Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 272 - Pernyataan Arash


__ADS_3

"Put, tunggu aku." Arash pun menghentikan langkah Putri yang sudah berlalu melewati mobilnya.


Putri berbalik dan menatap Arash masih dengan perasaan kesal.


"Aku antar pulang, ya?" bujuk Arash.


"Gak usah, aku bisa pulang sendiri," ketus Putri menolak tawaran Arash.


"Ini di villa aku yang ada di puncak. Pastinya kamu akan kesulitan untuk mendapatkan mobil trasnportasi. Aku antar kamu pulang, lagi pula kamu itu tanggung jawab aku sekarang," ujar Arash dan menggenggam tangan Putri dengan hangat.


"Ayo," ajaknya sambil menarik tangan Putri dengan lembut.


Ingin rasanya Putri menghentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Arash, tetapi gadis itu merasa terlalu berat untuk melakukan hal tersebut. Lagi pula, ini terasa sangat nyaman.


Putri pun mengikuti Arash yang sudah berjalan di depannya, kemudian pria itu membukakan pintu mobil untuknya dan menyuruh Putri untuk masuk ke dalam.


"Hati-hati." Arash pun meletakkan tangannya di atas kepala Putri, agar kepala gadis itu tidak terbentur oleh pinggiran pintu mobil.


Apakah Putri tersentuh?


Tidak, karena dia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu.


Putri terkejut di saat Arash mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil, sehingga membuat gadis itu harus menahan napasnya.


Arash tersenyum dengan begitu manisnya, pria itu pun memasangkan seat bel ke tempat duduk Putri, kemudian dia membelai pipi gadis itu dengan lembut.


"Maafin aku, ya?" bisik Arash dengan suaranya yang terdengar sangar merdu dan?


Seksiii ...


Putri mengerjapkan dua kali matanya, gadis itu masih menahan napas karena merasa gugup dengan apa yang Arash lakukan secara tiba-tiba saat ini.


"Aku anggap, diam kamu adalah sebagai jawaban 'iya'," ujar Arash dengan senyuman yang terukir begitu indah di wajahnya.


"Apa? kenapa bisa begitu? Siapa bilang aku sudah memaafkan dia?" batin Putri berteriak, tetapi bibir gadis itu masih terkunci dengan rapat.


Arash mendaratkan sebuah kecupan di kening Putri, sehingga membuat mata gadis itu pun terbelalak dengan sempurna.


"Ka-kamu?" pekik Putri dengan suara yang bergetar.


"Apa kamu berharap aku mencium kamu di bibir?" tanya Arash dengan senyuman nakalnya.


"Dasar mesum, menyingkir dari hadapanku," ketus Putri dan menatap Arash dengan tajam.

__ADS_1


"Baiklah, tuan Putri." Arash pun mengusap sekali lagi pipi Putri dengan lembut, sebelum pria itu menegakkan tubuhnya dan menutup pintu mobil.


"Apa-apaan itu? Kenapa dia menciumku di kening?" gumam Putri dengan satu tangan yang memegangi kening, dan satu tangannya lagi memegangi dada.


"Jadi kamu harap Arash mencium kamu di bibir?" terdengar suara lain dari hati Putri, membuat gadis itu menoleh ke arah sekelilingnya.


"Aku sendirian di mobil, lalu suara siapa tadi?" gumamnya pelan.


"Ada apa?" tanya Arash yang melihat wajah bingung Putri, di saat pria itu baru saja masuk ke dalam mobil.


"Tidak, tidak ada," jawab Putri dan mengalihkan wajahnya dari Arash.


"Aku benar-benar sudah gila. Kenapa aku berharap dia menciumku di bibir tadi?" gerutu Putri di dalam hati.


Sudah tiga puluh menit Arash dan Putri berada di jalanan, akan tetapi tak ada satu orang pun di antara mereka yang membuka suara. Putri masih dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Arash sengaja memberikan waktu untuk Putri berdiam diri. Pria itu tahu, yang di butuhkan oleh Putri saat ini adalah waktu privasinya untuk berpikir sendiri dan meluapkan kekesalannya. Maka dari itu, Arash tidak berani mengajak gadis itu untuk mengobrol.


"Boleh aku tanya satu hal?"


Setelah sekian lama berdiam, akhirnya Putri membuka mulut dan mengeluarkan suara emasnya.


"Ya, kamu mau tanya apa?" tanya Arash yang menoleh ke arah Putri sekilas.


Tak ada jawaban lagi dari Putri, terlihat gadis itu seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk di pertanyakan kepada Arash.


"Boleh aku tau, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku?" tanya Putri. "Bukannya kamu sebelumnya mengatakan jika kamu mencintai Sifa? Dan berharap jika dia menjadi pendamping hidup kamu?"


Arash tersenyum, dia sudah menduga apa yang akan di tanyakan oleh Putri.


Pria itu tidak langsung menjawab, dia melihat situasi kondisi jalanan yang cocok untuk berhenti.


"Rash?" panggil Putri karena tidak juga mendapatkan jawaban dari pria itu.


