
Mama Nayna, Mama Kesya, Papa Arka, Papa Satria, Bara, Zia, dan juga beberapa keluarga yang lainnya telah tiba di London. Sifa pun sudah menunggu seluruh keluarga barunya itu di depan pintu rumah sakit.
"Mama," sapa Sifa saat sudah melihat kehadiran calon mertuanya itu.
"Sayang." Mama Kesya pun langsung memeluk Sifa dan menumpahkan tangisnya di dalam pelukan calon menantunya itu.
"Mas Arash baik-baik aja, Mama tenang aja, ya?" bisik Sifa.
"Bagaimana dengan Putri?" tanya Mama Nayna yang juga sudah meneteskan air mata.
Sifa pun merelai kan pelukannya dengan Mama Kesya. Bibir gadis itu bergetar saat mengatakan bagaimana kondisi Putri saat ini.
"M-mbak Putri masih belum sadarkan diri, Tante," lirih Sifa.
Tubuh Mama Nayna pun terasa lemas, untungnya Papa Satria dengan sigap menahan tubuh sang istri.
"Ma ..." bisik Papa Satria menyadarkan sang istri.
"Putri ...hiks ... Putri ...."
Papa Satria pun langsung menggendong Mama Nayna ala bridal style, Sifa pun langsung menunjuk ke arah mana kamar inap Arash berada. Sifa sengaja mengajak ke kamar inap Arash, karena kamar inap Putri tidak di perbolehkan banyak orang yang memasukinya.
Zia menatap datar ke arah Mana Nayna, ada rasa bersalah, iba, dan juga benci yang bercampur secara bersamaan.
"Dek?" tegur Bara yang sedari tadi merasa jika Zia terlihat lebih banyak diam, saat keberadaan Putri telah di temukan.
Zia yang sekarang tidak seperti Zia yang dulu, di mana dia sangat menyayangi Putri dan tidak bisa jauh kakaknya itu. Tapi, saat mendapatkan kabar tentang Putri, kenapa Zia terlihat tenang dan tidak berekspresi sama sekali?
"Zia cari makan dulu, Mas. Zia lapar," ujar Zia dan berbalik badan.
Bara menatap punggung sang adik yang semakin menjauh. Pria itu pun menghela napasnya dengan pelan. Bara akhirnya memutuskan untuk mengikuti sang adik.
*
__ADS_1
"Ma," sapa Arash dan ingin mencium punggung tangan sang mama.
"Sayang, hiks ..." Mama Kesya langsung memeluk tubuh Arash, menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang mama.
"Arash gak papa, Ma. Arash baik-baik aja," ujar Arash menenangkan sang mama.
Mama Kesya masih menangis sesenggukan di dalam pelukan sang putra, sedangkan Mama Nayna langsung ikut memeluk tubuh Arash yang masih di peluk oleh Mama Kesya.
"Terima kasih, Arash, dan maaf," lirih Mama Nayna.
"Dengan syarat, Tante," sahut Arash, sehingga membuat Mama Kesya dan Mama Nayna merelai pelukannya.
"Apa syaratnya, sayang?" tanya Mama Nayna.
"Nikahkan Arash dengan Putri, setelah dia siuman," pinta Arash.
Mama Nayna langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tentu, sayang. Tentu."
*
Dari kejauhan, Zia menatap nanar sang mama yang mengabaikan dirinya saat ini. Saat baru tiba di London, Zia mengalami keram perut, karena datang bulan, tetapi gadis itu memilih diam dan menahannya. Saat mereka tiba di rumah sakit, Zia masih diam dan mencoba menahannya sendiri.
Zia beralasan mencari minum kepada Bara, sebenarnya gadis itu mendatangi ruang IGD untuk memeriksakan diri. Untungnya Bara mengikuti sang adik, hingga akhirnya Bara tau, jika Zia sedang menahan sakit sedari tadi.
Bara sudah mengatakan kepada Mama Nayna, jika Zia sedang di rawat di IGD, tapi reaksi dan fokus Mama Nayna masih tertuju kepada Putri yang terbaring lemah di atas brankar nya.
"Salahkah aku jika membenci Mbak Putri, Mas?" lirih Zia yang sudah meneteskan air matanya saat ini.
Bara menarik lengan Zia dan memeluk tubuh sang adik. Pria itu membiarkan sang adik menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.
"Aku benci dia, Mas. hiks ... aku benci dia."
__ADS_1
Tak sekali pun Mama Nayna menanyakan keadaan Zia, wanita paruh baya itu terlalu larut dalam kesedihannya terhadap Putri tirinya itu.
"Tante, sebaiknya Tante istirahat dulu, biar Arash yang menjaganya," ujar Arash mengambil atensi Mama Nayna.
"Tapi---"
"Tante harus makan, biar Tante memiliki tenaga," titah Arash.
Mama Nayna pun akhirnya mengalah, karena di belakang Arash ada Papa Satria.
"Baiklah. Kabari Tante jika ada perkembangan terhadap Putri," pesan Mama Nayna.
"Iya, Tante."
Mama Nayna pun keluar dari ruangan Putri, wanita paruh baya itu mengikuti sang suami yang saat ini sedang menuntunnya menuju kamar Arash.
Untungnya Papa Arka mengenal si pemilik rumah sakit, di mana Putri dan Arash menjalani pengobatan. Jadi, Papa Arka menggunakan koneksinya untuk menyewa satu kamar yang ada di rumah sakit, untuk mereka tempati.
Syukurlah, pemilik rumah sakit menyetujuinya dan memberikan izin kepada Papa Arka untuk tinggal di kamar inap Arash. Bahkan, saat ini kamar itu sudah lebih mirip dengan kamar losmen, karena kamar tersebut sudah terisi dengan kasur angin yang diletakkan di atas tikar lipat.
Papa Arka, Mama Kesya, Papa Satria, Mama Nayna, Arash, Bara, dan juga Zia pun tidur di kamar yang sama. Sedangkan Abash, pria itu memilih untuk tidur di hotel.
Sebenarnya Zia ingin tidur di hotel, tapi Bara melarangnya, karena kondisi tubuh Zia yang sedang kurang fit di saat adiknya itu mendapatkan tamu bulanan.
"Ma, Zia sakit," adu Bara kepada sang mama, berharap jika Mama Nayna memberikan sedikit perhatiannya kepada sang adik.
"Mana Zia?" tanya Mama Nayna.
"Ada, dia sekarang sedang melakukan pemeriksaan. Apa Mama tidak ingin menemani Zia?" tanya Bara.
"Biarkan Mama kamu makan dulu, Bara," tegur Papa Satria.
Bara menghela napasnya pelan, pria itu pun menganggukkan kepalanya dan bangkit dari tempat duduknya. Entah mengapa, melihat reaksi Mama Nayna yang biasa saja saat mendengar Zia sakit, ada rasa sakit hati di dalam hati Bara.
__ADS_1
"Setidaknya Mas ada untuk kamu, Dek," batin Bara dengan mengepalkan tangannya.