Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 52 - makan malam


__ADS_3

"Ayo Sifa, jangan malu-malu ya," ujar Mama Kesya.


"Iya Tante." Sifa tersenyum sangat manis. Bahkan, rasa canggungnya pun perlahan memudar karena kehangatan yang di berikan oleh seluruh keluarga. Kecuali satu, yaitu Sakha.


"Ini semua, Tante yang masak. Kamu harus cobain semuanya."


"Iya, Tante."


Mama Kesya menuangkan nasi untuk Papa Arka, kemudian meminta piring kepada Sifa.


"Ayo, mana piringnya," Mama Kesya siap memberikan nasi kepada Sifa.


"Ma, Sifa gak makan nasi," ujar Abash.


"Hah? Maksudnya gimana?"


Quin terkekeh. "Itu loh Ma, kan udah Quin bilang, kalau Sifa ini unik."


"Sifa? Serius kamu gak makan nasi?" tanya Mama Kesya terkejut.


"Iya, Tante."


"Sejak kapan?"


"Kata nenek saya, saat pertama kali di kasih makan, saya muntah-muntah. Sejak saat itu saya gak makan nasi lagi."


"Oh yaa? Hmmm, unik sekali kamu. Trus? Gak pernah coba makan nasi lagi?"


"Pernah Tante, tapi tetap muntah-muntah, bahkan sampai demam."


"Hah? Demam? Duuh, unik banget sih kamu. Trus, kamu selama ini makan apa aja?"


"Ma, mau sampai kapan wawancaranya?" tegur Papa Arka.


"Eh iya, duh.. habisnya Mama penasaran sih."


Mama Kesya pun menuangkan nasi untuk Shaka, Abash, dan Arash.


"Sifa, Kamu mau apa? Biar Tante ambilin."


"Sa-saya ambil sendiri aja, Tante," ujar Sifa tak enak hati.


"Ya sudah kalau begitu. Intinya kamu jangan malu-malu ya. Semua menu di sini harus kamu cobain."


"Iya Tante. Terima kasih."


Sifa memperhatikan cara Mama Kesya melayani keluarganya. Bahkan, Quin juga melakukan hal yang sama. Sifa tersenyum, betapa dia merasa hangat di tengah keluarga ini. Padahal, ini pertama kalinya dia makan bersama dengan keluarga Moza itu.


"Sifa, ayo makan," tegur Arash yang duduk di hadapannya.


"Iya, Pak," jawab Sifa saat kesadarannya telah kembali dari keterpanaan betapa hangatnya keluarga ini.


Sifa mengulurkan tangannya untuk mengambil sayur, bersamaan dengan Abash yang juga ingin mengambil sayur. Tanpa sengaja, tangan Sifa tergenggam oleh Abash. Kebetulan sekali, Sifa duduk di sebelah Abash yang memang duduk di penghujung meja berhadapan dengan Papa Arka.


"Maaf," cicit Abash dan melepaskan tangan Sifa.


"Bapak ambil saja duluan." Sifa mempersilahkan Abash.


"Kamu aja,"


"Bapak aja."


"Udah, kamu aja."


"Bapak aja."


Mama Kesya, Arash, Sakha, Papa Arka, Quin, Abi, Nafi dan Veer pun menoleh memperhatikan keduanya.

__ADS_1


"Kalau saling tolak menolak, kapan makannya?" kekeh Quin yang mana mengambil perhatian Sifa dan Abash.


Quin berdiri, mengambil mangkok sayur dan menuangkannya ke atas piring Abash dan Sifa.


"Udah kan? Gak ada yang saling tolak menolak lagi," ujar Quin.


Sifa mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan Abash mengambil lauk yang lainnya.


Acara makan malam pun berjalan lancar. Mama Kesya sungguh senang saat melihat Sifa makan tanpa malu-malu.


"Sifa, kamu gak bosan makan sayur terus?" tanya Nafi yang memang tak terlalu menyukai sayur.


"Enggak, Buk. Sayur sudah seperti makanan pokok dan wajib bagi saya. Seperti nasi juga."


Tiba-tiba mata Nafi pun berkaca-kaca. Bumil itu terisak pelan sehingga mengambil perhatian sang suami.


"Sayang, kenapa?" tanya Veer lembut.


"Aku tua banget ya? Sampai Sifa manggil aku dengan sebutan 'Buk'."


Air mata Nafi pun meluncur dengan mulus membasahi pipinya. Sifa yang melihat itu membelalakkan matanya, bahkan saat ini degup jantungnya sudah berdetak dengan cepat.


Quin sudah mengulum bibirnya saat melihat wajah pucat Sifa. Tak tahu saja, semenjak hamil, Nafi memang lebih sensitif.


"Gak kok, Kamu ini cantik dan muda. Sifa memanggil kamu, karena dia menghormati kamu, sayang. Seperti halnya Sifa memanggil Abash dan Arash dengan sebutan 'Bapak'," ujar Veer dengan lembut sambil membelai rambut Nafi.


"Tap-tapi, Sifa manggil Quin dengan sebutan 'Mbak',"


"Ya sudah, tinggal bilang saja dengan Sifa, jika kamu mau di panggil dengan panggilan 'mbak'."


Nafi menoleh ke arah Sifa yang menatapnya dengan tatapan bingung dengan wajah pucatnya.


"Kamu harus panggil aku dengan sebutan 'Mbak'," ujar Nafi dengan ketus.


