Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 233 - Menikah


__ADS_3

"Kamu ini, ya, dasar pria mesum," pekik Mama Kesya sambil memukuli punggung sang putra.


"A-ampun, Ma. Ampun," lirih Abash sambil melindungi kepalanya agar tak di pukuli oleh sang Mama.


"Iih, udah Mama bilang jangan nodai anak gadis orang," pekik Mama Kesya dengan kesal. "Kalau tadi orang lain yang lihat gimana, hah?" kesal Mama Kesya yang sudah menjewer sang putra.


Sifa sudah gemetaran melihat kemarahan Mama Kesya, sehingga gadis itu hanya bisa tertunduk dengan wajah yang merona. Arash yang melihat hal itu pun, hanya tersenyum kecil dan merasa lucu melihat wajah sang kembaran dan juga gadis yang dia taksir terlihat sangat lucu sekali.


Tunggu, kenapa dia tidak merasa cemburu? Apa yang dia rasakan kepada Sifa hanya sebuah perasaan kekaguman saja?


Arash pun mengernyitkan keningnya, mencoba meraba perasaannya sendiri.


"Pokoknya Mama gak mau tau, bulan depan kalian harus menikah," titah Mama Kesya tanpa ingin di bantah.


"Ma," lirih Abash mencoba membujuk sang mama.


"Mama gak mau kecolongan lagi. Pokoknya kalian harus menikah bulan depan, titik," ujar Mama Kesya tanpa ingin di bantah.


Mama Kesya pun menoleh ke arah Sifa yang masih tertunduk ketakutan.


"Sifa," panggil Mama Kesya yang mana membuat gadis itu semakin meremas ujung bajunya.


"I-iya, Tante," jawab Sifa dengan suara yang serak.


Mama Kesya yang sudah bisa menebak jika Sifa sudah menahan tangisnya pun, menghampiri gadis itu.


"Sayang, Tante gak akan menyalahkan kamu di sini," ujar Mama Kesya sambil menangkup wajah Sifa.


Di angkatnya wajah gadis itu untuk menatap ke arah wajah Mama Kesya.


"Kamu jangan takut, karena Tante yakin, jika kamu tidak salah di sini. Tante yakin, pasti si Abash mesum itu kan yang maksa kamu?" ujar Mama Kesya yang mana membuat Sifa mengerjapkan matanya.


Air mata gadis itu pun yang sudah menggenang di pelupuk matanya, akhirnya terjatuh dan membasahi pipinya, di saat dia mengerjapkan mata.


"Tapi, walaupun ini bukan salah kamu, tetap saja kamu harus bersedia menikah dengan Abash. Ya?" ujar Mama Kesya dengan lembut.


"Tap-tapi, Tante?"


"Gak pake tapi-tapi. Tante hanya gak ingin kalian terlalu larut dalam dosa. Kamu mau kan menikah dengan Abash?" tanya Mama Kesya sambil menghapus air mata Sifa yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


Sifa melirik ke arah Abash, terlihat jika pria itu sedang tersenyum penuh arti kepadanya.


"Sifa?" panggil Mama Kesya yang mana membuat gadis itu menoleh kembali kepada Mama Kesya.


"I-iya, Tante, Sifa bersedia," ujarnya menyetuju permintaan Mama Kesya.


"Alhamdulillah," ucap Abash dengan nada yang kencang.


Mama Kesya, Sifa, dan Arash pun sampai menoleh ke arah pria itu.


"Senang banget, kamu?" ketus Mama Kesya yang sudah menatap sang putra dengan sebal.


"Senang lah, Ma. Bisa halal secepatnya," kekeh Abash yang mana membuat Sifa memanyunkan bibirnya.


"Wooo, maunya Lo, tuh," ujar Arash sambil melempar bantal kecil yang ada di bawah kaki Abash.


"Soalnya gue ngajakin dia nikah dari awal, selalu di tolak," kekeh Abash. "Tau gini kan dari dulu aja suruh Mama yang tanya," ujarnya sambil tersenyum lebar.


Mama Kesya pun menggelengkan kepalanya di saat mendengar ucapan sang putra. Wanita paruh baya itu pun kembali menoleh ke arah calon menantunya itu.


