
Mama Kesya sudah *******-***** jari jemarinya, di saat melihat kondisi Rayyan dan Yumna yang terbaring lemah dengan suhu tubuh yang tinggi bagi anak seusianya.
"Bagaimana, Ma? Apa Kata Tante Nayna?" tanya Anggel yang sudah menghampiri Mama Kesya.
"Mbak Nayna akan berusaha untuk membujuk Zia. Tapi, Mbak Nayna tidak bisa menjamin, apa Zia mau ikut atau tidak ke rumah sakit," ujar Mama Kesya dengan hati yang gundah.
Memang, kedatangan Zia mungkin tidak akan membuat demam Yumna dan Rayyan langsung turun. Akan tetapi, setidaknya kehadiran Zia dapat mengaliri energi positif bagi Yumna dan Rayyan.
"Apa kita bawa saja Rayyan dan Yumna ke rumahnya, Ma?" usul Anggel.
"Tidak, jangan. Mama khawatir jika akan terjadi sesuatu di perjalanan nanti dengan Yumna atau Rayyan," tolak Mama Kesya.
"Tapi, Ma!"
"Kalau dia tidak mau datang, sebaiknya jangan di paksa, Ma. Biarkan saja!" ujar Arash menyela pembicaraan Mama Kesya dan Anggel.
Anggel berpaling menatap ke arah sumber suara. Terlihat raut wajah marah dan kecewa terpancar dari aura wajahnya. Bahkan, mata Anggel sampai memerah Sakin geramnya dengan Arash.
"Ini semua karena kamu, Rash. Karena kamu yang sudah bersikap kurang ajar kepada Zia," bentak Anggel.
"Ya, semua karena salah aku, Mbak. Salah aku yang sudah berbuat tak baik kepadanya. Salah aku yang terlalu mencintai Putri dan selalu melihat wajah Putri di wajahnya. Salah aku, Mbak. Salah aku memang!" sahut Arash dengan suara yang menggelegar.
"Tapi, anak aku gak salah apa-apa, Mbak. Anak aku gak salah. Kenapa dia sampai menghukum anak-anak aku, Mbak? Kenapa?" bentak Arash dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak ada yang menghukum anak-anak kamu, Rash. Tidak ada."
Arash, Mama Kesya, dan Anggel pun menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Mama Nayna yang sedang mendorong kursi roda yang tengah di duduki oleh Zia.
"Tidak ada yang menghukum Rayyan dan Yumna. Tidak ada." ulang Mama Nayna lagi.
"Sebagai korban dari perbuatan tak senonoh kamu, bukankah Zia memiliki hak untuk menjauh?" sambung Mama Nayna.
"Ma!" Arash terlihat sangat terkejut.
Lagi, dia kembali membuat Mama Nayna merasa kecewa kepada dirinya. Secara tak sengaja, Arash kembali menorehkan luka di hati Mama Nayna.
"Ma, Arash gak bermaksud untuk---"
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat membenci Zia, Rash? Kenapa? Bukankah seharusnya Zia yang membenci kamu?" ujar Mama Nayna mengeluarkan rasa kekecewaannya dari dalam hati.
"Ma--"
"Kamu datang ke sini hanya untuk melihat keadaan Yumna dan Rayyan. Bukan berdebat dengan kamu, Rash," tegas Mama Nayna.
"Mbak!" Mama Kesya pun langsung mengambil alih, dia tidak ingin perselisihan ini terjadi semakin berlarut-larut.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam yuk? Lihat keadaan Yumna dan Rayyan!" ajak Mama Kesya.
Mama Nayna mengangguk pelan, dia pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh Zia masuk ke dalam ruangan di mana Yumna dan Rayyan berada.
Mama Nayna dan Zia pun melewati Arash yang saat ini menundukkan wajahnya, merasa malu atau memang tidak berani untuk menatap Mama Nayna atau Zia.
Zia sekuat tenaga berusaha untuk mengabaikan keberadaan Arash di sana. Dia menganggap jika pria itu memang tidak ada dan tidak terlihat.
"Terima kasih, Mbak, Zi, karena sudah mau datang ke sini," ucap Mama Kesya dengan tulus.
"Yumna dan Rayyan juga cucu saya, Mbak. Jadi, sudah seharusnya kami datang untuk melihat keadaan mereka," jawab Mama Nayna.
