Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 267 - Ikan Panggang


__ADS_3

Putri benar-benar tersentuh dengan apa yang Arash lakukan kepadanya. Terlihat jika pria itu bersungguh-sungguh menunjukkan perhatian dan perasaannya kepada Putri. Walaupun hanya dengan cara yang sederhana dan berbeda dengan apa yang Soni lakukan saat melamarnya saat itu, tetapi ini adalah pengalaman pertama yang sangat indah bagi Putri.


"Kamu mau ikan bakarnya di banyakin bumbu?" tanya Arash saat mereka sudah tiba di tempat pemanggangan.


"Kamu yang panggang?" tanya Putri balik tanpa ingin menjawab pertanyaan Arash.


"Huum, di sini hanya ada kita berdua. Kamu dan aku. Jadi, apa kamu yang ingin membakarnya?" tawar Arash yang langsung di jawab gelengan oleh Putri.


"Tidak, aku tidak mau."


Ya, Putri memang suka memasak. Tapi, untuk berhadapan dengan bara api, gadis itu langsung mundur karena tak ingin terkena bara api dan juga tubuh yang berbau asap.


"Baiklah, kamu duduk saja di sini dan menunggu sampai aku selesai memasak," titah Arash sambil membimbing Putri untuk duduk di kursi yang tersedia di sana.


Di dekat Putri, ada meja yang terdapat berbagai macam bahan makanan. Dari yang mentah sampai yang sudah masak sekali pun.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Putri yang melihat jika semua menu untuk makan malam mereka sudah tersedia. Termasuk sambal kecap yang akan menjadi teman makan mereka malam ini.


"Apa ya? Semuanya sudah selesai di kerjakan," ujar Arash yang juga merasa bingung hal apa yang bisa gadis itu kerjakan untuk membantunya.


"Cepat juga dia kerja? Atau aku yang terlalu lama tertidur?" batin Putri sambil memperhatikan menu di atas meja.

__ADS_1


"Emm, bagaimana jika kamu membantu aku mengolesi ikan-ikan ini dengan bumbu?" tawar Arash.


"Tidak, aku tidak mau," tolak Putri langsung.


"Kenapa?" tanya Arash yang mana rencananya tidak seperti apa yang pria itu bayangkan.


Tadi, Arash sudah membayangkan bagaimana jika dirinya memanggang ikan bersama dengan Putri. Pria itu yang mengipas-ngipasi bara, sedangkan Putri mengolesi bumbu di atas ikannya. Tapi kenyatannya, gadis itu malah menolak tawarannya.


"Tidak ada, hanya tidak mau saja," jawab Putri yang tidak mungkin dia jujur kan, jika dia tidak ingin baju dan seluruh tubuhnya bau asap.


"Hmm, baiklah kalau begitu," lirih Arash dengan kecewa.


Putri pun melihat ada jagung, cabai paprika, tomat cherry, dan juga terong ungu bulat di dalam keranjang buah. Dia juga melihat beberapa tusuk besi yang biasa di gunakan untuk memanggang daging atau pun juga sayur-sayuran yang dia lihat di dalam keranjang tadi.


"Oh, rencananya aku ingin membakarnya," jawab Arash.


"Oke, baiklah. Aku akan membuat mereka menjadi tusuk sate."


Putri mengambil pisau dan memotong jagung menjadi ukuran lebih pendek. Setelah memotong jagung, gadis itu mengambil paprika dan memotongnya berukuran persegi panjang. Tak lupa Putri membuang biji-biji dari cabai paprika tersebut. Setelah urusan potong memotong selesai, dia pun mulai menancapkan satu persatu sayur ke tusuk sate, yang mana nantinya akan di panggang oleh Arash.


"Hati-hati, Put. Besinya itu tajam," ujar Arash merasa khawatir jika Putri akan terluka.

__ADS_1


"Iya, aku tahu, akhh ..." Baru saja Arash memperingati gadis itu, beberapa detik selanjutnya tangan Putri sudah tergores ujung mata tusuk sate.


Arash bergegas meninggalkan ikan panggangnya untuk melihat keadaan Putri.


"Bukannya sudah aku katakan untuk berhati-hati?" lirih Arash dengan khawatir, pria itu pun mengambil tangan Putri yang berdarah dan menghisapnya.


Tubuh Putri langsung membeku di saat mendapatkan perlakuan yang sangat romantis ini. Bahkan, dia sampai menahan napasnya agar Arash tidak mendengar degup jantung yang sudah menggila saat ini.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Arash setelah mengeluarkan jari Putri dari mulutnya. Pria itu pun membelai pipi Putri dengan lembut, merasa lega jika gadis yang dia cintai itu tidak terluka parah.


Tatapan mata Putri yang saat ini menatap lurus ke arah Arash pun, membuat pria itu juga menatapnya sama.  Hingga hanya keheningan yang menemani mereka berdua saat ini. Entah dorongan setan apa yang membuat Arash mendekatkan wajahnya ke wajah Putri, membuat gadis itu pun refleks menutup matanya.


Putri mulai merasakan jika wajah Arash perlahan semakin mendekat ke arahnya, hingga sebuah aroma yang sedikit mengganggu indera penciumannya pun membuat Putri membuka matanya.


"Rash, ikan panggangnya?" ujar Putri yang mana membuat Arash juga tersadar dengan apa yang terjadi saat ini.


"Astaghfirullah." Arash pun mengusap wajahnya dengan kasar, hampir saja dia terbuju rayuan syaitan yang terkutuk untuk mencicipi bibir Putri yang menggoda.


Berterima kasihlah Arash dengan ikan panggangnya yang sudah gosong.


Arash mengangkat ikan panggang dan menatap iba kepada bagian daging yang sudah menghitam. Di tunjukkannya bagian itu kepada Putri, sehingga membuat gadis itu membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Jadi, apa kita akan makan ikan gosong?" tanya Putri tak percaya.


"Se-sebelah lagi gak gosong kok," jawab Arash sambil menggarukk tengkuknya yang tak gatal.


__ADS_2