Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 396


__ADS_3

"Selamat datang, sayang." Abash membuka tangannya lebar dan tersenyum dengan begitu manisnya menyambut kedatangan sang istri yang baru masuk ke dalam kamar mereka.


Sifa masih menatap Abash dengan tidak percaya. "Mas? Kamu?"


Abash terkekeh pelan, mendekat pada sang istri masih dengan senyuman yang lebar. "Apa kamu tidak ingin memeluk aku, Sayang?"


Sifa masih mengernyitkan keningnya, bahkan wanita itu sampai mengucek matanya sendiri saking tidak percaya akan kehadiran Abash di tempat ini. Dia berpikir, apakah ini karena dia lelah. Atau, karena dirinya yang sedari tadi terus memikirkan Abash, sehingga membuat berhalusinasi tentang suaminya?


“Kenapa?” Abash tersenyum geli melihat wajah Sifa yang masih melongo seperti itu. Lucu di matanya dan ingin sekali dia memeluk dan mencium istrinya.


"Ini beneran kamu, Mas?" tanya Sifa yang sudah mengucek matanya berkali-kali. Akan tetapi, sosok pria yang dia rindui itu masih tetap berada di hadapannya dan tidak juga menghilang.


"Iya, sayang. Ini aku." Abash pun berjalan mendekat ke arah sang istri, masih dengan tangan yang terbentang lebar.


"Kamu gak mau peluk aku?" pinta Abash sekali lagi.


Barulah Sifa percaya setelah melihat Abash dengan seksama. "Mas, ini beneran kamu? Ini kamu, Mas?" tanya Sifa dan menyentuh pipi sang suami serta menepuknya dengan cukup keras.


"Iya, Sayang, ini aku."


Sifa mengerucutkan bibirnya, mata wanita itu bahkan sudah berlinangan air mata dan siap terjatuh membasahi pipinya.


"Hikks, kamu nyebelin, Mas, kenapa kamu gak bilang kalau kamu nyusul ke sini?" tanya Sifa yang sudah memeluk tubuh sang suami.


Abash pun membalas pelukan Sifa dan mengusap punggung sang istri lembut dengan pergerakan naik turun.


"Maaf ya, sudah membuat kamu kesal sama aku," bisik Abash merasa bersalah, tapi dia senang karena sekarang ini telah bertemu dan memeluk istrinya.


Tangis Sifa semakin kencang tatkala Abash mengusap kepalanya.


"Hiks ... aku pikir kamu marah sama aku, Mas, karena aku harus pergi dinas ke Bali, padahal aku sudah janji dengan kamu, Mas," rengek Sifa sambil mengusap wajahnya yang basah.


Abash semakin merasa bersalah karena Sifa tidak berhenti menangis.


"Iya, Maaf ya. Sebenarnya ini semua rencana aku dan Papa. Papa sengaja menghubungi Kak Farhan dan meminta izin untuk kamu agar bisa pergi berbulan madu dengan aku, Sayang. Makanya, Kak Farhan mengirim kamu ke Bali," jelas Abash.


"Jadi, Pak Farhan juga sekongkol sama kamu dan Papa, Mas?" tanya Sifa menatap Abash yang di jawab anggukan kepala olehnya.


"Iya, Sayang. Jika Kak Farhan tidak ikut bersekongkol dengan kami, mana mungkin kamu bisa berada di sini." Abash tersenyum dan menggerakkan alisnya naik dan turun dengan cepat.


"Mas, kamu benar-benar bikin kesel tau gak, sih?" ujar Sifa sambil mengusap air matanya dan mencubit perut rata sang suami.


“Aww, sakit, Sayang. Aduh!” rintih Abash mengusap perutnya yang sakit akibat cubitan sang istri.


“Habisnya kamu nyebelin, Mas! Aku kan jadi sedih, jadi terharu juga karena kamu ternyata ada di sini.”


Abash tertawa dan mengusap kepala Sifa sekali lagi.


"Aku senang jika kamu terharu, sayang. Dan itu artinya, aku berhasil membuat kejutan untuk kamu, kan?" Senyum Abash tidak hilang dari bibirnya.


"Iya, Mas. Terima kasih banyak." Sifa melabuhkan kembali kepalanya di dada bidang sang suami. Mereka saling berpelukan melepas rindu, padahal belum ada satu hari mereka berpisah, tapi rasanya sudah lama mereka tidak bersama.


