Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 324


__ADS_3

Berita kematian Putri memang sengaja di sembunyikan. Papa Satria tidak ingin mengumumkan kematian putrinya itu, atas permintaan sang istri. Bagi Mama Nayna, Putri masih hidup.


Papa Satria pun mengikuti keinginan Mama Nayna, hingga kematian Putri hanya di ketahui oleh kerabat dekat dan saudara terdekat saja. Tahlilan yang di adakan juga hanya di hadiri oleh tetangga kiri dan kanan saja.


Selama tujuh hari mengadakan tahlilan, Mama Nayna sekali pun tidak pernah ikut menampakkan batang hidungnya di depan warga. Wanita paruh baya itu lebih memilih untuk menyendiri di dalam kamar, beroda kepada sang pencipta, agar diberikan sebuah keajaiban, jika putrinya masih hidup.


Dua bulan telah berlalu, kabar tentang Putri pun masih tidak ditemukan. Walaupun Papa Satria sudah mengadakan tahlilan untuk kepergian Putri, akan tetapi pria paruh baya itu tetap mencari keberadaan sang putri, sesuai dengan permintaan Mama Nayna.


Sebulan Mama Nayna di rawat di rumah sakit, karena belum bisa menerima jika putri sulungnya itu telah tiada. Maka dari itu, Papa Satria mengikut permintaan sang istri untuk mencari keberadaan putrinya.


"Ma, Abash dan Sifa akan melangsungkan pertunangan Minggu depan, Mama mau ikut?" tanya Papa Satria.


Mama Nayna menghela napasnya dengan pelan. "Apa Putri juga akan ada di sana, Pa?"


Lagi-lagi, air mata Mama Nayna pun jatuh tak tertahankan.


"Ma, jangan begini," lirih Papa Satria merasa iba dengan kondisi sang istri yang sudah terlihat mengurus.


Brakk ...


Papa Satria menoleh ke arah sumber suara, begitu pun dengan Mama Nayna. Terlihat tak jauh dari mereka, Zia--adiknya Putri baru saja menjatuhkan vas bunga yang ada di atas meja.


"Zia?" tegur Papa Satria.


Zia yang sudah berlinangan air mata, menatap marah ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa anak Mama hanya Mbak Putri?" tanya Zia.


Air mata gadis belia itu tak lagi mampu tertahankan.

__ADS_1


"Zia ...," lirih Mama Nayna dengan air mata yang juga ikut mengalir membasahi pipinya kembali.


"Zia ini juga anak mama, Ma. Bahkan Zia ini anak kandung Mama. Anak yang lahir dari rahim Mama, bukan Mbak Putri," pekik Zia kesal.


"Zia, jaga omongan kamu," tegur Mama Nayna.


Papa Satria hanya bisa menutup matanya, ini bukanlah kali pertama Zia memberontak atas sikap istrinya kepada anak-anaknya.


Bara dan Zia memang lahir dari rahim Mama Nayna, akan tetapi, cinta dan kasih sayang Mama Nayna, terlihat sangat banyak untuk Putri, anak tirinya.


"Ma, Zia ini berhak mendapatkan perhatian lebih sama Mama. Karena Zia anak kandung Mama. Tapi Mama malah lebih memerhatikan Mbak Putri dari pada Zia. Zia yang paling membutuhkan perhatian mama, Ma," pekik Zia.


"Apa Zia gak pantas mendapatkan perhatian yang sama seperti Mbak Putri?" tanya Zia, sehingga membuat Mama Nayna terdiam.


"Apa Zia bukan anak mama? Sehingga fokus mama hanya ke Mbak Putri saja? Apa Zia gak butuh diperhatikan oleh Mama juga?"


Zia menghapus air matanya dengan kasar. Gadis belia itu selama ini tidak pernah mempermasalah, jika sang mama lebih menyayangi kakaknya, dari pada dirinya. Tapi, jika Mama Nayna sampai mengabaikan dirinya, sudah sepantasnya kan Zia menuntut kasih sayang itu.


Ya, dua bulan ini Mama Nayna hanya memikirkan Putri, sehingga mengabaikan anak-anaknya yang lain.


Zia kembali mengusap air matanya dengan kasar, masih banyak lagi kata-kata yang ingin gadis itu ucapkan, akan tetapi dia tidak ingin mengutarakan semuanya, karena itu pasti akan sangat melukai perasaan Mama Nayna.


Zia pun berlalu meninggalkan Mama Nayna dan Papa Satria tanpa kata, gadis itu pun berlari keluar dari rumah.


"Zia ...." pekik Papa Satria, karena sang anak pergi dari rumah.


"Pa, hiks .. kejar Zia, Pa, hiks, kejar Zia..." pinta Mama Nayna.


*

__ADS_1


Kehilangan Putri bagaikan kehilangan setengah jiwanya bagi Arash. Senyuman yang selalu pria itu tunjukkan, seolah hilang bersamaan dengan Putri.


Tak ada lagi canda dan tawa seperti dulu. Bahkan, Arash menghabiskan waktunya dengan bekerja.


"Rash, kamu datang kan nanti malam?" tanya Abash.


Malam yang di sebutkan oleh Abash adalah malam di mana mereka merayakan kemenangan Abash dalam memenangkan tender. Begitu juga dengan perpisahan dengan Sifa, karena gadis itu akan melanjutkan S2 nya si London.


Semua biaya kuliah Sifa, di tanggung oleh perusahaan tempatnya bekerja. Ya, sesuai janji dari perusahaan, siapapun yang berhasil bergabung ke tim Cobra, maka dia akan mendapatkan fasilitas kuliah lanjutan ke luar negeri.


"Maaf, sepertinya aku gak bisa, Bash. Aku harus dinas malam," ujar Arash dan berlalu meninggalkan kembarannya itu.


Abash hanya menghela napasnya pelan. Entah mengapa, dia merasa sedang tertukar jiwanya dengan sang kembaran. Dulu, dirinya yang selalu menyibukkan diri untuk bekerja. Bahkan, Abash terbilang cukup jarang tersenyum. Tapi sekarang, dirinya telah menjadi kebalikan dari dirinya yang dulu.


Abash yang sekarang, lebih berwarna dari pada Abash yang dulu. Semua itu karena Sifa.


Ya, semua karena dirinya telah menemukan belahan jiwanya.


Lalu, di mana Putri sekarang?


"Miskaaa ..."


Gadis yang di panggil namanya pun menoleh, dia tersenyum kepada atasannya itu.


"Tolong kamu antarkan pesanan ini ke tamu yang ada di sebelah sana," titahnya.


"Baik, pak."


Miska pun mengambil nampak yang berisi ayam goreng dari tangan manager tempatnya bekerja. Gadis itu pun mengantarkan ayam goreng tersebut ke meja yang di tunjuk oleh manager tersebut dengan senyuman yang merekah.

__ADS_1


Miska, gadis cantik dengan rambut berwarna pirang dan bola mata berwarna hijau. Siapapun yang melihat senyumannya, pasti akan terpukau.


__ADS_2