Tak berapa lama Arash pun menepikan mobilnya, sehingga membuat Putri mengernyitkan kening.


"Kenapa berhenti?" tanya Putri bingung.


Arash menarik rem tangan, memastikan jika mobil mereka tidak akan bergerak di saat sedang berhenti.


"Put," panggil Arash.


Kali ini suara pria itu terdengar serius, bahkan tatapan matanya pun terlihat menandakan jika dia tidak sedang bercanda saat ini. Arah mengulurkan tangan dan mengambil tangan Putri yang berada di atas pangkuan gadis itu. Dia menggenggam tangan Putri yang terasa dingin dan kecil, dengan tangannya yang besar dan hangat.


"Aku adalah pria yang baru pertama kali jatuh cinta. Aku selama ini selalu berpikir untuk jatuh cinta kepada gadis sederhana seperti Sifa. Tapi, bagaimana aku bisa bertemu dengan gadis seperti Sifa, jika kalangan aku saja berasal dari orang yang berada?" Arash pun menjeda ucapannya. Terlihat pria itu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya.

__ADS_1


"Kamu tau, di saat aku mengenal Sifa, aku berpikir itu adalah cinta. Karena akhirnya aku menemukan gadis yang seperti aku mau. Tapi saat aku mengenal kamu," Arash mengusap punggung tangan Putri yang dingin. Menghangatkan tangan kecil itu dengan telapak tangannya yang besar.


"Aku merasa ada sesuatu yang berbeda, di mana aku memiliki keinginan untuk melindungi kamu. Padahal aku sudah tahu, jika kamu sudah di lindungi oleh Abash dan juga Awal. Tapi, sebenarnya aku merasa keberatan dengan keberadaan mereka berdua. Di mana aku ingin melindungi kamu dengan pengawasan aku sendiri. Untuk itu, aku selalu memberikan waktuku untuk menjemput dan mengantarkan kamu kerja. Aku ingin memastikan sendiri, jika kamu baik-baik saja. Aku melakukan itu, bukan karena aku tidak percaya dengan Awal, tidak. Aku sangat percaya sama dia, karena dia adalah orang yang dapat di percaya. Tapi!"


Araash menggantung ucapannya. Pria itu pun membawa tangan Putri ke dada, membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang  berdebar dengan sangat cepat.


"Tapi, aku ingin melindungi kamu sendiri, Put. Bahkan aku merasa cemburu di saat kamu pergi ke Bandung bersama Abash. Aku berharap itu adalah aku, tapi kondisi aku saat itu tidak baik-baik saja. Aku sungguh kesal, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Putri mendengar semua ucapan Arash dengan seksama, tak ada satu patah kata pun yang ingin gadis itu lewatkan.


"Di saat aku mengetahui Abash dan Sifa memiliki hubungan spesial. Saat itu yang aku pikirkan bukan perasaan aku, tetapi perasaan kamu."


Putri mengernyitkan keningnya, gadis  itu tidak mengerti dengan apa yang baru saja Arash katakan. Kenapa pria itu harus mengkhawatirkan dirinya?


"Aku mengkhawatirkan perasaan kamu akan terluka, di saat melihat Abash dan Sifa berciuman."


"Ke-kenapa mengkhawatirkan aku? Aku tidak —" Arash menutup mulut Putri dengan jari telunjuknya.


"Karena aku pikir kamu mencintai Abash, tapi ternyata kamu mencintai aku," ujar Arash dengan tersenyum manis.


"Si-siapa yang mencintai ka—hmmpp.." Putri kembali terdiam, di saat Arash kembali meletakkan jari telunjuk pria itu di bibirnya.


"Karena kita saling mencintai," bisik Arash.


"Kamu tau, aku menyadari perasaan aku ke kamu, di saat kamu pergi begitu saja dari rumah sakit. Aku sudah seperti orang gila sore itu, mencari keberadaan kamu hingga meminta Abash untuk melacak keberadaan kamu," kekeh Arash.


"Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Put," lirih Arash yang sudah kembali menatap Putri dengan tatapan sendunya.


Pria itu pun perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Putri, di mana terlihat jika gadis itu tidak memberikan penolakan dengan apa yang Arash lakukan saat ini. Arash menyingkirkan jarinya yang berada di bibir Putri, di selusupkan jari-jari panjangnya itu ke leher dan anak rambut Putri di saat wajahnya semakin mendekat ke wajah Putri.


Arash menutup matanya, di saat melihat mata Putri yang juga terlihat mulai tertutup.


"Hm?"


Arash kembali membuka mata, di saat merasakan Putri menahan dadanya, sehingga membuat dirinya tidak bisa mendekatkan diri ke pada Putri.


"Belum muhrim," cicit Putri dengan wajah yang merona.


Arash tersenyum, pria itu pun mengusap pipi Putri dengan ibu jarinya.


"Besok pagi ke KUA, yuk?" ajak Arash.


Putri mengerjapkan mata, haruskah dia menjawab 'ya?'

__ADS_1


__ADS_2