Kruuukk …


Abash melerai pelukannya, di saat mendengar perut sang istri yang berbunyi nyaring.


"Kamu lapar?" tanya Abash memastikan, menatap istrinya yang menunduk malu dengan muka yang memerah. Apa lagi hidungnya yang tampak lucu menarik ke dalam ingus yang mungkin saja akan meluncur ke bawah.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku kebanyakan mikirin kamu, makanya aku lapar. Aku belum sempat makan," cicit Sifa dengan wajah merona.


"Hmm, baiklah. Mau makan di dalam kamar atau sekalian jalan-jalan?" tawar Abash.


"Sekalian jalan-jalan boleh, Mas?" pinta Sifa senang dan penuh harap.


"Tentu boleh, dong. Ya sudah kalau gitu, sekarang kamu ganti baju, ya. Masa iya pergi jalan-jalan ke pantai pakai baju kerja?" kekeh Abash tertawa kecil sambil mencubit dagu istrinya.


"Iya, Mas. Kalau begitu aku ganti baju dulu, ya!"


Sifa pun pergi membuka kopernya, kemudian mengambil baju santai yang Abash masukkan ke dalam koper saat pria itu membantu dirinya mengemas barang tadi siang.


Sifa teringat sesuatu, melirik suaminya yang duduk di tepi tempat tidur mewah yang ada di dalam kamar itu. "Pantesan aja kamu masukin baju ini, Mas. Ternyata ada maksud tertentu," kekeh Sifa sambil memperlihatkan baju yang ada di tangannya.


Abash hanya tersenyum menanggapi ucapan sang istri. Pria itu pun membiarkan Sifa masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, sedangkan dirinya akan mengganti kemeja yang dia pakai saat ini dengan kemeja pantai yang bermotif daun-daun. Tak lupa, celana pancung yang panjangnya di atas lutut pria itu, menambahkan kesan seksi dan keren di pandang mata.


“Jangan lupa dengan kaca mata hitam,” ujar laki-laki itu seraya mengambil kaca mata yang telah dia siapkan untuknya dan untuk Sifa. Abash menatap penampilannya di depan cermin dengan kaca mata yang telah dia pakai menutupi wajahnya.


"Aku sudah siap, Mas," ujar Sifa saat keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu terdiam, merasa takjub dengan penampilan Abash yang terlihat sangat memukau dengan pakaian santainya. Rasanya berbeda sekali dengan Abash yang biasa dia lihat saat di rumah.


Abash tersenyum senang saat melihat Sifa. "Kamu terlihat cantik dengan pakaian itu, sayang," puji Abash.


"Kamu juga, Mas, kamu terlihat seperti bule-bule di pantai," kekeh Sifa.


"Memangnya kamu pernah lihat bule-bule di pantai?" tanya Abash sambil menaikkan alisnya sebelah. Kini serasa tidak rela jika memang benar Sifa telah melihat tubuh bule tanpa pakaian yang sudah tentu telah menodai mata wanita itu.


"Iya, Mas, di tivi-tivi," jawab Sifa yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak.


“Aku kira pernah lihat secara live.”


“Ya, kalau pun lihat live kenapa? Mereka sudah pasti akan kalah dengan suamiku yang tampan nan rupawan ini.” Goda Sifa kini kepada suaminya. Abash menggelengkan kepalanya mendengar pujian Sifa yang mana telah membuatnya semakin cinta dengan wanita ini.


Abash membukakan pintu dan mereka keluar bersamaan dengan tangan Sifa yang menggelayut manja di lengan suaminya.


"Mas, kamu tau gak, aku pikir aku akan membuat Pak Farhan bangkrut," ujar Sifa saat mereka sedang berjalan menuju lift.


"Oh, ya? Kenapa kamu berpikir jika akan membuat Kak Farhan bangkrut?" tanya Abash merasa penasaran menatap wajah Sifa yang kini mengerucutkan bibirnya.


"Iya, habisnya kamar yang bakal aku inapi adalah kamar khusus yang biasanya cuma pejabat tinggi yang tidur di sana. Ya, walaupun aku tidak tahu berapa harga semalam kamar kita, tapi dugaan aku mengatakan jika kamar kita itu sangatlah mahal sekali, Mas. Iya kan?" ujar Sifa dengan pemikirannya.


