Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 113 - Gugup


__ADS_3

"Apa Anda yang bernama Arash?" tanya Papa Satria kepada pria yang sedang duduk bersandar di atas brankar.


"Iya. Saya Arash," jawab Arash dengan sopan.


"Perkenalkan, Saya Satria Agung Kusuma," ujar Papa Satria sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Arash," jawabnya dengan menerima uluran tangan Papa Satria.


"Dan ini putra sulung saya, Mubarak Thoriq Kusuma," ujar Papa Satria memperkenalkan putranya.


"Bara," ujar Pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Arash.


"Arash," balasnya sambil menerima uluran tangan Bara.


"Jadi begini, kedatangan saya ke sini adalah untuk mempertanyakan apa yang terjadi saat di dalam lift. Karena menurut suster yang memeriksa putri saya, dia mengatakan jika kondisi pakaian Putri sudah tidak sempurna, di mana pengait br*-nya sudah terlepas," ujar Papa Satria.


"Jadi, bisa Nak Satria ceritakan apa yang terjadi saat di dalam lift?" tanya Papa Satria.


Arash tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Ya, saya akan ceritakan semuanya kepada Anda, Tuan. Tapi, sebelumnya saya minta maaf jika ada hal yang akan membuat Anda marah karena perlakuan saya," ujar Arash dengan tenang.


"Ka---," Bara sudah memajukan langkahnya dengan wajah penuh amarah, hingga Papa Satria menahan tubuh pria itu dengan cepat.


"Tenanglah, kita dengarkan dulu pembelaannya," ujar Papa Satria kepada sang putra.


Bara mendengus kesal dan menatap tajam ke arah Arash.


"Silahkan Nak Satria ceritakan," ujar Papa Satria.


"Jadi begini, saat di dalam lift----," Arash pun menceritakan apa yang terjadi di dalam lift, tanpa satu hal pun ia kurangi atau pun ia tambah-tambahi, termasuk di mana dia memberikan napas buatan untuk Putri.


Bara yang mendengar cerita Arash pun langsung mendengus kesal, selama ini pria itu selalu menjaga sang kakak agar tak ada satu pria pun yang berani menyentuh kakaknya.


Pernah sekali, saat Putri duduk di bangku sekolah menengah awal, ada seorang pria yang menyatakan cintanya kepada Putri, saat itu Putri juga menyukai pria itu dan mereka pun jadian. Karena merasa senang pernyataan cintanya di terima oleh Putri, pria itu pun mendaratkan sebuah kecupan di pipi gadis itu. Namun, detik selanjutnya sebuah bogem mentah mendarat di wajah pacar beberapa detik Putri.


Ya, siapa lagi yang punya ulah, jika bukan Bara. Bocah yang masih menggunakan seragam putih biru itu pun langsung menatap tajam kepada pria yang sudah berani-beraninya mencium sang kakak. Hingga saat itu, tak ada satu pria pun yang berani mendekati Putri, karena Bara akan selalu mengawasi gadis itu sampai detik ini juga.


"Baiklah, saya akan percaya sama nak Arash, tapi, jika terbukti Nak Arash melakukan hal yang tidak senonoh dengan putri saya, maka saya akan menuntun Anda," ujar Papa Satria.


Sreeet ...


Tirai pembatas pun tiba-tiba terbuka, sehingga menampilkan wajah Putri yang sedang menatap mereka semua dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Papa?" lirih Putri.


"Sayang, kamu sudah bangun?" ujar Papa Satria dengan tersenyum lembut.


"Haah, syukurlah kamu sudah sadar, Kak," ujar Bara dan langsung berlari memeluk sang kakak.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Putri.


Bara merelai pelukan mereka. "Kenapa?" tanya Bara dengan kesal.


"Kak, Kami khawatir dengan keadaan Mbak. Trus, Kakak bilang kenapa kami di sini?" tanya Bara kesal.


"Hah? Oh, maksud aku gak gitu, Bar. Tapi ... Bagaimana kalian bisa ada di sini? Siapa yang memberi tahu jika aku masuk rumah sakit?" tanya Putri mencoba menenangkan sang adik.


