
Putri sedang memasak menu tumis kangkung dan udang goreng tepung untuk Arash. Jangan di tanya siapa yang mengambil bahan-bahan di dalam kulkas. Tentu saja Desi yang mengambilkan bahan-bahan tersebut. Putri masih belum bisa menghilangkan rasa traumanya.
"Waah, wanginya enak banget, Put," puji Desi yang mana membuat perutnya kembali minta di isi.
Padahal tadi gadis itu sudah merasa sangat kenyang sekali, sehingga rasa-ras perutnya ingin sekali meledak. Tapi ya mau bagaimana lagi, masakan Putri memang sudah menjadi candu bagi Desi. Tak hanya Desi, sih. Tapi juga dengan Arash.
“Kamu juga mau ikutan makan?” tanya Putri kepada Desi.
“Tentu saja. Sungguh rugi sekali melewati makanan lezat yang kamu bikin, Put,” kekeh Desi yang mana membuat pipi Putri merona.
“Ah, kamu bisa aja.”
Desi dan Putri pun duduk di kursi makan bersebelahan, mereka pun menanti kedatangan Arash untuk bergabung bersama mereka di meja makan.
Sudah tiga menit berlalu, akan tetapi Arash juga belum keluar dari dalam kamar.
“Biar aku yang panggil Arash,” ujar Desi dan bangkit dari duduknya.
Putri pun menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun melihat punggung Desi yang semakin menjauh darinya.
Putri menghela napasnya dengan pelan. Gadis itu pun menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang sangat indah sekali. Model yang cukup sederhana, dengan permata yang kecil di tengahnya. Sungguh seperti apa yang Putri inginkan.
Siapa yang menyangka, jika Soni berhasil membuat Putri merasa berkesan dengan kejutan yang pria itu rencanakan untuknya.
“Waah, cincin yang indah,” puji Desi yang baru saja tiba di meja makan.
Di belakang gadis itu ada Arash yang saat ini berwajah jutek.
“Kenapa dia? Apa iya lagi datang bulan?” batin Putri sambil melirik ke arah Arash yang berjalan menuju kursi di mana dia biasanya duduk. Kursi yangn berhadapan dengan Desi dan juga Putri.
Seperti biasa, Putri akan mengambilkan nasi untuk Arash. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu saat berada di rumahnya. Di mana dia selalu mengambilkan nasi untuk sang papa atau pun Bara.
Tak ada ucapan terima kasih yang biasa Arash ucapkan kepadany, sehingga Putri mengernyitkan kening dan menatap heran ke arah Arash.
“Ayo makan.” Suara Desi pun mengambil atensi Putri, sehingga membuat gadis itu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Sesekali Putri melirik ke arah Arash yang terlihat menikmati makanannya. Akan tetapi, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut pria itu seperti biasanya. Di mana hanya sekedar untuk memuji masakannya atau pun tersenyum kepadanya.
Setidaknya, Arash terlihat menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Walau pun hanya di hidangkan tumis kangkung dan juga udang goreng tepung, tidak membuat pria itu patah selera makan. Bahkan, kangkung masakan Putri adalah kangkung terlezat nomor dua setelah masakan Mama Kesya.
__ADS_1
Lihat saja, Arash sampai menambah nasi dan juga sayurnya, yang mana membuat sebuah senyuman muncul dari bibir Putri.
Putri pun melanjutkan makannya. Tidak, dia hanya meratakan udang yang di celup ke dalam saus. Setidaknya Putri ikut menemani Desi dan Arash yang tengah menikmati masakannya.
“Apamya yang terlihat cantik? Biasa aja pun cincinnya, gak ada yang istimewa,” batin Arash sambil melirik ke arah jari manis gadis itu.
Padahal di dalam lubuh hati Arash yang paling dalam. Pria itu mengakui jika cincin yang di gunakan oleh Putri saat ini memang terlihat sangat cantik sekali.
Putri mengangkat pandanganya di saat Arash sudah selesai makan dan bangkit dari duduknya. Pria itu meletakkan piring di westafle dan mencuci tangannya di sana.
“Terima kasih atas makan malamnya,” ujar Arash saat pria itu sudah selesai mencuci tangannya.
Tadinya Arash mau sekalian mencuci piring, akan tetapi suara Desi yang melarang pria itu pun, membuat Arash mengurungkan niatnya.
Arash pun langsung berlalu tanpa mengatakan kata-kata apa-apa lagi kepada Putri atau pun Desi. Bahkan untuk melirik Putri pun, tidak di lakukan oleh pria itu.
