Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 116 - Jodohin?


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan Pak Arash?" tanya Sifa.


Abash menoleh dan merasa tak suka dengan nada bicara gadis yang ada di sebelahnya saat ini.


"Pak?" panggil Sifa lagi.


"Arash masuk rumah sakit, sebaiknya kita ke sana sekarang," titah Abash dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Amel yang sedari tadi masih mengikuti mobil Abash pun, mengernyitkan keningnya, di saat melihat Abash melajukan mobilnya dengan sedikit kencang.


"Pak, cepat ikuti," titah Amel yang tidak ingin kehilangan jejak Abash.


Dia sangat ingin tahu, ke mana Sifa dan Abash pergi berdua.


Sesampainya di rumah sakit, Abash langsun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus keluarga Moza, kemudian dia berlari masuk ke dalam rumah sakit dan menuju IGD. Sifa pun ikut berlari mengejar sang bos, karena gadis itu juga mengkhawatirkan keadaan Arash.


*


"Sudah magrib, aku mau sholat dulu," ujar Arash dan ingin turun dari tempat tidurs.


"Kamu yakin sanggup jalan? Mau aku ambilin kursi roda?" tawar Naya.


"Gak usah. Aku bisa jalan sendiri kok," tolak Arash.


"Hmm, ya udah kalau gitu, aku bantu."


Naya pun merangkul Arash dan membawanya menuju mushola yang ada di dalam rumah sakit, tak jauh dari IGD.


Arash belum kembali di saat Abash telah sampai ke IGD.


"Pasien Arash di mana, Suster?" tanya Abash.


"Oh, di sebelah sana, Pak," tunjuk suster tersebut.


"Baik, terima kasih."


Abash pun mengikuti arah tunjuk suster tersebut, dia melihat satu persatu bed dan belum menemukan sang kembaran, hingga akhirnya dia menarik tirai penutup anatra bed yang lain.


Sreeet ...


"Anda?" lirih Abash saat melihat Putri yang baru saja melepaskan mukenanya.


Gadis itu baru selesai melaksanakan sholat magrib di atas bednya sendiri, karena sang mama belum mengizinkan sang putri untuk turun dari tempat tidur.


"Pak Abash?" seru Putri dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak tau jika ini bed Anda," ujar Abash merasa tak enak.


"Emm, Anda sakit apa?" tanya Abash kemudian saat melihat tangan gadis itu terpasang jarum infus. Perasaannya, tadi pagi dia masih baik-baik saja.


"Oh, saya terjebak di lift," ujar Putri.


"Bash?" panggil Arash yang mana membuat Putri, Sifa, dan Abash pun menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Abash, jangan bilang kalau pria itu adalah---,"


"Iya, dia adalah kembaran saya -- Arash," ujar Abash. "Maaf, tadi pagi saya tidak sempat bilang ke Anda, saat kesalahpahaman di antara kita terjadi," sesal Abash.


"Ah, tidak apa-apa," ujar Putri dengan terkekeh pelan.


"Kamu kenal dia?" tanya Arash yang sudah duduk di atas bednya dengan bantuan Naya.


Putri smepat melirik ke arah Arash dan melihat betapa cantiknya wajah gadis yang ada di sebelah pria itu.


"Iya, Nona Putri adalah pengacara di perusahaan aku," ujar Abash memberi tahu.


"Oh, yang kamu cerita waktu itu ya? Hmm, ternyata dia orangnya," ujar Arash sambil tersenyum.


"Jadi, ini pria ini partner kerja kamu, sayang?" tanya Mama Nayna.


"Waah, gak nyangka kalau partner kamu itu kembar ya," kekeh Mama Nayna dengan tersenyum.


"Apa yang kembar?" tanya Papa Satria yang baru tiba bersama Papa Arka ke ruangan IGD.


"Ini, Pa. Nak Arash dan partner kerjanya Putri. Ternyata kembar loh," ujar Mama Nayna dengan tersenyum, wanita paruh baya itu sangat tahu sekali, jika sang suami sangat menginginkan anak kembar. Tapi apalah daya, jika mereka tidak memiliki keturunan kembar.


'Waah, i-ini seriusan kembar?" tanya pap Satria penuh takjub.


