Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 445


__ADS_3

Zia menatap kakinya yang tergips. Entah kapan besi-besi penyangga tulangnya terlepas. Gadis itu kembali menghela napasnya pelan, sudah hampir satu tahun dirinya masih terduduk di atas kursi roda. Semua kegiatannya untuk pergi ke kamar mandi pun, harus meminta bantuan dari seseorang.


Kapan semua penderitaan ini akan berakhir? Setidaknya, biarkan Zia melakukan semua sendiri, termasuk pergi ke kamar mandi.


"Sudah?" tanya Putri yang baru saja membantu Zia buang air kecil.


"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."


Putri pun membantu Zia untuk duduk di kursi roda.


"Maafin Zia ya, Mbak, sudah merepotkan Mbak," ujar Zia merasa malu dan juga bersalah.


"Tidak, tidak apa-apa. Mbak malahan senang bisa membantu kamu." Putri berkata dengan tulus. Selama setahun ini, dia tinggal bersama Zia di rumah Bara, karena tidak ingin sang adik merasa sedih dan sendiri atas musibah yang sedang menimpa dirinya.


Bersyukurnya lagi, Arash seolah tidak menpermasakahkan gak tersebut. Padahal, sebelumnya pria itu terlihat tidak akur dengan Zia. Akan tetapi semenjak kejadian beberapa bulan lalu, Arash seolah berubah dan lebih perhatian kepada adiknya.


Zia sudah duduk di kursi roda. Kursi roda yang bisa bergerak dengan menggunakan tombol yang ada di sisi kanan tangan kursi tersebut.


"Kita makan siang dulu yuk, semuanya sudah berkumpul di luar," ajak Putri yang diangguki oleh Zia.


Zia pun menekan tombol yang ada pada kursi roda, kemudian menggerakkan kursi roda tersebut keluar kamarnya.


Zia mengernyitkan keningnya, di saat mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya.


"Itu Zia sudah keluar," ujar Mama Nayna sambil menunjuk ke arah sang putri.


Pria yang berdiri membelakangi Zia pun, berbalik dan tersenyum lebar kepada Zia, sehingga membuat sudut bibir Zia pun juga ikut tertarik.


"Ibra?" ucap Zia dengan lirih.


Ibra meminta izin kepada Mama Nayna untuk menghampiri Zia. Di tangan pria itu terdapat buket bunga yang begitu cantik. Putri yang melihat kedatangan Ibra untuk menjenguk Zia, setelah sekian lama pria itu tidak terlihat karena harus bertugas ke provinsi lain pun, tersenyum dengan lebar.


"Hai ... Apa kabar?" sapa Ibra dengan senyuman manis pria itu.


Kulit Ibra yang bersih dan putih, kali ini terlihat mengkilap dan gelap. Ya, semenjak di tugaskan ke provinsi Papua Barat, pria itu sering terjemur di lapangan demi menjalankan tugas negara.


"Baik," jawab Zia dengan tersenyum manis.


"Ini untuk kamu." Ibra pun memberikan buket bunga yang ada di tangannya kepada Zia.

__ADS_1


"Waahh, bunga yang cantik. Terima kasih banyak." Zia menerima buket bunga yang diberikan oleh Ibra.


"Emm, tadi aku sudah minta izin dengan Tante untuk ajak kamu jalan-jalan. Sekarang semua keputusan ada di tangan kamu. Apa kamu mau menerima tawaran aku untuk jalan-jalan?" ujar Ibra to the point' langsung kepada Zia.


Senyuman yang ada di bibir Zia perlahan mengendur, gadis itu melihat ke arah sang mama yang menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terukir di bibir.


Haruskah Zia menerima tawaran Ibra untuk berjalan-jalan?


Tapi, bukankah yang namanya berjalan-jalan itu menggunakan kaki? Bukan terduduk di kursi roda seperti dirinya saat ini?


Lagi pula, Zia merasa risih dan tidak pede, setiap ada orang yang memandang ke arahnya dengan tatapan kasihan atau pun merasa jijik.


Entah lahz entah apa yang mereka pikirkan, sehingga menatap dirinya dengan tatapan jijik atau tak suka.


