
Abash bangkit dari tempat tidur, pria itu pun memilih untuk mencari udara segar di balkon apartemennya. Abash membiarkan rambutnya tertiup oleh angin yang berhembus, dia tidak peduli dengan rasa dingin yang menyentuh kulitnya, sehingga membuat bulu-bulu kuduknya berdiri.
"Haah, Sifa lagi ngapain ya?" lirih Abash sambil menatap langit malam yang terlihat cerah, di mana bintang-bintang bertebaran di langit menghiasi gelapnya malam.
Seperti perasaannya saat ini, di mana dia bahagia karena telah mengisi kekosongan di hatinya.
"Hmm, apa sebaiknya aku menemani Sifa ya? Aku takut kalau dia merindukan aku, sehingga membuatnya tidak fokus dalam belajar," lirih Abash.
"Tapi, apa alasan aku untuk menemuinya semalam ini?" tanyanya lagi entah kepada siapa.
"Hmm, kalau menunggu dia yang mengirimkan pesan, sudah bisa aku pastikan jika Sifa tidak akan mengirimkan pesan kepadaku. Secara gadis itu pasti malu untuk mengatakannya," ujar Abash sambil tersenyum malu di saat mengingat bagaimana senyum malu-malu sang kekasih.
"Ah ya, sebaiknya aku mengantarkan bubuk coklat untuk Sifa, agar dia bisa rileks saat belajar," ujar Abash sambil tersenyum lebar.
Pria itu pun bergegas masuk ke dalam apartemen dan menuju dapur. Dia mencari bubuk coklat yang memang selalu tersedia di dapurnya. Biasanya, jika dia sedang lembur, maka Abash akan membuat minuman coklat hangat untuk mengusir rasa kantuknya.
"Nah, ketemu," lirih Abash dengan tersenyum lebar. Pria itu pun bergegas keluar dari apartemen menuju apartemen Sifa, untuk memberikan bubuk coklat kepada sang pujaan hati.
Padahal dia sangat merindukan sang kekasih saat ini. Sehingga mencari-cari alasan agar bisa bertemu di larut malam beginni.
Abash menatap toples kaca yang ada di tangannya saat ini, di mana toples itu berisi bubuk coklat miliknya.
"Sifa pasti senang karena kehadiran aku. Jadi dia tidak perlu merindukan aku lagi," lirihnya lagi dengan senyum yang lebar.
Di tempat lain, Sifa baru saja menghabiskan saladnya, gadis itu pun kembali fokus kepada buku-buku yang ada di hadapannya.
"Hmm, perbedaan buku yang di berikan oleh Pak Abash dan Mas Bimo sungguh sangat jauh berbeda. Buku dari Pak Abash ini lebih lengkap dan sangat bagus sekali. Semoga aja aku bisa berhasil bergabung di tim Kobra dan mendapatkan beasiswa ke luar negri," lirih Sifa sambil membandingkan dua buku yang ada di hadapannya saat ini.
Saat Sifa sedang fokus belajar, tiba-tiba saja gadis itu mendengar suara bel yang berbunyi.
"Siapa yang malam-malam begini datang?" lirih Sifa saat mendengar bel apartemennya berbunyi.
Ting .. Tong ...
Terdengar kembali suara bel yang berbunyi, sehingga membuat Sifa pun bergegas berdiri untuk membuka pintu.
Sifa melihat siapa orang yang ada di balik pintu, sehingga dia sedikit terkejut dengan keberadaan sang bos dengan tersenyum lebar ke arah kamera.
"Ngapain Pak Abash ke sini?" lirih Sifa dengan kening mengkerut.
__ADS_1
Tak ingin membuat sang bos menunggu lama, gadis itu pun bergegas membuka pintu apartemennya.
"Kejutan," ujar Abash sambil menunjukkan sebuah toples berisi bubuk coklat yang ada di tangannya.
"Kejutan? Apa itu?" tanya Sifa masih dengan wajah bingungnya.
"Ini, aku bawain kamu bubuk coklat, supaya kamu semangat belajarnya," ujar Abash dan langsung masuk ke dalam apartemen Sifa.
"Bubuk coklat? Untuk apa?" lirih Sifa dan memandang ke arah sang bos yang sudah berjalan menuju dapur.
