
"Apa yang kamu lakukan??"
Sontak saja Sifa terkejut dan menjatuhkan hanger tersebut ke lantai, beserta dengan semvaak yang ada di ujung hanger tersebut.
"P-pak Abash?" lirih Sifa.
Mata Abash pun turun ke lantai, di mana dia melihat semvaak dan hanger tergeletak di sana. Abash pun menelan ludahnya dengan kasar, tiba-tiba saja dia merasa jika telinganya terasa panas.
"Ka-kamu mau apain semvaak saya?" tanya Abash menahan malu, tetapi juga ada rasa bangga di mana ukuran semvaaknya bukanlah ukuran yang kecil.
Ya, itu membuktikan jika sesuatu di bawah sana bisa di katakan cukup besar laah...
"Ta-tadi itu jatuh di kaki saya, Pak. Saya kira apaan, trus saya buka dan ternyata...." Sifa menggigit bibirnya.
"Dan ternyata? Ini semvaak milik saya, terus kamu lempar begitu aja? terus kamu ambil lagi dengan menggunakan hanger?" tanya Abash.
"Sejijik itu kah?" tanyanya lagi.
"Buk-bukan gitu, Pak. Tapi-- Saya...."
"Bash? Lama amat sih? Cepetan?" pekik Arash yang tiba-tiba saja baru masuk ke dalam apartemen.
Mendengar suara Arash, Sifa dan Abash pun saling pandang. Kemudian Abash pun berlari menuju Sifa dan menyuruhnya kembali bersembunyi ke dalam lemari.
"Cepet," ujar Abash sambil membukakan pintu lemari untuk Sifa.
__ADS_1
Sifa pun bergegas kembali masuk ke dalam lemari mengikuti perintah sang bos.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arash yang mana membuat Abash dan Sifa membelalakkan matanya.
Arash tersenyum miring, pria itu sudah menduga jika ada yang tak beres dengan sang kembaran. Saat mereka keluar dari apartemen untuk mencari makanan, Arash sempat melihat dua pasang sepatu wanita di rak sepatu yang ada di dekat pintu. Hal itu lah yang membuat Arash mengikuti sang kembaran saat mengatakan jika ada yang tertinggal di dalam apartemennya.
Dan, di sinilah mereka. Abash dan Sifa yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk.
"Apa kalian tinggal bersama?" tanya Arash.
"Tidak."
"Tidak." jawab Abash dan Sifa berbarengan.
"Tidak." jawab Sifa cepat yang mana membuat Abash melirik ke arahnya.
"Arash, aku akan jelaskan semuanya dari awal. Bagaimana Sifa bisa tinggal di apartemen ini," ujar Abash kepada sang kembaran.
"Oke, aku akan mendengar penjelasan kalian berdua. Tetapi, setelah mengisi perut aku dulu," ujar Arash dan berdiri dari duduknya.
"Ayo kita cari makan, aku udah lapar," ajak Arash. "Kamu juga, Sifa," titahnya lagi.
"Sa-saya juga ikut, Pak?" tanya Sifa.
"Iya, apa ada Sifa yang lain di sini?" tanya Arash yang mana di jawab gelengan oleh Sifa.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, Ayo."
Arash pun berjalan duluan, kemudian di susul oleh Sifa dan Abash.
Tak jauh dari gedung apartemen Abash, mereka sengaja makan di sebuah cafe yang tak terlalu besar, tetapi makanan di sana cukup enak.
"Kamu pesan apa Sifa?" tanya Arash sambil membuka buku menu.
"Sa-saya masih ke--"
"Pesankan saja kenyang goreng untuk Sifa," jawab Abash memotong ucapan Sifa.
Arash mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah sang kembaran. "Oke, kalau kamu?" tanyanya lagi.
"Samain dengan kamu."
"Baiklah." Arash pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan makanan mereka.
"Mie goreng basah dua, pakai telur ceplok yaa. Terus kentang goreng spesialnya satu," ujar Arash menyebutkan pesanan mereka.
Pelayan pun mencatat pesanan makanan pelanggannya, kemudian dia pun pamit undur diri untuk menyiapkan pesanan pelanggannya.
"Jadi, bisa kalian jelaskan sekarang saja?" tanya Arash tiba-tiba.
"Oke, aku yang akan jelaskan," jawab Abash.
__ADS_1