"Zia, kamu sudah lama tidak menghirup udara segar. Kenapa kamu gak terima tawaran Ibra aja?" ujar Putri yang mana membuat Zia menoleh ke arah sang kakak.


"Siapa bilang Zia tidak pernah menghirup udara segar, Mbak? Setiap pagi Zia harus pergi ke kantor. Di sana Zia menghirup udara segar kok!" jawab Zia dengan tersenyum kecil.


"Bukan udara segar yang itu maksud, Mbak, Zia. Tapi udah segar yang lain. Iya kan, Ma?" Putri pun mencari sekutu untuk mendukungnya, agar Zia mau menerima tawaran Ibra.


"Iya, apa kata Mbak kamu bener, Zia. Sebaiknya kamu terima tawarannya Ibra untuk berjalan-jalan," bujuk Mama Nayna.


Mall? Haruskah Zia pergi ke tempat orang-orang yang memandangnya dengan penuh rasa iba, kasihan, dan tak suka?


Zia tahu tahu, maksud perkataan Mama Nayna dan Putri baik, ingin dirinya bisa menikmati hidup seperti dulu lagi. Tapi, kondisinya saat ini berbeda. Dulu Zia berjalan dengan menggunakan kakinya, tapi kali ini? Dia harus bergantungan dengan menggunakan kursi roda.


"Zia? Ibra menunggu jawaban kamu, loh," Suara Putri kembali mengambil atensi Zia.


Zia menghela napasnya pelan, gadis itu pun terpaksa menerima tawaran pria yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.


"Baiklah," jawab Zia yang mana membuat Ibra tersenyum semakin lebar.


"Kalau begitu, ayo Mbak bantu kamu bersiap."


Putri pun mendorong kursi roda yang Zia duduki kembali masuk ke dalam kamar. Wanita itu berharap, jika sang adik bisa menemukan belahan jiwanya pada diri Ibra.


Zia dan Putri keluar dari dalam kamar, di saat Arash, Mama Nayna, dan Ibra sedang mengobrol di ruang keluarga.


"Itu mereka," tunjuk Arash ke arah Zia dan Putri.

__ADS_1


Ibra menoleh ke arah belakang, pria itu tersenyum lebar di saat melihat betapa cantiknya Zia siang hari ini.


Ibra, Arash, dan Mama Nayna pun berdiri untuk menyambut kedatangan Zia dan Putri.


"Waah, anak Mama cantik banget?" puji Mama Nayna yang mana menbuat Zia tersenyum kecil.


"Em, sebaiknya kalian pergi sekarang. Sudah mau masuk jam makan siang juga ini. Kamu harus minum obat telat waktu," ujar Mama Nayna mengingatkan sang putri.


"Baik, Tante," jawab Ibra dan bertanya kepada Zia apakah gadis itu sudah siap pergi bersamanya.


"Zia, kamu tidak lupa membawa obat, kan?" tanya Mama Nayna.


"Sudah, Ma."


"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa di minum obatnya nanti, ya?"


"Iya, Ma."


"Kalau begitu, kami pergi dulu, Tante, Mas Arash, Mbak Putri," pamit Ibra.


"Iya, hati-hati di jalan ya," sahut Mama Nayna.


"Sini, aku bantu," Ibra pun mengulurkan tangannya untuk memegang gagang yang ada di belakang kursi roda, pria itu mendorong kursi roda yang di duduki oleh gadis yang telah memikat hatinya itu.


"Kami pergi dulu, Ma, Mbak, Mas," pamit Zia.


"Iya, Sayang."


Ibra pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh Zia ke luar rumah.


"Hmm, semoga ada kabar baik dari mereka berdua, ya?" lirih Mama Nayna yang di dengar oleh Zia.


"Amin, semoga ya, Ma."


Arash hanya memandang lurus ke arah Ibra dan Zia, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu saat ini.


"Ma, mangga yang di belakang rumah kayaknya udah bisa di petik deh, kita ngerujak yuk?" ajak Putri yang di angguki oleh Mama Nayna.


"Yuk. Rash, kamu tolong petikin ya," titah Mama Nayna yang diangguki oleh Arash.

__ADS_1


__ADS_2