Sifa pun menghela napasnya pelan dan mengikuti Abash yang sudah berada di dapur.
"Bapak mau ngapain?" tanya Sifa bingung.
"Saya mau buatin kamu coklat hangat. Kamu mau kan?" ujar Abash yang sudah sibuk memanasi air dengan teko pemanas listrik.
"Oh, saya bisa buat sendiri kok, pak. Sini, biar saya aja," ujarr Sifa ingin mengambil mug yang ada di tangan Abash.
Abash pun langsung mengangkat tinggi-tinggi mug tersebut menjauh dari Sifa.
"Kamu duduk sana aja, belajar yang rajin, biar aku yang buatkan coklat hangatnya," titah Abash.
Sifa pun sedikit bingung dengan perlakuan manis sang bos, akan tetapi gadis itu merasa ada sesuatu yang dia lupakan saat ini, tapi apa ya?
Dengan perasaan bingung, Sifa pun menuruti perintah sang bos sambil menggaruk kepalanya.
"Kenapa Pak Arash bersikap semanis itu, ya? Apa yang terjadi sama dia?"lirih Sifa pelan dengan pikiran yang bingung.
Sifa pun mendudukkan tubuhnya di sofa, gadis itu pun meraih salah satu buku dan mencoba untuk fokus membaca buku itu lagi.
"Ssst, sepertinya aku melupakan sesuatu. Tapi apa ya?" lirihnya sambil berpikir dengan keras.
Tak berapa lama, Abash pun kembali dengan membawa dua cangkir coklat hangat untuk Sifa.
"Ini," ujar Abash sambil mengulurkan satu mug coklat hangat kepada Sifa.
"Terima kasih, Pak," cicit Sifa dan meminum coklat hangat itu dengan perlahan.
Abash mendudukkan tubuhnya di sofa yang lain, pria itu pun menghela napasnya dengan pelan dan sedikit panjang.
__ADS_1
"Haaah, ternyata begini ya rasanya punya pacar," ujar Abash sambil tersenyum melihat ke arah Sifa.
Buuffftt ....
Sifa pun spontan menyemburkan coklat hangat yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
"Kamu gak papa?" ujar Abash dengan khawatir dan langsung menarik tisu yang ada di atas meja.
Pria itu pun langsung mendekat ke arah Sifa dan mengusap sudut bibir sang kekasih dengan lembut.
"Pacar?" lirihnya sangat pelan sekali, bisa di katakan jika gadis itu seperti mengeluarkan hembusan napasnya.
"Minumnya pelan-pelan, sayang," ujar Abash dengan lembut.
"Sa-sayang?" batin Sifa yang semakin merasa bingung.
"Tunggu, sepertinya aku baru saja melupakan sesuatu," batinnya Sifa lagi sambil memandang ke arah Abash.
"Sudah bersih," lirih Abash dan membuang tisu yang sudah ternoda oleh coklat ke tempat sampah yang tak jauh darinya.
Abash pun meraih anak rambut Sifa yang terurai di pipi dan membawanya ke belakang telingat gadis itu.
Gleek ...
Sifa pun menelan ludahnya dengan gugup, detak jantungnya semakin cepat berpacu di saat mendapatkan perlakuan semanis ini dari sang bos.
"Kamu senang kan aku ke sini," ujar Abassh.
"Hah?"
"Aku tau, kamu pasti merindukan aku kan?" kekeh Abash pelan. "Secara kita baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi sepasang kekasih," ujar pria itu dengan senyum yang lebar sambil memainkan rambut Sifa.
"Ke-kekasih?" tanya Sifa. "Ja-jadi maksud Bapak? Kita udah jadian?" tanya Sifa dengan terkejut.
Abah mengerutkan keningnya di saat mendapati keterkejutan sang kekasih.
"Sifa, jangan bilang kalau kamu lupa, jika kita sudah resmi jadian," ujar Abash yang langsung di sambut ringisan tawa dari Sifa.
"Ya ampun, SIfa ..." lirih Abash sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu lupa kalau kita udah jadian? Baru juga beberpa jam yang lalu, Sifa," ujar Abash dengan nada merajuk.
"I-itu, saya terlalu fokus dengan ujian nanti, Pak. Makanya saya melupakan hal tersebut," ujar Sifa sambi meringis, di saat melihat tatapan merajuk dan sang kekasih.