Abash terkekeh pelan, satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. "Ya, gitu deh. Kamar kita memang mahal. Tapi gak sampai membuat Kak Farhan bangkrut juga kali, Sayang. Masa iya hanya menyewakan kamar mewah untuk kamu, Kak Farhan langsung bangkut? Yang ada-ada aja kamu, Sayang. Kamu lucu, deh," ujar Abash sambil mencubit hidung Sifa dengan gemas hingga sedikit memerah.


"Kan itu perumpamaan aja, Mas. Ungkapan kata yang dilebih-lebihkan. Lagian, wajar aja kan kalau aku terkejut jika Pak Farhan benar-benar memesan kamar untuk aku, dengan kamar semewah itu? Aku kan ngiranya memang ini perjalanan dinas. Mana tau kalau ternyata perjalanan menuntaskan misi.”


Abash lagi-lagi tertawa mendengar celotehan istrinya yang lucu.


"Ya kalau dipikir-pikir, sebenarnya memang gak masuk di akal sih. Wajar aja kalau kamu merasa bingung tadi. Tapi, kamu tidak merasa curiga, kan?" tanya Abash memastikan.


Sifa menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Aku malah gak kepikiran kalau kamu bakal nyusul aku, Mas. Habisnya respon kamu tadi saat aku pergi, terkesan cuek dan dingin tau gak sih, Mas, aku sampai sedih loh." rajuk Sifa.


"Hehe. Iya, aku sengaja begitu, Sayang. Maafin aku, ya?"


"Nyebelin kamu, Mas. Aku akan memaafkan kamu, asalkan kamu mau membelikan aku sesuatu," pinta Sifa dengan tersenyum penuh maksud.


"Kamu mau dibelikan apa?" tanya Abash merasa penasaran.


“Ada deh. Ayo!”

__ADS_1


Tangan Sifa menarik lengan Abash untuk keluar dari hotel tersebut. Mereka melewati manajer yang tadi ditemui Sifa. Wanita itu mendapati manager tersebut menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arahnya. Sifa pun balas mengangguk dan tersenyum kecil.


“Kamu itu mau bawa aku ke mana sih?” tanya Abash sekali lagi dengan penasaran.


Sifa tidak menjawab, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat.


“Belikan aku ini!” tunjuk Sifa pada sebuah kalung yang ada di sebuah gerai asesories.


Abash mengerutkan keningnya. Dia benar-benar merasa gemas dengan sang istri. Dia kira Sifa meminta dibelikan apa, ternyata dia hanya meminta dibelikan kalung yang terbuat dari kerang dan juga minta dibelikan topi pantai yang terbuat dari anyaman rotan yang lucu nan lebar.


“Cuma ini?” tanya Abash. Sifa masih melihat-lihat semua benda yang ada di sana. “Ada lagi yang mau kamu beli, Sayang?" tanya Abash sekali lagi saat melihat mata Sifa terus memindai semua yang ada di sana.


"Mas, tas itu cantik. Aku mau, ya?" pinta Sifa sambil menunjuk ke arah tas berbentuk bulat yang sama terbuat dari anyaman rotan.


Penjual memberikan tas yang diinginkan Sifa dan segera wanita itu mencoba memakainya. “Cantik, nggak, Mas?” tanya Sifa memperlihatkan tas yang dia pakai.


“Cantik.”


Sifa tersenyum senang, tapi segera mengubah wajahnya sebal saat sang suami bukan melihat tas, melainkan dirinya.


“Tasnya, Mas. Bukan aku!” seru wanita itu kesal.


Abash tertawa kecil dan mengomentari tas yang yang dipakai sang istri.


“Cantik, kayak yang punya.”


“Aku mau ini. Boleh kan?”


"Oke. Baiklah." Abash pun menyuruh sang istri untuk memilih tas mana yang dia inginkan andai dia melihat yang lain. Bahkan membelikan dua atau tiga, bahkan membeli gerai ini sekalipun Abash sanggup. Tugas pria itu hanya membayar saja, kan? Itu tugas yang sangat mudah untuk Abash.


"Ada lagi?" tanya Abash memastikan, sebelum mereka keluar dari toko tersebut.


"Emm,” Sifa kembali mengedarkan pandangannya, kemudian dia menggelengkan kepalanya, “gak ada, Mas," jawab Sifa dengan senang.