"Mulai sekarang, kamu jangan panggil lagi dengan sebutan Tante, ya," ujar Mama Kesya dengan tersenyum lembut.


"Karena kamu sudah menjadi calon menantu Mama, mulai sekarang kamu jangan panggil Tante lagi, tapi panggil Mama," ujar Mama Kesya dengan tersenyum lebar.


"Hah?"


Sifa pun merasa terkejut dengan apa yang di katakan oleh Mama Kesya. Apakah dia harus memanggil Mama Kesya dengan sebutan Mama? Padahal kan dia belum menikah dengan Abash?


"Coba, mulai sekarang kamu panggil Mama dengan panggilan Mama!" titah Mama Kesya.


Sifa pun melirik ke arah Abash, pria itu pun menganggukkan kepalanya untuk menyuruh gadis itu memanggil Mama Kesya dengan panggilan Mama.


Sifa pun kembali menoleh ke arah Mama Kesya, menatap wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan ayu itu tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Ma-mama?" lirih Sifa yang mana membuat senyaman Mama Kesya pun semakin besar.


"Iya, sayang. Mulai sekarang dan sampai kapan pun, Mama akan tetap terus menjadi Mama kamu," ujar Mama Kesya sambil menarik Sifa ke dalam pelukannya.


"Mama, hiks ..." lirih Sifa dan semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, gadis itu merasakan ada seseorang yang menerima keberadaannya dengan tulus.


"Ma, hiks ..."


Tak hanya Sifa, Mama Kesya pun ikut menangis mendengar panggilan Sifa untuknya. Dapat wanita paruh baya itu rasakan, jika Sifa pasti sangat terharu dan juga merindukan ibu kandungnya saat ini.


"Iya, sayang. Mama di sini," bisik Mama Kesya sambil mengusap punggung calon menantunya.


Abash dan Arash yang melihat adegan itu pun, ikut terharu dan dapat merasakan apa yang Sifa rasakan saat ini. Abash tanpa sadar menjatuhkan air matanya, sehingga membuat pria itu dengan cepat mengusap air matanya.


"Dasar cengeng," ujar Arash yang mana membuat Abash mencebikkan bibirnya.


Akhirnya, satu masalah pun selesai. Sifa dan Abash sudah mendapatkan titik terang dalam hubungan mereka. Dan gak itu tidak lain dari ikut campur tangan sang mama.


*


Mama Kesya sudah keluar dari ruang inap Abash, karena Quin mencari keberadaan dirinya. Saat ini, tinggallah Arash, Abash, dan Sifa di satu ruangan.


"Kenapa?" tanya Arash saat melihat Sifa dan Abash menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Lo gak papa?" tanya Abash yang merasa pasti saat ini sang kembaran sedang patah hati, di saat melihat dirinya berciuman dengan gadis yang pria itu taksir.


"Gue? Gue gak papa, kenapa memangnya?" tanya Arash dengan kening mengkerut.


Abash pun menghela napasnya dengan pelan, pria itu pun melirik ke arah Sifa yang saat ini juga terlihat gugup dan merasa canggung kepada Arash.


"Rash, gue tau, kalau Lo suka sama Sifa," ujar Abash yang mana membuat Arash menaikkan alisnya sebelah.


"Lalu?" tanya Arash dengan bingung.


"Lo gak papa lihat kami seperti tadi? Lo gak cemburu dan berniat untuk menggagalkan rencana pernikahan kami, kan?" tanya Abash yang mana membuat Arash membulatkan matanya.


"Gila Lo, Lo pikir gue cowok apaan?" ketus Arash yang mana membuat Sifa mengerjapkan matanya.


"Bukan gue yang mikir gitu, tapi Sifa," ujar Abash yang mana membuat Sifa semakin salah tingkah.


Arash yang tiba-tiba memiliki ide jahil pun, ingin mengerjai calon adik iparnya itu.


"Kalau iya gue mau gagalin pernikahan Lo, gimana?" tanya Arash dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Jangaaan," pekik Sifa yang mana membuat Arash dan Abash saling menatap.


__ADS_2