“Alhamdulillah,” lirih Desi setelah meneguk ari putih yang ada di sampingnya.
“Masakan kamu memang gak ada tandingannya, Put,” puji Desi yang mana membuat Putri pun ikut tersenyum.
“Em, ngomong-ngomong, cincin kamu cantik banget?” puji Desi lagi yang mana membuat Putri menoleh ke arah jari manisnya.
“Huum, sangat cantik kan?”
“Iya,” jawab Putri pelan yang mana membuat Desi berseru heboh.
“Huaaa, jadi Soni melamar kamu tadi? Di mana?” tanya Desi merasa penasaran.
Bagaimana tidak penasaran, mereka sudah mencari empat restoran termewah dan tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke dalam sana. Desi ingin tahu, pria sekelas Soni melakukkan lamaran di restoran seperti apa?
“Iya, Soni melamar aku,” lirih Putri dengan tersenyum kecil.
Senyuman yang jauh dari kata terlihat bahagia, layaknya seperti wanita pada umumnya yang baru saja mendapatkan lamaran dari seseorang. Apa lagi sampai di berikan kejutan yang spesial dan juga cincin berlian yang sangat cantik sekali.
“Di mana?” tanya Desi merasa penasaran.
Putri mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Desi.
“Kamu tidak akan percaya jika aku mengatakan hal ini,” kekeh Putri yang mana membuat Desi semakin merasa penasaran.
__ADS_1
“Cepat katakan, jangan buat aku merasa penasaran,” bujuk Desi yang mana setidaknya dia harus tau di restoran mana Soni melakukan lamarannya kepada Putri.
“Di taman bermain,” ujar Putri yang mana membuat Desi membelalakkan matanya.
“Ap-apa?” kejut Desi tak percaya. “Taman bermain?”
“Huum? Lucu kan?” kekeh Putri yang mana membuat Desi benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Soni.
Benar apa kata Jo, jika pemikiran pria itu sangat sulit sekali untuk di tebak.
Di balik rak pembatas antara living room dan ruang makan, Arash berdiri di sana untuk menguping pembicaraan Desi dan Putri.
“Cih, gak modal banget sih tempat lamarannya?” cibir Arash pelan sekali, karena dia tidak mau ketahuan jika saat ini sedang mencuri dengar pembicaraan Putri dan juga Desi.
“Kamu tau, taman bermain itu sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah sekali. Soni sengaja melakukan hal iu hanya untuk memberikan kejutan spesial untuk aku di hari yang spesial,” ujar Putri yang mana membuat Desi semakin merasa terkagum-kagum.
"Apa kamu ada mengambil foto saat di sana? Aku pingin melihatnya," tanya Desi merasa penasaran.
"Sayangnya kami tidak membawa ponsel saat itu. Jadi, aku tidak bisa mengabadikan momen tersebut," ujar Putri terdengar sedih.
"Wah, sayang sekali."
"Tapi, Soni sudah menyuruh seseorang untuk mengabadikan momen kami tadi. Mungkin besok dia akan mengirimkan foto-fotonya," ujar Putri dengan tersenyum malu, di saat dia mengingat akan momen yang terjadi saat di taman tadi.
"Kamu beruntung banget, Put. Pasti Soni sangat mencintai kamu." Desi pun mengusap punggung tangan Putri, seolah meyakinkan gadis itu jika pilihannya sudah tepat.
"Hmm, Soni mencintai aku sedari kami kecil dulu. Hanya aku satu-satunya wanita di dalam kehidupan dia," lirih Putri sambil menatap cincin yang ada di jari manisnya.
"Jadi, kapan nih undangan pernikahannya?" tanya Desi dengan nada menggoda.
"Hah? U-undangan pernikahan?" ulang Putri dengan gugup.
"Huum, pokoknya saat kamu menikah nanti, kamu jangan lupa mengundang aku, ya?" ujar Desi sambil mengedipkan matanya sebelah.
Putri pun hanya tersenyum saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Desi.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa kalian masih mengobrol? Cepat tidur."
Suara bariton Arash pun membuat Desi dan Putri menoleh, mereka pun tertawa pelan mendengar perintah Arash yang terdengar seperti orang tua yang sedang memarahi anak-anaknya.
__ADS_1
"Rash, kamu terdengar seperti papa tau gak sih!" Kekeh Desi yang mana membuat Arash menjadi kesal.
"Huumm, seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya," tambah Putri yang mana membuat Desi semakin tertawa terbahak-bahak