Sudah lama dia menginginkan tas dengan bentuk seperti yang dia pakai saat ini. Memang, harga tas yang dia pakai saat ini tidak terlalu mahal mengingat ini adalah tas buatan lokal yang unik dan hanya berkisaran dua sampai tiga ratus ribu rupiah. Dulu Sifa orang yang begitu perhitungan untuk mengeluarkan uang. Walaupun gaji yang dia dapat dari perusahaan Abash cukup besar, di bandingkan saat dia masih bekerja sebagai OB, tapi tetap saja untuk mengeluarkan uang sebanyak itu, dia harus berpikir juga dua sampai tiga kali sebelum membelinya.


Uang yang Sifa dapatkan waktu itu untuk membayar kuliahnya. Ya, walaupun Abash sebenarnya menawarkan diri untuk membayar kuliah Sifa, tapi Sifa menolaknya dengan alasan jika pria itu tidak berhak untuk membiayai kehidupan Sifa sebelum menikah. Akan tetapi, setelah dirinya menikah dengan Abash, Sifa pun mulai berani meminta sesuatu kepada sang suami. Barang yang Sifa minta itu pun memang tidak terbilang mahal. Bahkan Abash meminta sang istri untuk meminta apapun kepadanya dan tidak keberatan andai Sifa ingin dibelikan barang-barang mewah.


Sifa adalah Sifa, semewah apapun barangnya, jika dia memang merasa tidak membutuhkannya, maka wanita itu tidak akan meminta untuk dibelikan.


Sifa hanya meminta barang-barang yang memang dia perlukan, seperti panci dan bahan dapur lainnya. Abash sampai bingung, bagaimana cara dirinya meminta kepada sang istri untuk menghabiskan uang belanja yang pria itu berikan. Bahkan, dari uang satu juta yang Abash berikan untuk belanja satu hari, Sifa hanya menggunakan lima puluh ribu saja untuk membeli cabai, dan sembako lainnya di pasar. Sisa uang belanjanya pun Sifa kembalikan kepada sang suami.


Awalnya Abash merasa kesal tapi juga merasa lucu, karena Sifa mengembalikan uang belanja tersebut kepadanya, padahal wanita itu bisa menyimpannya saja, kan. Dan setiap Abash memberikan uang belanja untuk keesokan harinya, Sifa selalu menolak dan mengatakan jika uang belanja yang kemarin masih tersisa banyak. Dan harus di ingat ya, readers, kalau Abash selalu membedakan mana uang belanja dan uang khusus untuk Sifa. Pastinya uang khusus untuk Sifa, selalu Abash tranfers sebesar lima puluh juta seminggu. Dan Abash yakin jika uang itu juga sepertinya belum tersentuh oleh sang istri.


"Mas, topi itu sepertinya cocok untuk kamu," tunjuk Sifa ke arah topi koboi yang di jual di pinggir jalan. Abash melirik ke arah yang Sifa tunjukkan.


"Kamu mau aku pakai itu?" tanya Abash yang di angguki oleh Sifa. Aneh rasanya, tapi melihat senyuman sang istri yang tampak lebar, membuat Abash menyetujui keinginan sang istri.


"Baiklah, aku akan menuruti semua perintah kamu, Sayang." Abash dan Sifa pergi dan membeli topi koboi pilihan sang istri dan langsung mencoba memakainya.


“Gimana?” tanya laki-laki itu setelah mencoba memakainya. Sifa tersenyum dan puas melihat Abash.


Lihat saja, penampilan dan wajah pria itu terlihat semakin tampan dan karena benda itu pula yang membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka, langsung menatap Abash dengan tatapan mendamba. Tiba-tiba saja Sifa merasa tidak suka dengan tatapan dari orang-orang itu. Dia merasa jika banyak yang menatap suaminya dengan lapar, langsung saja Sifa menggandeng tangan sang suami dengan mesra dan mengajaknya pergi dari sana.


"Yuk, Mas, kita lihat-lihat yang lain," ajak Sifa yang saat ini telah melupakan rasa laparnya.


"Benaran mau lihat-lihat yang lain? Apa kita gak makan dulu?" ujar Abash yang kembali mengingatkan jika perut Sifa terasa lapar.

__ADS_1


"Eh, iya mas, kelupaan. hehehe .." kekeh Sifa dengan polosnya.


Abash dan Sifa pun mengganti arah tujuan mereka. Kedua insan itu kembali ke restoran untuk mengisi tenaga dengan full.


__ADS_2