
Sifa dan Naya baru saja membeli minuman untuk seluruh keluarga yang sedang membaca Yasin di depan ruang operasi sejak tiga jam yang lalu. Baru saja Sifa melangkahkan kakinya keluar dari kantin, tiba-tiba saja wanita itu merasa mual di saat mencium aroma ayam goreng yang tercium dengan indra penciumannya.
"Uwmhh ..." Sifa menelan kembali angin yang ingin keluar dari mulutnya.
"Ada apa, Fa?" tanya Naya yang melihat sifa menutup mulutnya.
"Gak papa, yuk." Sifa dan Naya pun melanjutkan kembali langkah mereka.
Sifa sudah merasa jika kepalanya terasa berat dan pusing, di saat wanita itu membagikan air minum kepada keluarga suaminya.
"Zi, ini minum dulu," tawar Sifa.
Zia yang merasa jika tenggorokannya kering pun, mengambil air mineral dalam kemasan botol yang ada di tangan Sifa. Baru saja Zia ingin meraih botol mineral tersebut, tiba-tiba saja botol air mineral yang ada di tangan Sifa pun terjatuh, bersamaan dengan wanita itu.
Zia pun bergegas menarik lengan Sifa, agar kepala wanita itu tidak terjatuh ke lantai.
"Mbak Sifaa ..."
"Sifaaa ..."
Abash langsung melompat dari tempat duduknya, pria itu mengambil alih tubuh sang istri dari pangkuan Zia.
__ADS_1
"Sifa ...." panggil Abash saat pria itu membawa Sifa ke dalam gendongannya.
Mama Nayna dan Mama Kesya langsung menghampiri Zia yang terlihat meringis kesakitan, karena tubuh Sifa membentur kaki Zia.
"Bawa Sifa ke IGD, Bash," titah Mama Kesya yang langsung d angguki oleh Abash.
"Kamu gak papa, Zia?" tanya Mama Kesya dan memwriksa kondisi kaki Zia.
"Gak papa, Tante, hanya sedikit ngilu saja," jawab Zia sambil tersenyum.
"Sebaiknya kamu juga harus di periksa, Zia" titah Mama Kesya yang di setujui oleh Mama Nayna.
"Iya, sayang. Kamu juga harus di periksa," ujar Mama Nayna menyetujui perkataan Mama Kesya.
Di dalam ruang operasi.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Mbak Anggel kepada Mami Anggun. "Apa kita bisa menyelamatkan keduanya?"
Mami Anggun menghela napasnya berat. Permintaan Arash untuk menyelamatkan Putri sepertinya sangat mustahil. Pendarahan yang Putri alami nyatanya membuat wanita itu banyak kehilangan darah saat di perjalanan menuju ke rumah sakit. Walaupun pihak rumah sakit sudah menyetok golongan darah untuk Putri, akan tetapi kejadian seperti ini sudah di luar prediksi pihak tim medis.
"Mi?" tegur Mbak Anggel yang sudah melupakan status dari wanita yang memimpin operasi kali ini.
__ADS_1
"Kita selamatkan dulu persentase hidup yang lebih besar," titah Mami Anggun.
"Tapi, Mi? Arash sudah menandatangani surat pernyataan untuk menyelamatkan Putri!"
Mami Anggun pun menoleh ke arah iparnya itu. "Sebaiknya kita berdoa, agar operasi ini berjalan dengan baik dan lancar."
Mami Anggun pun berusaha untu menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Putri, seperti apa yang di minta oleh wanita itu sebelum mendapatkan obat bius.
"Mi, luka terdalam seorang ibu adalah kehilangan bayinya. Surga bagi seorang ibu adalah di saat berjuang melahirkan bayinya dengan mempertaruhkan nyawanya. Putri mohon, Mi, selamat bayi Putri. Jangan biarkan Putri kehilangan bayi Putri. Biarkan Putri pergi dalam keadaan berjihad, Mi," mohon Putri kepada Mami Anggun.
Mami Anggun kembali menghela napasnya berat, wanita itu akan berusaha semaksimal dan sekuat tenaganya untuk menyelamatkan Putri dan bayi yang ada di dalam perut wanita itu.
*
Pintu ruangan operasi terbuka, Arash langsung berdiri dan menghampiri Mami Anggun
"Bagaimana, Mi? Bagaimana dengan Putri?" tanya Arash dengan jantung yang berdebar.
"Rash, sebaiknya kamu mengambil air wudhu untuk mengazani Putri kamu," titah Mami Anggun yang mana membuat tubuh Arash melemas.
Melihat reaksi Mami Anggun yang terlihat sedih dan menahan tangis, membuat Arash bisa menebak apa hasil dari operasi yang di jalani oleh Putri.
__ADS_1
"Rash, kamu harus kuat," bisik Papa Arka yang sudah meremas bahu Arash dengan penuh kehangatan.