"Ya, Mbak benar. Tapi, tetap saja saya ingin mengucapkan terima kasih banyak."
"Tante, Zi?" tegur Quin saat melihat kedatangan Zia dan Mama Nayna.
Quin hendak berdiri, akan tetapi di larang oleh Mama Nayna. Lagi pula, wanita itu sedang menggendong Yumna.
"Bagaimana keadaan Yumna, Mbak?" tanya Zia yang sudah mendekat ke arah Quin.
"Demamnya masih tinggi. Ini baru saja tertidur, setelah rewel beberapa jam-an," jawab Zia.
"Kamu mau menggendongnya?" tawar Quin yang di jawab gelengan dengan Zia.
"Takutnya Yumna terbangun lagi, Mabk. Jadi, biarkan dia tidur nyenyak di dalam gendongan, Mbak," ujar Zia memberikan alasan.
"ti ... Uti ... Uti ..."
Zia menoleh ke arah sumber suara, di mana ternyata Rayyan sudah terbangun. Mungkin Rayyan terbangun karena mendengar suara Zia.
__ADS_1
"Rayyan udah bangun?" tanya Zia dan mendorong tombol agar kursi rodanya mendekat ke arah Raysa dan Rayyan.
"Utiii ...." Rayyan mengulurkan tangannya kepada Zia, meminta untuk di gendong oleh gadis itu.
Zia pun membalas ukuran tangan Rayyan, sehingga membuat Raysa memberikan Rayyan secara perlahan kepada Zia.
"Rayyan rindu Uti?" tanya Zia kepada keponakannya yang ganteng.
"Ndu .. Layan Ndu Uti ..." ujarnya dan langsung memeluk tubuh Zia.
"Uti juga rindu Rayyan."
Rayyan terlihat kembali menutup matanya sembari mencari tempat ternyaman di dalam pelukan Zia. Tak butuh waktu lama, bayi mungil itu pun tertidur kembali di dalam pelukan orang yang sangat dia rindui.
"Maafin Uti ya, sayang," batin Zia sambil mengusap punggung Rayyan dengan lembut.
Setelah Rayyan terlihat tertidur lelap di dalam pelukan Zia, gadis itu pun meminta kepada Raysa untuk memindahkan Rayyan ke atas tempat tidur, agar tidur balita itu lebih terasa nyaman dengan posisi yang lurus.
Baru saja Raysa meletakkan Rayyan di atas brankar, tiba-tiba Yumna menangis dengan kuat, sehingga membuat Rayyan kembali terbangun.
"Uti ... Uti ... Uti ..."
Mama Nayna sontak saja meneteskan air matanya di saat Rayyan yang sedang demam, malah memanggil-manggil nama Uti, dari pada memanggil nama sang mama.
Kalau di pikir-pikir, sejak Putri meninggal dunia, Rayyan seolah tidak terlihat menangis dan merindui sosok ibunya itu hingga sampai demam seperti ini. Bahkan, setiap Rayyan menangis menyebut nama Mama, Zia langsung datang dan memeluknya. Tangisan Rayyan pun seketika mereda, balita itu pun seolah tidak teringat apa yang membuatnya menangis tadi. Kedatangan Zia langsung membuat Rayyan tertawa bahagia.
"Iya, sayang. Uti di sini." Zia pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Rayyan.
"Utiii ...."
Tangisan Yumna semakin kuat, membaut Quin akhirnya turun dari brankar dan memberikan Yumna kepada Zia.
Benar saja dugaan Quin, tangisan Yumna langsung reda di saat bayi mungil itu sudah berada di dalam gendongan Zia.
"Ma, apa mereka merasa jika Zia adalah ibunya?" bisik Quin kepada Mama Kesya yang masih di dengar oleh Mama Nayna.
"Atau, detak jantung Zia seirama dengan detak jantung Putri? Sehingga membuat Rayyan dan Yumna merasa jika ibunya masih hidup?" sambung Quin.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, Quin? Setiap orang itu detak jantungnya selalu berbeda-beda. Gak mungkinlah kalau detak jantung Zia sama dengan Putri. Memangnya jantung Putri di donorkan ke Zia?" ujar Mama Kesya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Ma. Bisa saja dugaan Quin itu benar," sahut Anggel yang merasakan hal yang sama dengan apa yang Quin rasakan.