"Om Martin yang mengatakannya," ujar Papa Satria.


"Ooohh ..." lirih Putri.


Gadis itu kembali menoleh ke arah sang adik yang sedang berwajah masam. "Hei, kok cemberut?" tanya Putri dengan tersenyum.


"Haah, rasanya aku tidak bisa bernapas saat mendengar kabar, kalau Kakak terjebak di dalam lift dan masuk rumah sakit," lirih Bara dan mendudukkan dirinya di atas brankar.


"Bara," pekik Putri dengan pelan di saat mendengar deritan besi, saat pria itu naik ke atas tempat tidur. "Kalau tempat tidurnya patah gimana?" tanya Putri dengan wajah paniknya.


Arash yang memperhatikan interaksi antara Putri dan adaiknya pun ikut tersenyum, siapa yang menyangka jika gadis pemberani itu memiliki ikatan keluarga yang sangat hangat.


"Baiklah Nak Arash, karena putri saya sudah sadar, jadi saya akan melihat keadaan putri saya dulu. Sekali lagi terima kasihi atas bantuan, Nak Arash," ujar Papa Satria.


"Ah, iya Paka, sudah kewajiban saya untuk salilng membantu," jawab Arash denga tersenyum.


Putri yang melihat senyuman di bibir Arash pun, seketika teringat akan ciuman yang di berikan oleh pria itu saat di dalam lift.


"Tidak," lirih Putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa? Apa Kakak pusing?" tanya Bara panik.


"Hah? Oh, tidak. Aku tidak apa-apa," ujar Putri.


"Sebaiknya aku memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Kakak." Bara pun turun dari tempat tidur dan bersiap untuk memanggil dokter.


Putri dengan cepat menahan lengan sang adik, sehingga membuat pria itu pun menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah sang kakak.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bara.


"Jangan panggil dokter, aku gak papa kok," ujar Putri memohon.


"Hmm, tenang aja. Kakak gak akan di suntik kok," ujar Bara dan tetap memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang kakak.


Arash mendengus pelan di saat mendengar jika gadis pemberani yang dia kenal itu, ternyaa takut dengan sebuah jarum.


"Nak Arash, kami tutup lagi ya tirainya," ujar Papa Satria.


"Ah ya, Pak. Silahkan," uajr Arash dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Putri memberanikan diri untuk melirik ke arah Arash, di mana ternyata pria itu juga sedang melirik ke arahnya.


"Kenapa aku jadi gugup begini?" batin Putri sambil mengalihkan pandangannya di saat matanya beradu pandang dengan tatapan milik Arash.


"Arash, apa yang terjadai?"


Terdengar suara soerang wanita dengan lembutnya menyapa pria yang saat ini membuat Putri menjadi gugup.


"Hanya kecelakaan kecil," jawab Arash.


"Ck, kamu ini, selalu aja bikin aku khawatir," ujar gadis itu dan mereka pun terkekeh bersama.


"Sini aku periksa," ujar gadis itu lagi.


"Aku sudah di periksa oleh dokter, Naya. Dan aku di nyatakan baik-baik aja," ujar Arash.


"Aku gak peduli, lagi pula aku kan juga dokter. Jadi, tentu saja aku juga mau memeriksa kondisi orang yang aku sayangi," ujar gadis yang bernama Naya.


Putri yang mendengar percakapan antara Arash dan Naya pun, hanya bisa terdiam. "Apa gadis itu kekasihnya?" batin Putri bertanya.


*


Sifa bernapas dengan lega, akhirnya judul skripsi yang akan dia jadikan bahan kelulusannya pun, akhirnya di terima oleh dosen.


"Selamat ya, Sifa. Aku ikut senang judul kamu di terima," ujar Amel.


"Kamu juga, selamat ya. Hmm, padahal aku berharap kita bisa berada di tempat magang yang sama," ujar Sifa dengan cemberut.


"Aku juga," kekeh Amel. "Hmm, kamu doain aja ya, semoga aku bisa magang di tempat kamu magang" ujar Amel.

__ADS_1


"Iya, semoga aja ya."


__ADS_2