Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 128 - jam mati


__ADS_3

"Duh, harus mandi kilat ini," lirih Sifa dan bergegas mengambil handuknya.


Gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Mungkin pagi ini, Sifa tidak akan mencuci rambut, agar menghemat waktu juga untuk dia bersiap.


Di tempat lain, Abash masuk ke dalam apartemennya dengan terburu-buru. Pria itu sudah mempertebal wajahnya saat kembali ke apartemenya sendiri, karena penampilannya saat ini yang masih menggunakan piyama tidur dan juga cardigan sepanjang lututnya.


Abash menoleh ke arah jam dinding, untuk memastikan berapa waktu yang pria itu butuhkan untuk bersiap.


"Jam enam dua puluh delapan menit?" lirih pria itu.


Merasa tak yakin dengan jam yang dia lihat, Abash pun masuk ke dalam kamarnya untuk memastikan di angka berapa jarum jam itu menunjuk.


"Jam enam lewat dua puluh delapan menit," lirihnya lagi.


Masih tidak yakin, pria itu pun mengambil ponsel dan mengecek sudah jam berapa saat ini.


"Jam enam lewat dua puluh sembilan menit, itu berarti?"


Abash pun langsung mencari nama Sifa untuk membuat panggilan telepon, terdengar beberapa kali nada sambung, hingga akhirnya sambungan tersebut pun putus.


"Apa lagi mandi ya?" lirih Abash, kemudian pria itu pun tersenyum sambil berjalan menuju tempat tidur.


Abash pun menatap nama yang dia simpan di ponsel, pria itu pun terkekeh pelan di saat kepikiran untuk mengubah nama kontak yang dia simpan di ponsel.


"Enaknya di kasih nama apa, ya?" lirih Abash.


Pria itu pun teringat, jika Sifa selalu membuatnya gemesh, sehingga Abash pun menyimpan nama sang kekasih dengan nama 'Gemesh'.


"Hmm, beres," lirih Abash dan kembali menghubungi sang kekasih.


Terdengar kembali suara nada sambung, hingga saat sambungan yang ke tiga, pria itu dapat mendengar suara pujaan hatinya.


"Assalamualaikum, Pak," jawab Sifa.


"Pak?" tegur Abash.


"Eh, Mas maksudnya," cicit Sifa dari seberang panggilan.


"Kamu sudah siap?" tanya Abash.


"Saya baru selesai mandi, Bapak sudah sudah siap? Eh, maksudnya Mas. Mas sudah siap?" tanya Sifa.


"Hmm, coba kamu lihat jam yang tertera di ponsel kamu," ujar Abash.


"Maksudnya?"


"Udah, coba liat saja."


Sifa pun menuruti apa yang di perintahkan oleh pacarnya itu, sehingga dia mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Masa sih masih jam setengah tujuh?" lirih Sifa.


Gadis itu pun kembali keluar kamar dan untuk melihat jam dinding tersebut.


"Masih jam tujuh lewat empat puluh lima menit, itu artinya?"


Sifa pun menajamkan matanya, sehingga dia dapat memastikan jika jam tersebut tidak bergerak.


"Ya ampun, ternyata jamnya sudah habis baterai," kekeh Sifa dan menempelkan kembali ponselnya ke telinga.


"Gimana?" tanya Abash yang sudah tertawa pelan.


"Jamnya sudah habis baterai, Pak," kekeh Sifa.


"Nah, gara-gara itu kita heboh," ujar Abash. "Ya sudah kalau begitu, aku siap-siap dulu ya, nanti aku jemput kamu di apartemen."


"Iya, Pak."


Panggilan pun berakhir, Sifa menghela napasnya pelan sambil menggelengkan kepala.


"Hmm, ada-ada aja si jam ini. Pakai acara mati segala," lirihnya pelan dan kembali masuk ke dalam kamar.


*


"Kamu yakin mau pulang, sayang?" tanya Mama Nayna kepada Sifa.


"Iya sayang, tapi kan?"


"Ma, Putri gak papa kok. Percaya sama Putri ya. Lagi pula, sayang juga Zia di tinggal kelamaan sama Mama dan Papa."


"Hmm, kamu ini. Selalu aja pinter banget ngalihin perhatian," Rajuk Mama Nayna.


