
"Kalian di sini juga?"
Putri pun menyapa Abash dan Sifa yang baru saja berada di dekat mereka.
"Memangnya kalian saja yang di undang?" kekeh Abash.
"Sifa, aku senang kamu ikut, jadi aku ada temennya," ujar Putri dan bergandengan tangan dengan Sifa.
"Iya, Mbak. Aku juga senang bisa ketemu Mbak di sini, aku pikir aku bakal jadi patung karena gak boleh senyum," kekeh Sifa sambil melirik ke arah Abash.
"Sifa, itu perjanjian yang harus kamu tepati, ya?" ujar Abash memperingati sang kekasih.
Sifa pun terkekeh pelan. "Iya ... iya ... aku cuma bercanda aja, kok."
"Perjanjian apa, sihi?" tanya Putri merasa penasaran.
"Ada deh," ujar Sifa masih terkekeh pelan.
Arash pun mengajak semuanya untuk duduk di salah satu meja kosong yang tersedia di sana sambil menikmati live musik yang sedang berlangsung.
"Ini sebenarnya pesta apa sih, Mbak?" bisik Sifa kepada Putri.
"Pesta ulangtahun sekaligus merayakan kemenanangan proyek," balas Putri dengan berbisik pula.
"Ulang tahun sampai semeriah ini?" tanya Sifa dengan terkejut. "Di puncak pula lagii?"
"Namanya juga orang yang duitnya gak berseri, Fa. Suka banget menghambur-hamburkan uang begini," jawab Putri.
"Kalau Mbak sendiri? Pernah merayakan ulang tahun semewah ini?" tanya Sifa merasa penasaran.
"Pernah, tapi bareng sama anak panti asuhan," bisik Putri.
Abash dan Arash pun hanya memperhatikan kedua gadis yang tengah asik mengobrol itu, sehingga membuat mereka berdua terasa diabaikan.
"Nyesal aku tegur kamu," gumam Arash dengan ketus kepada Abash.
"Aku juga, nyesal harus menghampiri kamu jika begini jadinya," balas Abash tak kalah ketus.
Abash pun berdehem untuk mengambil atensi Putri dan Sifa. Ya, memang keduanya sempat menoleh sih, cuma mereka kembali mengabaikan Abash dan melanjutkan percakapan yang entah apa sedang mereka bahas saat ini, terlihat sangat seru sekali.
"Aku ambil cemilan dulu," pamit Arash dan meninggalkan Sifa, Abash, dan juga Putri.
"Huum, yang banyak, ya?" ujar Abash yang memang tidak ingin meninggalkan Sifa kedua gadis yang saat ini menjadi perhatian dari beberapa pria mata keranjang ada di sekitar mereka.
"Pak Abash, Nona Putri," tegur seorang pria yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Putri dan Abash pun serentak menoleh ke arah pria tersebut.
"Ya?"
"Ah, ternyata benar. Saya pikir tadi salah orang," ujar pria itu.
"Perkenalkan, saya Yoyo, asisten dari Tuan Albert," ujar pria itu.
Albert adalah rekan bisnis Abash dan juga rekan bisnis Bara sekaligus klien Putri. Pria itulah si pemilik acara pesta malam inii.
"Ya," jawab Abash singkat.
__ADS_1
"Begini, Tuan Albert meminta saya untuk mengundang Pak Abash dan Nona Putri untuk bergabung bersama beliau saat ini," ujar Yoyo dengan sopan.
Sebenarnya Abash enggan untuk meninggalkan Sifa sendirian saat ini. Dia ingin membawa Sifa bersamanya, akan tetapi dia sangat tahu bagaimana Tuan Albert, di mana jika pria itu mengundan untuk berada di mejanya, maka orang-orang yang ada di meja itu haruslah orang yang dia undang saja.
"Maaf, apa Nona ini tunangan Pak Abash?" tanya Yoyo yang mengambil kembali perhatian Abash, Sifa, dan Putri.
Abash melirik ke arah Sifa, gadis itu terlihat tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan, dia adalah asisten pribadi saya," jawab Abash yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Loh, kok?" Sifa dengan cepat menyentuh paha Putri, agar gadis itu tidak berkata apa-apa lagi.
"Kalau begitu, Nona itu tidak boleh ikut bergabung dengan Tuan Albert. Saya rasa Pak Abash sudah sangat mengenal bagaimana karakter Tuan Albert," jelas Yoyo yang diangguki oleh Abash.
"Mari, Pak, Nona." Yoyo pun mempersilahkan Putri dan Abash untuk berjalan duluan.
"Emm, Sifa. Kamu tetap di sini, jangan ke mana-mana. Arash akan kembali ke sini sebentar lagi. Nanti, kamu katakan kepada Arash, kalau saya sedang menemui Tuan Albert," ujar Abash yang di jawab anggukan oleh sifa.
"Baik,Pak."
Abash berdiri dan mengajak Putri, terlihat dari wajah gadis itu seolah sedang kebingungan saat ini. Dengan perasaan bingung, Putri pun berdiri dan menoleh ke arah Sifa yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Abash malah memperkenalkan Sifa sebagai asistennya?" batin Putri bertanya-tanya.
Abash dan Putri pun berlalu menjauh dari meja yang diduduki oleh Sifa, membiarkan gadis itu sendirian sambil menatap kepergian keduanya.
Sifa menghela napasnya pelan, diai pun mencari keberadaan Arash dengan tatapan matanya.
