya buru-bu___ Sifa?" ujar seorang pria yang menabrak Sifa.
Sifa mendongakkan kepalanya, otaknya langsung berpikir cepat siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu gak papa?" pria itu membantu Sofa berdiri.
"Saya baik-baik saja, Pak?" Sifa menggantung ucapannya, dalam hati Sifa menebak jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Arash.
Ya, pria yang menabrak Sifa adalah Arash.
"Kamu ngapain ke sini? Mau periksa?" tanya Arash sambil menatap ke arah kaki Sifa.
"Iya, tadinya mau jumpa dengan Dokter Lucas."
"Lucas?"
"Iya, Dokter Lucas menyuruh saya untuk menjumpainya."
Arash meraih ponselnya dan menghubungi sepupunya itu. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya panggilan Arash pun tersambung.
"Assalamualaikum, Kak. Kakak kenal Sifa?" tanya Arash langsung.
"Sifa? Ah ya, dari mana kamu tahu?"
"Arash bersamanya saat ini."
"Kamu bawa saja dia ke sini, kakak ingin memeriksa sesuatu," titah Lucas dan memutuskan panggilannya setelah mengatakan beberapa hal.
__ADS_1
"Ayo, Kak Lucas sudah menunggu."
Sifa pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Arash.
"Bagaimana kamu bisa kenal dengan Kak Lucas?" tanya Arash penasaran.
"I-itu----"
Sifa tak tahu, haruskah dia berkata jujur atau tidak. Satu sisi, jika gadis itu jujur, dia takut akan di cap sebagai wanita mantre atau pun memanfaatkan kebaikan sang bos. Bahkan bisa saja di cap sebagai perayu atasan.
"Kok diem?" tanya Arash lagi.
"Sa-saya kenal dengan__"
Arash menaikkan tangannya dan untuk menyuruh Sifa untuk diam. Pria itu menggeser tombol hijau dan mendengarkan apa yang di katakan oleh orang yang menghubunginya.
"Sifa, sepertinya kamu harus kembali lagi lain waktu," ujar Arash setelah berbicara dengan orang yang ada di seberang panggilan.
Saat ini mereka telah memasuki halaman rumah sakit khusus karyawan perusahaan Moza.
"Kenapa? Saya___"
Sifa kembali terkejut saat Arash merangkul tubuhnya dan sedikit memaksanya untuk berjalan cepat.
"Maaf," bisik Arash saat mereka telah berhasil bersembunyi.
Sifa menahan rasa sakit pada kakinya, tetapi, dia juga merasa takut saat melihat beberapa polisi dengan pakaian gegana telah mengepung rumah sakit tersebut.
"Apa ada bom di rumah sakit?" tanya Sifa dengan berbisik.
"Tidak, tapi__"
Arash langsung melindungi kepala Sifa dari sebuah tembakan.
"****..." maki Arash dan mengeluarkan pistolnya.
Sifa merasa saat ini dia benar-benar berada dalam situasi berbahaya. Atau, saat ini dirinya sedang ikut dalam syuting film action?
"Kamu gak papa?" tanya Arash kenapa Sifa yang sudah menunduk di belakangnya.
"I-iya, ta-tapi saya kebelet pipis, Pak." ujar Sifa dengan gemetar.
Tentu saja Sifa kebelet pipis. Siapa pun ornag yang di hadapkan dengan situasi seperti ini, maka akan merasakan hal yang sama, bukan?
"Tahan sebentar," bisik Arash dan melihat keadaan sekitar.
"Ayo." Arash mengajak Sifa untuk melewati pintu belakang rumah sakit. Pintu yang hanya di ketahui oleh staf inti di rumah sakit ini.
__ADS_1
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH