Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 171 - Tinggal bertiga


__ADS_3

Putri sudah bertemu dengan Naya, gadis itu pun juga sudah membuat jadwal ulang untuk konsultasi selanjutnya.


"Baiklah, Mbak Putri, sampai ketemu di lain waktu ya," ujar Naya di saat Putri pamit kepadanya.


"Iya, Dokter."


Putri pun keluar dari ruangan Naya, gadis itu pun mencari keberadaan Abash.


"Di mana Pak Abash? Apa sudah pulang?" lirih Putri dan memilih untuk menghubungi Luna, mumpung dirinya berada di rumah sakit, jadi dia bisa bertemu dengan sahabatnya yang super sibuk itu.


"Jangan hubungi siapa pun untuk sementara waktu ini," ujar Abash yang sudah merebut ponsel Ponsel Putri dari tangan gadis itu.


Putri pun terkejut dengan keberadaan Abash yang tiba-tiba dan mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu.


"Kenapa?" tanya Putri.


"Hanya untuk berjaga-jaga saja," jawab Abash sambil mengembalikan ponsel gadis itu.


"Ayo, kita cari makan siang," ajak Abash yang di angguki oleh Putri.


Mereka pun pergi menuju cafe yang tak jauh dari rumah sakit.


"Apa anda tidak mengajak pacar Anda untuk makan siang bersama?" tanya Putri.


"Anda pikir saya akan membahayakan dirinya?" tanya Abash balik yang mana membuat Putri merasa bersalah.


"Maaf," cicit Putri, kemudian gadis itu menghela napasnya pelan. Entah apa yang ada di dalam pikiran Putri, hanya gadis itulah yang tahu.


Putri menatap ke arah luar jendela, gadis itu menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar sana.


''Boleh saya minta satu hal sama, Anda?" tanya Abash yang mana mengambil alih perhatian Putri.


"Ya?" Putri pun menoleh ke arah pria yang duduk di hadapannya saat ini.


Abash membenarkan letak duduknya, dari yang terlihat santai dengan duduk bersandar di sandaran kursi, membuat pria itu menegakkan punggungnya dan menatap mata Putri dengan lekat.

__ADS_1


"Tolong, jangan katakan kepada siapa pun, kalau saya sudah memiliki pacar," ujar Abash dengan wajah serius. "Termasuk kepada Arash," sambungnya lagi.


Putri mengerjapkan matanya, gadis itu pun memiringkan kepalanya seolah sedang berpikir. Mencerna apa yang di katakan oleh rekan kerjanya itu.


"Tunggu, apa hubungan kalian tidak di restui?" tanya Putri yang mana membuat Abash mengernyitkkan keningnya.


"Maaf, bukannya saya ingin tahu lebih jauh tentang hubungan kalian, tetapi ....? Putri tiba-tiba terdiam karenan melihat rauat wajah Abash yang tidak bersahabat. "


Maaf," lirih Putri akhirnya karena tidak memiliki alasan yang tepat untuk menjelaskan apa yang dia maksud.


"Baiklah, saya rasa Anda sudah paham dengan apa yang saya maksud," ujar Abash dan kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan tangan yang terlipat di atas perut.


Tak berapa lama pesanan makanan mereka pun tiba. Putri dan Abash terlihat menikmati makanannya.


"Enak juga makanan di sini," lirih Putri dan kembali melihat interior cafe tersebut.


"Desainnya bagus dan mewah, makanannya enak, harganya juga jauh lebih murah dari cafe biasanya," lirih Putri menilai semua yang ada di dalam cafe tersebut.


"Keren banget ide yang bikin cafe ini, sepertinya pemiliknya tidak mencari untung banyak dengan memanfaatkan lokasi yang memang dekat dengan rumah sakit," ujar Putri yang di dengar jelas oleh Abash.


Tentu saja makanan di cafe tersebut terasa enak, karena pemiliknya adalah Mami Vina.


