
"Ma, maksudnya gimana ini? Kok Tante Nayna panggil Arash calon mantu?"
Mama Kesya tersenyum. Wanita paruh baya itu pun berdiri sambil memegang lengan sang putra.
"Ayo," ajak Mama Kesya.
Arash menatap wajah sang mama yang tersenyum manis kepadanya. Pria itu pun menurut apa yang di katakan oleh Mama Kesya.
Arash berdiri tanpa melepas pandangannya dari wajah sang mama.
"Malam ini, kamu akan bertunangan dengan Putri," ujar Mama Kesya sambil membenarkan jas dan juga dasi yang di kenakan oleh Arash.
Arash hanya mengerjakan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Mama Kesya. Jika benar dirinya yang akan bertunangan dengan Putri, lalu kenapa Soni yang di panggil?
"Ayo, Mama temani kamu bertemu dengan calon tunangan kamu," bisik Mama Kesya.
Arash tak mengangguk dan juga tidak tersenyum, pria itu masih menatap wajah sang mama dengan tatapan mata yang kebingungan. Menelisik ekspresi wajah dan juga tatapan mata Mama Kesya, apakah wanita paruh baya itu sedang mengerjainya saat ini atau tidak.
Arash menurut dan mengikuti Mama Kesya mendekat ke arah Putri dan juga keluarganya.
Tunggu, kotak cincin yang di tangan Soni. Sepertinya Arash mengenali kotak cincin tersebut.
__ADS_1
"Arash, maafin Tante ya, karena udah kerja sama dengan Mama kamu," ujar Mama Nayna saat calon menantunya sudah berada di hadapannya saat ini.
"Mak-maksud Tante?" tanya Arash dengan bingung.
Mama Nayna menghela napasnya sambil tersenyum. "Jadi, Mama kamu tadi menghubungi Tante, beliau bilang kalau mau melamar Putri untuk kamu."
Mama Nayna pun menceritakan rencana yang telah di buat oleh Mama Kesya. Bahkan, sebenarnya Papa Satria tidak menyetujui akan ide tersebut, karena itu sama saja mempermainkan perasaan Soni. Namun, siapa yang menyangka, jika Soni yang kebetulan juga berada di rumah Bara saat itu, mendengar semuanya dan menyetujui rencana Mama Kesya.
Untuk meyakinkan Papa Satria tidaklah mudah, pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu pun masih enggan untuk ikut andil dalam membohongi putri dan juga Arash. Saat Mama Nayna mengatakan untuk memberi pelajaran kepada Arash yang sudah berani-beraninya mencium Putri, hal itulah yang akan Papa Satria menyetujui rencana Mama Kesya.
Bahkan, Papa Satria rencananya inginembuat Soni benar-benar bertunangan dengan Putri, tapi Mama Nayna melarangnya, karena itu sama saja akan melukai perasaan Putri. Tak ada pilihan lain, selain menuruti apa yang di minta oleh istri tercinta.
Tenang saja, ada hukuman yang sudah di siapkan oleh Papa Satria khusus untuk Arash.
Arash membulatkan matanya, di saat melihat cincin pertunangan mereka ada bersama Soni. Bagaimana bisa? Bukannya cincin itu berada di dalam mobilnya tadi?
"Cincin itu?" lirih Arash.
"Untung Mama bawa kunci serap mobil kamu," ujar Mama Kesya memberitahu.
Ah, ternyata rencana yang di buat oleh Mama Kesya benar-benar sangat matang. Bahkan, seluruh keluarga sepertinya mendukung apa yang telah beliau rencanakan.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita mulai pertunangannya," ujar Mama Kesya yang tak sabar untuk menjadikan Putri sebagian menantunya.
Putri tersenyum dengan sangat manisnya, gadis itu mengulurkan tangannya agar Arash bisa memakaikan cincin di jari manis gadis itu.
"Kamu sudah tau semuanya?" tanya Arash saat pria itu memakaikan cincin ke tangan Putri.
"Huum, saat kamu pulang, Mama masuk ke dalam kamar dan menjelaskan semuanya," ujar Putri memberitahu.
Arash mengulurkan tangannya, agar Putri bisa memakaikan cincin ke jari manis pria itu.
"Jas yang bagus, sangat cocok sekali warnanya di kulit kamu," bisik Putri yang mana hal itu pun berhasil mencuri perhatian Arash.
Ya, kenapa pria itu tidak menyadarinya?
Saat Mama Kesya memaksa Arash untuk menggunakan jas berwarna mocca itu pun, sedikit pun tak ada rasa curiga dalam benak Arash. Pria itu hanya memakainya saja demi menuruti apa yang di katakan oleh sang mama. Dan juga, Arash tidak memperhatikan gaun yang di pakai oleh Putri, di mana gaun tersebut juga memiliki warna senada dengan warna jas yang dia kenakan.
Padahal sudah sejelas itu semua rencana Mama Kesya, tapi Arash tidak bisa menebaknya.
Ah, ternyata menjadi pria cemburu itu bisa melumpuhkan saraf yang lain sepertinya.
"Lihat saja, aku akan memberikan hukuman karena kamu sudah ikut andil dalam membohongi aku," bisik Arash yang di dengar oleh Papa Satria.
__ADS_1
"Sebelum kamu menghukum putri saya, alangkah baiknya kamu menjalani hukuman kamu sekarang," ujar Papa Satria sambil tersenyum miring.