"Bara yang akan menjaga Kak Putri untuk beberapa hari, Ma," ujar Bara yang baru saja masuk ke dalam ruangan inap Putri.


"Kamu pulang aja, aku gak papa sendirian. Lagi pula ada Luna kok yang bakal temani aku," tolak Putri.


"Kakak sengaja kan cari kerja di Jakarta? Biar aku gak bisa mengawasi kakak?" tebak Bara.


"Asal kakak tau, Bara sudah menyuruh orang untuk menjaga kakak saat ini," terang Bara dengan wajah menjengkelkan.


"Ck, kamu ini. Ya, Kakak memang sengaja pindah ke Jakarta, biar kamu gak terus terusan ngawasin kakak," kesal Putri.


"Kakak butuh privasi, Bara."


"Tap---,"


"Kakak kamu benar, Bara. Dia butuh privasinya sendiri. Cobalah untuk mempercayai kakak kamu, kali ini saja," ujar Mama Nayna.


"Ma, tapi kan Bara khawatir, Ma. Bagaimana jika ada yang ingin memanfaatkan kepolosan Kak Putri?" ujar Bara. "Mama kanntau sendiri, gimana pribadi Kak Putri," kesal Bara.

__ADS_1


"Iya, sayang. Tapi, kalau kamu terus saja mengawasi Putri, kapan dia akan dewasa?" ujar Mama Nayna yang akhirnya tidak lagi di bantah oleh Bara.


"Terima kasih, Ma," ujar Putri sambil memeluk sang mama.


"Sama-sama sayang."


Mama Nayna pun menyusun semua barang-barang Putri ke dalam tas, untuk di bawa pulang.


"Sudah semua?" tanya Papa Satria yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Putri.


"Sudah, Pa."


"Ayo," ajak Papa Satria. Pria paruh baya itu pun menyuruh sang putri untuk duduk di kursi roda, dan Papa Satria pun mendorong kursi roda tersebut.


Bara mendekati sang mama untuk mengambil tas barang bawaan Putri.


"Mama kenapa larang aku untuk mengawasi Kakak sih?" bisik Bara dengan kesal.


"Kamu itu lucu deh, mau mengawasi Putri kok bilang-bilang. Seharusnya kamu diam-diam aja," jawab Mama Nayna sambil terkekeh.


"Tunggu, jangan bilang kalau Papa sudah mengutus orang untuk mengawasi Putri?" tanya Bara.


"Hmm, kamu macem gak tau Papa kamu aja," kekeh Mama Nayna. "Sama posesifnya dengan kamu," sambung wanita paruh baya itu lagi sambil tertawa.


Sudut bibir Bara pun tertarik ke atas, pria tampan itu pun merasa lega, karena ternyata sang kakak berada di pengawasan yang lebih tepat.


"Loh, Putri sudah bisa pulang, ya," tanya Mama Kesya yang berselisih jalan dengan Mama Nayna dan Bara.


"Iya, tadi saya mau pamit sama kamu, Key, tapi kamu-nya gak ada di kamar," ujar Mama Nayna.


"Iya, Mbak. Aku baru beli buah untuk Arash di depan. Kalau begitu, nanti berkabar lagi ya, Mbak."


"Iya, nanti kita bikin acara makan malam bareng ya. Kayaknya seru deh lihatin anak-anak kamu yang kembar," kekeh Mama Nayna.


"Pasti. Nanti pas Mbak balik lagi ke sini, kita makan malam bareng ya," ujar Mama Kesya.


"Aku tunggu undangannya."


Mama Nayna dan Mama Kesya pun berpisah, yang mana Mama Kesya pun berjalan menuju kamar inap sang putra.


"Maaf ya, Mama lama," ujar Mama Kesya sambil tersenyum.


"Iya, Ma. Ah ya, tadi Tante Nayna ke sini, mau pamitan, katanya putri sudah bisa pulang."


"Iya, tadi ada ketemu kok di depan rumah sakit," jawab Mama Kesya.


"Hmm, Arash, kamu baik-baik ya kalau ketemu sama Putri, kalau bisa kamu tolong lihat-lihatin dia," pesan Mama Kesya.


"Kenapa Arash?"

__ADS_1


__ADS_2