Ya, Mami Vina juga memiliki sebuah cafe dengan makanan yang nikmat dan harga merakyat. Untuk itu, Mami Vina sengaja mencari lokasi yang dekat dengan rumah sakit, apa lagi kebanyakan makanan yang ada di rumah sakit terbilang biasa saja dan kurang mengunggah selera makan. Untuk itulah, Mami Vina membuka cafenya sendiri.


Tentu saja hal itu membuat Papi Vano harus merogoh kocek yang dalam, karena lokasi yang di inginkan oleh Mami Vina bukanlah lokasi yang biasa-biasa saja, akan tetapi lokasi yang memang menjadi pusat bagi para pengunjung dan juga keluarga pasien untuk mengisi perut mereka.


"Ah ya, ada satu hal lagi yang ingin saya katakan," ujar Abash yang mana kembali mengambil perhatian Putri.


"Ya?" Putri kembali menatap ke wajah Abash.


"Untuk sementara, tinggallah bersama Arash. Di sana kamu akan aman dari ancaman," ujar Abash yang mana membuat Putri mengerjapkan matanya.


Kejadian pagi ini membuat gadis itu merasa tak enak untuk kembali menginap di tempat pria itu.


"Tidak, saya takut merepotkan Arash. Sebaiknya saya mencari tempat tinggal baru saja," tolak Putri yang mana membuat Abash menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, itu akan semakin berbahaya untuk Anda. Kamu akan aman jika berada di dekat Arash, atau pun saya," ujar Abash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Kenapa begitu? Bukannya Anda juga menjadi salah satu target mafia itu?" tanya Putri penuh selidik.


Abash yang memang tidak mudah untuk di baca pemikirannya membuat Putri sedikit sulit untuk menebak apa tujuan dan maksud pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Percayalah, ini demi kebaikan Anda," tegas Abash yang mana membuat Putri menghela napasnya dengan sedikit kasar.


*


Putri menatap menu makan malam yang ada di atas meja. Tadinya gadis itu ingin membuat makan malam untuk dirinya dan juga si kembar yang berbeda karakter serta ekspresi itu. Namun, Putri mengurungkan niatnya karena Arash sudah memesam makanan untuk mereka makan malam ini.


Putri menoleh ke arah Abash yang baru saja ikut bergabung di meja makan. Terlihat pria itu memakai pakaian yang lebih santai dari biasanya.


"Malam ini kita akan menginap bertiga di sini," ujar Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Yakin bertiga?" tanya gadis itu yang merasa ragu dengan apa yang Arash katakan.


Bukan tanpa alasan Putri merasa ragu, akan tetapi gadis itu sangat mengingat dengan jelas, jika kemarin Arash juga mengatakan hal yang sama kepadanya, jika mereka akan tinggal bertiga di apartemen tersebut.


"Iya, saya akan tinggal untuk sementara waktu di sini, sampai keadaan menjadi aman," jawab Abash sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Ayo, makan," ajak Arash dengan tersenyum lebar.


"Pinggang lo gimana?" tanya Abash kepada Arash.


"Udah lumayan, tadi siang Tono datang buat ngantar makan siang, jadi gue minta tolong ke dia untuk kompres pinggang, jadi ya lumayan udah terasa enakan dikit," jawab Arash.


"Hmm, besok kalau masih nyeri, ke rumah sakit aja. Biar di sinar," saran Abash.


"Eh, lo gak kasih tau Mama kan soal ini?' tanya Arash merasa khawatir jika sang mama akan tahu jika apa yang terjadi dengannya saat ini.


"Kalau Mama sudah tahu, pasti Mama sudah hebok ke sini dan suruh lo pulang," jawab Abash yang di angguki oleh Putri.


Melihat komunikasi antara Abash dan Arash, membuat Putri merindukan keluarganya.

__ADS_1


"Hmm, semoga mereka baik-baik saja," batin Putri.


__ADS_2