"Mas Arash ke mana, ya?" gumam Sifa masih menyapu sekeliling matanya memandang.
"Hai ..."
"Mana bos kamu? Kok sendirian aja?" tanya pria yang bernama Dika itu.
Sifa tidak menjawab, gadis itu hanya diam dan masih mencari keberadaan Arash.
"Kenalin, nama aku Dika," ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Saya sudah tahu," jawab Sifa sambil melirik ke arah pria itu.
"Oh, saya pikir kamu tidak mengingat saya," ujarnya dengan menahan perasaan kesal dan mencoba tersenyum.
Seorang pelayan pun lewat dengan membawa nampan yang berisi gelas-gelas berbentuk unik. Dika pun memanggil pria itu dan mengambil dua gelas minuman. Salah satu gelas yang di ambil oleh Dika berwarna putih. Pria iitu pun memberikan gelas berisi air berwarna putih kepada Sifa, sedangkan yang berwarna kuning kecoklatan untuk dirinya sendiri.
"Ini hanya air soda, tidak ada alcoholnya, minumlah," titah Dika sambil memberikan air tersebut kepada Sifa.
"Tidak, terima kasih," tolak Sifa dan masih mencari keberadaan Arash.
Sesekali, Sifa melirik ke arah Putri dan Abash yang jaraknya cukup jauh dari dirinya. Terlihat mereka sedang mengobrol dengan wajah yang terlihat serius sekali.
"Aku hanya ingin berkenalan dengan kamu, tidak lebiih," ujar Dika yang mana mengambil alih perhatiian Sifa kembali.
"Jika kamu tidak ingin berkenalan dengan aku, baiklah. Kalau begitu aku pamit," ujar Dika dan bangkit dari duduknya meninggalkan Sifa sendirian.
Sifa menghela napasnya pelan dengan lega. Jujur saja, gadis itu sebenarnya sangat gugup karena kehadiran pria yang bernama Dika itu. Karena rasa gugup yang dia derita barusan membuat tenggorokan Sifa pun terasa kering. Gadis itu menatap gelas yang berisi air bergelembung di dindiingnya dengan pinggiran gelasnya di letakkan irisan buah lemon yang segar.
"Mungkin beneran soda," gumam Sifa dan langsung meneguk minuman itu dengan sekali tegukan.
__ADS_1
Sifa meringis di saat tenggorokannya terasa panas setelah meminum air tersebut.
"Brengsek, sepertinya ini bukan air soda," geram Sifa dan merasa sangat haus sekali saat ini.
Sifa mencari keberadaan Arash melalui tatapan matanya, akan tetapi pria itu masih belum juga terlihat batang hidungnya.
"Itu ada pelayan," gumam Sifa dan bangkit dari duduknya menghampiri pelayan tersebut.
"Maaf, apa ada air putih di sini?" tanya Sifa kepada pelayan tersebut.
Kepalanya tiba-tiba saja ikut terasa pusing saat ini.
"Air putih? Air mineral maksudnya?" tanya pelayan tersebut yang dianggukii oleh Sifa.
"Iya." Kepala Sifa semakin terasa pusing, bahkan pandangannya saat ini pun mulai terasa mengabur.
"Air miineral ada di sebelah sana, Nona, silahkan ke sana," tunjuk pelayan tersebut ke salah satu meja yang memang menyusun beberapa botol air mineral.
"Terima kasih." Dengan berjalan hoyong, Sifa pun menghampiri meja yang terdapat air mineral dalam kemasan botol.
"Akkh, kenapa tenggorokan aku terasa semakin kering?" lirih Sifa sambil menahan rasa sakit pada kepalanya.
Sifa mengambil sebotol air mineral yang ada di dalam botol,, kemudian dia membuka botol itu dengan sekuat tenaganya. Namun, hal itu menjadi siia-sia, karena seketika Siifa merasakan tidak bertenaga pada lengannya.
"Eughh, kenapa keras banget?" lirih Sifa sambiil membuka tutup botol minuman tersebut.
"Butuh bantuan?"
Sifa menoleh ke arah pria yang menawarkan bantuan kepadanya. Gadis itu memfokuskan pandangannya yang semakiin memudar.
"Dasar brengsek," maki Sifa pelan di saat mengetahui siapa pria itu.
Ya, dia adalah Dika.
"Kenapa, sayang? Apa kamu butuh pegangan untuk berdiri?' ujar Dika yang semakin berjalan mendekat ke arah Sifa.
Sifa pun refleks memundurkan langkahnya untuk menjauh dari pria yang bernama Dika tersebut.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kamu," ujar Dika dengan tersenyum miring.
"Pergi kamu brengsek," maki Sifa dengan setengah kesadarannya.
"Aku tidak akan pergi sendiri, karena kamu akan ikut bersama aku."
Dika pun menarik tangan Sifa dan mencengkramnya dengan erat.
"Lepasin, brengsek, lepasin hmmppp ..."
Dika membungkam mulut Sifa dengan tangannya, agar tidak ada yang mendengar teriakan gadis itu.
"Diamlah, atau aku akan memukulmu."
Sifa terus memberontak dengan sisa-sisa tenaganya, akan tetapi karena tubuhnya yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol pun, membuat tenaga gadis itu melemah.
"Hmmmpp ...."
Dika pun membawa Sifa menuju ke salah satu kamar yang memang sengaja di siapkan oleh si pemilik acara bagi tamu undangannya yang ingin menginap di sana.
__ADS_1
"Mas Abash, tolong aku," batin Sifa di sisa kesadarannya.