"I-iya, Buk, eh, Mbak," ujar Sifa dengan gugup.


"Ulang," pinta Nafi dengan ketus namun terdengar manja.


Seketika senyuman secerah mentari pun terbit di wajah Nafi.


"Gitu dong, awas kalau panggil 'Buk' lagi," ancam Nafi dengan ketus namun terdengar lucu dan manja.


"Iya, Mbak. Gak ulangi lagi."


Quin terkekeh dan mencubit pipi Sifa. "Gemesin banget kamu. Sampai pucat begitu."


Bahkan, untuk bernapas pun saat ini Sifa rasanya sudah tak bisa lagi. Itu karena dia sangat gugup karena telah membuat Nafi menangis.


"Ayo, di makan lagi," ujar Mama Kesya.


Sifa pun menganggukkan kepalanya dengan gugup dan kembali menikmati makanan yang terasa sangat lezat itu.


"Sifa," panggil Nafi.


"Ya, Mbak."


Nafi tersenyum senang, dia hanya mengetes Sifa untuk memanggilnya.


"Kok cuma di panggil doang? Kenapa?" tanya Veer.


"Aku cuma mau pastiin, kalau Sifa gak lupa dengan panggilan untuk aku."


Jleeb ..


Sifa melongo. Gadis itu benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan oleh Nafi. Wanita cantik yang duduk selang satu kursi di depannya itu, tertawa bahagia saat dirinya memanggil dengan sebutan 'Mbak'.


"Bumil memang begitu. Ada aja tingkahnya," bisik Quin dengan terkekeh.

__ADS_1


"Gosipin aku yaa," ujar Nafi dengan ketus.


"Iya, aku bisikin ke dia, kalau kamu gemesin, dan Sifa setuju akan hal itu, ya kan Sifa?" tanya Quin.


"Iya, Mbak. Mbak Nafi sangat cantik dan gemesin," ujar Sifa dengan tersenyum agar meyakinkan Nafi untuk percaya kepadanya.


"Oke, aku percaya sama kamu."


Quin mengulum bibirnya dan mengedipkan matanya sebelah kepada Sifa.


Makan malam kali ini terasa sangat berbeda bagi Sifa. Gadis sungguh menikmati setiap momen yang menegangkan dan sekaligus terasa hangat.


"Sifa, kamu jangan pulang dulu ya, Tante mau ngobrol sebentar sama kamu," ujar Mama Kesya.


Arash menoleh ke pergelangan tangannya, melihat sudah pukul berapa. Malam ini, Arash ada patroli berkeliling bersama timnya.


"Kalau kamu mau pergi kerja, ya pergi aja. Sifa bisa di antar sama supir nanti."


Maaf Sifa membola, tentu saja dia tak setuju akan hal itu. Bahkan, jika Arash yang mengantarnya, gadis itu juga tidak akan setuju. Dia hanya gak ingin di ketahui dimana dirinya tinggal saat ini.


"Nggak usah, Tante. Sifa bisa pulang naik taksi kok."


"Gak terima penolakan," ujar Mama Kesya tak ingin di bantah.


Sifa hanya bisa menyengir sambil menelan ludahnya.


"Ya sudah, Arash siap-siap dulu, Ma." Arash pun berlalu menuju kamarnya.


"Sifa, kamu kamu kenalan sama empus kan? Tunggu ya, aku bawa Empus ke sini."


"Quin, kamu yakin kenalin Empus sama Sifa?" tanya Mama Kesya.


"Yakin dong, Sifa ini juga pecinta kucing loh, Ma."


"Iya, kucing. Tapi empus bukan kucing."


"Abi, Empus termasuk golongan kucing kan?" tanya Quin kepada sang suami.


"Iya, Quin.


"Tuh, kan bener kata Quin. Empus itu termasuk golongan kucing."


"Tapi mereka beda, Quin. Empus itu kucing besar berbulu dan buas." ujar Abash.


"Iih, Empus jinak kok. Aku yakin kalau Sifa pasti suka. Tunggu ya, Sifa."


Tanpa mendengar larangan dari Mama Kesya, Quin berlari menuju halaman belakang, di mana terdapat kandang Empus.


"Sifa, kamu ntar jangan kaget, ya. Kamu sembunyi di belakang Abash aja." ujar Mama Kesya.


"Loh, kenapa di belakang Abash?" protesnya.


"Mama takut Sifa pingsan."


Sifa yang mendengar ucapan Mama Kesya, semakin bingung. Emangnya Empus sebuah apa sih? Sehingga bisa membuatnya sampai pingsan.


"Sifa, perkenalkan, ini Empus," pekik Quin dengan girang saat berjalan menuju ruang keluarga.


Abash dengan gerakan refleks langsung menarik tangan Sifa dan menyembunyikannya. Empus ini kucing yang terlalu agresif dengan orang baru. Bahkan Empus langsung menghampiri pendatang baru dan langsung mengendus aroma tubuhnya.


Sifa mendongakkan kepalanya menatap wajah Abash.


"Kamu aman jika seperti ini, Empus gak akan langsung mendatangi kamu."


Sifa mengerutkan keningnya, rasa penasarannya kepada empus pun semakin besar. Gadis itu memberanikan diri mengintip dari sela lengan Abash, akan tetapi saat mendengar Auman sebuah singa, Sifa terkejut dan langsung meremas kemeja yang dikenakan oleh Abash.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....

__ADS_1


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2