Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 290- Calon Mantu


__ADS_3

"Pria itu adalah Soni, anak dari sahabat baik saya," ujar Papa Satria.


Arash mengepalkan tangannya, hingga buku-buku tangan pria itu pun memutih. Darahnya berdesir hebat dan terasa panas, seolah ingin menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Di tambah lagi, senyuman Putri yang terlihat sangat bahagia pun, membuat hatinya semakin hancur.


"Aku gak bisa di sini, sebaiknya aku pergi," ujar Arash yang sudah bangkit dari duduknya.


"Tenanglah, kamu jangan terbawa emosi, Rash." Abash pun mencoba menenangkan sang kembaran.


"Jika kamu ada di posisi aku, apa kamu bisa melihat wanita yang kamu cintai bertunangan dengan pria lain?" tanya Arash menahan amarahnya.


"Jika dia bahagia dengan pria tersebut, kenapa tidak?" ujar Abash dari lubuk hatinya terdalam.


"Mencintai itu bukan hanya sekedar untuk memiliki dia. Tapi, mencintai itu juga berarti jika kita ikut bahagia dengan kebahagiaan wanita yang kita cintai," sambung Abash terdengar sangat bijak.


"Kalau ngomong aja enak, Rash. Kamu gak rasain sih apa yang aku rasakan," ketus Arash.


Arash sudah berdiri, kemudian pria itu terkejut dengan keberadaan sang mama yang ada di belakangnya.


"Duduklah, sayang," titah Mama Kesya dengan lembut.


"Tapi, Ma?" Mata Arash sudah memerah, tetapi pria itu tidak bisa melawan ratu di keluarganya.

__ADS_1


"Duduklah, jangan buat acara ini berantakan karena perasaan kamu yang sedih," bisik Mama Kesya sambil mengusap punggung Arash.


Arash pun kembali duduk, di ikuti dengan Mama Kesya yang juga sudah duduk di sebelahnya. Sebagai seorang ibu, Mama Kesya pun menggenggam tangan sang putra dengan penuh kelembutan dan kehangatan.


"Saya rasa semaunya sudah mengenal Soni," ujar Papa Satria dengan tersenyum lebar.


"Soni ini adalah keponakan angkat saya, di mana dia adalah seorang pria yang sangat pintar, bijaksana, dan dewasa," sambung Papa Satria. "Sayangnya masih jomblo," kekeh Papa Satria yang mana membuat semua orang ikut tertawa.


"Ah Om, bisa aja," ujar Soni dengan malu-malu.


"Ya, Om kan sekalian promosi gitu, mana tau dari pihak keluarga Pak Arka ada calon yang pas untuk kamu," kekeh Papa Satria.


Mama Kesya melirik ke arah sang putra, di mana Arash terlihat mengabaikan apa yang di katakan oleh Papa Satria. Mama Kesya sudah bermain mata dengan Mama Nayna, di mana seolah dari pancaran matanya mengatakan jika Arash sedang merajuk saat ini.


"Putri, sini sayang," panggil Papa Satria.


Dengan tersenyum sangat manis, Putri bangkit dari duduknya dan menghampiri Papa Satria dengan di dampingi oleh Mama Nayna.


"Dan untuk pihak prianya, Arash, ayo maju ke sini," panggil Papa Satria.


Arash yang di panggil pun masih mengabaikan suara Papa Satria. Pria itu benar-benar menuliskan telinganya, karena tak ingin melihat dan mendengar kebahagiaan orang-orang yang ada di sekitarnya tertawa di atas penderitaannya.

__ADS_1


"Rash, kamu di panggil calon mertua itu. Gak mau maju ke depan?" bisik Mama Kesya.


"Ma, tolong jangan ganggu Arash," lirih Arash yang sudah menahan air matanya.


"Rash, kalau kamu gak maju ke depan, entar Soni beneran loh tunangan sama Putri, kamu mau?" tanya Mama Kesya, kali ini Arash menoleh ke arah sang mama dengan kening mengkerut.


"Maksud Mama?"


"Calon mantu, mau pakaikan cincin ke jari Putri, gak?" panggil Mama Nayna sambil mengulum senyumnya.


Arash menoleh ke arah sumber suara, kemudian dia menoleh ke arah sang mama yang sudah tersenyum sangat manis kepadanya.


Arash pun menoleh ke arah sang kembaran, di mana Abash sudah tersenyum miring dengan gaya menyebalkannya. Merasa tak yakin dengan apa yang dia duga, Arash kembali menoleh ke arah semua orang yang saat ini benar-benar menatapnya dengan tersenyum penuh arti.


Apa saat ini dia sedang di kerjai masal?


Kenapa? Bagaimana bisa dia tidak menyadari akan hal itu?


"Calon mantu, mau tunangan sama Putri, gak?" tanya Mama Nayna dengan tersenyum lebar.


Arash menoleh ke arah Mama Kesya, menatap wanita paruh baya yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu pun dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Ma, maksudnya gimana ini? Kok Tante Nayna panggil Arash calon mantu?"


__ADS_2