"Anak aku, Sat," kekeh Papa Arka.


"Waah, kamu ini gak bilang-bilang punya anak kembar," ujar Papa Satria sambil memukul pelan bahu Papa Arka.


"Papa kenal sama Pak Satria?" tanya Arash.


"Kenallah, beliau ini kan partner bisnis kita yang di Bandung. Fatih kenal kok sama Om Satria," ujar Papa Arka.


"Kamu tau, Ar. Saya ini sangat kepingin sekali punya anak kembar," kekeh Papa Arka.


"Bikin lagi, jaman udah canggih. Yang gak ada keturunan kembar bisa dapat anak kembar kok," ujar Papa Arka sambil tertawa.


"Pinginnya sih gitu," ujar Papa Satria sambil mengedikan matanya sebelah kepada Mama Nayna. "Tapi sadar diri deh, udah tua. Udah cocok nimang cucu," kekeh Papa Satria.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu apa lagi? Suruh anak-anak kamu nikah," goda Papa Arka.


'Hmm, iya juga ya. Oh ya, gimana kalau kita jodohi anak kita aja? Biar saya bisa dapat cucu kembar?" usul Papa Satria.


"Ide bagus," sambut Papa Arka.


"Tidak," jawab Arash.


"Gak mau," jawab Putri yang berbarengan dengan Arash.


Papa Arka dan Papa Satria pun serentak menoleh, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Gak bisa di ajak bercanda," bisik Papa Satria yang di angguki oleh Papa Arka.


"Eh, tunggu. Kenapa Arash yang bilang tidak? Emangnya Papa ada bilang mau jodohi kamu dengan Putri?" goda Papa Arka.


"Hah? I-itu ..."


"Yang partnernya Putri kan Abash? Bisa aja Papa jodohinya ke Abash," kekeh Papa Arka.


"Loh, kok jadi ke Abash?" ujar pria itu dengan mantap kesal kepada sang papa.


"Ha .. Ha .. Ha ... Jangan di anggap serius. Om dan Papa kamu ini cuma bercanda. Dalam hidup Om, tidak ada yang namanya perjodohan," ujar Papa Satria yang memang sudah pernah merasakan bagaimana pernikahan dalam perjodohan dan tanpa cinta.


Pria paruh baya itu tidak ingin, apa yang dia alami dulu kembali terulang kepada anak-anaknya. Cukup dia saja yang merasakan bagaimana tersiksanya hidup dengan orang yang bukan dia cintai, sedangkan hatinya milik orang lain yang saat ini sudah menjadi istrinya.


Putri terlihat bernapa lega, yang mana hal itu dapat di lihat oleh Arash.


"Seburuk itukah aku? Hingga dia terlihat lega tidak jadi di jodohkan dengan aku?" batin Arash.


Sedangkan Sifa, gadis itu merasa ada yang menusuk hatinya, di saat mendengar jika Papa Arka ingin menjodohkan gadis cantti berwajah pucat itut dengan Abash. Walaupun Papa Arka sempat mengatakan jika hal itu adalah sebuah candaan, tapi bagaimana jika candaan itu menjadi serius?


"Sadar dirilah Sifa, bagaimana mungkin seorang sultan mau menjodohkan anaknya dengan kamu? Dan juga, mana mungkin Pak Abash menyukai kamu. Sadar diri, Sifa. Sadar diri." batin Sifa dengan rasa sakit.


"Pak Arash butuh bantuan?" ujar Sifa yang melihat Arash sedikit kesulitan saat mengambil air minum. Gadis itu pun langsung mendekati pria itu dan memberikan segelas air kepada Arash.


Abash yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya di dalam kantong, dia sangat tidak menyukai pemandangan yang tersajikan di depan matanya saat ini.


"Seharusnya aku tidak membawanya," batin Abash dengan kesal.


Sedangkan Putri, gadis itu semakin mendapatkan nilai negatif terhadap Arash. Pria itu seolah sangat suka menebar pesona kepada setiap wanita.


Lihatlah, dia terus tersenyum kepada wanita yang selalu ada di dekatnya. Mau itu suster atau pun tidak.


"Dasar pria mata kerangjang," batinnya dengan kesal

__ADS_1


__ADS_2