
"Syukurlah kalau Mas Arash ternyata tidak menyukai saya, karena hal itu pasti akan membuat hubungan kita menjadi merasa tak nyaman," ujar Sifa yang di angguki oleh Arash.
Abash yang mendengar ungkapan perasaan dari sang kembaran pun ikut merasa lega, karena ternyata jika dugaannya tentang Arash adalah benar.
Awalnya Abash memang berpikir jika sang kembaran menyukai Sifa, tetapi di saat melihat pria itu seberapa khawatirnya dengan Putri, membuat Abash berpikir jika sebenarnya yang di cintai oleh Arash adalah Putri, bukan Sifa.
Namun, apakah pria itu menyadari perasaanya kepada Putri?
"Aku juga bersyukur, karena ternyata aku tidak mencintai kamu," ujar Arash dengan tersenyum lebar tanpa beban.
Sifa pun menghapus air matanya, gadis itu merasa penasaran siapa sebenarnya gadis yang di sukai oleh kembaran sang kekasih.
"Lalu, siapa gadis yang Mas Arash cintai?" tanya Sifa yang ternyata menjadi pertanyaan perwakilan dari Abash.
"Gadis yang aku cintai?" lirih Araash dan terlihat seolah berpikir.
Saat ini yang ada di dalam pikiran pria itu hanya ada Putri. Apakah pria itu mencintai Putri?
Tidak, Arash tidak mencintai Putri, pria itu hanya merasa jika dia berkewajiban untuk menjaga gadis itu. Selain dari sifatnya yang terlihat tegar, kuat, dan di kelilingi oleh orang-orang yang hebat dan sayang kepadanya, Arash hanya berniat untuk melindungi gadis itu, karena dia adalah anak dari teman sang papa. Untuk itu, Arash selama ini menjaga Putri, seperti apa yang dia lakukan kepada saudara-saudaranya, tidak lebih.
Dan juga, tidak ada yang salah kan dengan hal itu? Lagi pula Putri jauh dari keluarganya. Sebagai orang yang paling dekat dengan Putri, sudah sewajarnya dia melindungi gadis itu, kan?
Seperti saat ini, Arash mengkhawatirkan Putri karena takut jika gadis itu terluka karena jauh dari pengawasannya.
Lupakah Arash tentang pengawal bayangan yang di kirimkan oleh Abash untuk Putri? Pria itu benar-benar gak peka dengan perasaannya sendiri ternyata.
"Gadis yang aku cintai?" ulang Arash yang terlihat sedang berpikir. "Tidak ada," jawab Abash dengan penuh keyakinan.
Abash yang mendengar jawaban sang kembaran pun sampai mengernyitkan keningnya.
"Benarkah tidak ada?" tanya Sifa memastikan.
"Huum, tidak ada," jawab Arash lagi dengan lebih yakin kali ini.
Abash menghela napasnya dengan pelan. Apakah sifat tak peka yang di miliki oleh Kak Lucas dan Kak Zein saat ini sudah menular kepada Arash? Yang benar saja.
Tak berapa lama pintu pun terbuka. Di sana menampilkan Bunda Sasa dan Daddy Bara.
"Hai jagoan?" sapa Bunda Sasa, seolah sedang berbicara dengan bocah lima tahun kepada Abash.
__ADS_1
"Bunda," sapa Arash dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang bertubuh mungil itu.
Sifa pun ikut mencium punggung tangan Bunda Sasa dan Daddy Bara.
"Bagaimana keadaan kamu? Bash?" tanya Daddy Bara.
"Alhamdulillah, Dad, sudah lumayan enakan," jawab Abash dengan tersenyum lebar.
"Gimana gak cepat enakan, Mas. Orang yang merawat dia aja pakai cinta," goda Bunda Sasa sambil melirik ke arah Sifa.
Gadis itu pun terlihat malu-malu dan menundukkan wajahnya yang merona serta sembab.
"Eh, wajah Sifa kenapa sembab gitu? Habis nangis?" tanya Bunda Sasa dan menangkup wajah gadis itu.
"I-itu---."
"Habis di kerjain sama Arash, Bun. Makannya dia nangis," kekeh Abash yang mana membuat Sifa mencebikkan bibirnya.
"Ah ya, Bunda udah dengar dari Mama, kalau kalian katanya mau nikah bulan depan?" ujar Bunda Sasa dengan tersenyum bahagia.
"Cepat amat tersebar beritanya?" lirih Abash dengan mengulum senyumnya dengan malu.
"Dan kamu, Arash? Kamu kapan nih nyusul Abash?" tanya Bunda Sasa dengan nada menggoda.
"Secepatnya, Bun. Doakan saja semoga cepat nemu jodoh yang tepat," ujar Arash dengan tersenyum manis.
"Amin, pasti Bunda doakan yang terbaik untuk anak-anak Bunda," ujar Bunda Sasa dengan tersenyum manis, semanis madu.
"Rash, ikut Daddy sebentar yuk, ada yang mau Daddy bicarain sama kamu," ajak Daddy Bara yang langsung di angguki oleh Arash.
"Duh, pasti bahas kerjaan," cibir Bunda Sasa sambil melirik sebal ke arah sang suami.
"Demi menyelamatkan dunia, Mungil," ujar Daddy Bara sambil mencuil hidung Bunda Sasa dengan gemas.
"Jangan kangen sama aku, ya. Aku cuma pergi sebentar aja, kok," pamit Daddy Bara yang mana lagi-lagi di jawab dengan cibiran oleh Bunda Sasa.
"Siapa coba yang sering kangen?" kekeh Bunda Sasa sambil menatap kepergian sang suami.
"Jadi sampai di mana tadi? Kalian beneran akan menikah bulan depan?" tanya Bunda Sasa memulai kembali topik pembicaraan awal mereka.
__ADS_1
*
"Ada apa dengan kamu, Rash?" tanya Daddy Bara.
Sore tadi telah di adakan rapat oleh atasan kepolisian untuk menangkap Yosi, tetapi, Arash sebagai pemimpin kasus tersebut pun tidak menghadiri rapat itu. Hal itu membuat atasan mereka mempending surat penangkapan yang akan di tujukan untuk Yosi.
"Maaf, Dad," lirih Arash dengan menyesal.
"Hmm, seharusnya hari ini kita bisa menangkapnya. Daddy khawatir jika dia akan melakukan hal yang berbahaya lagi untuk kamu, Abash, Sifa, dan Putri," ujar Daddy Bara.
"Kenapa Arash juga ikut menjadi target, Dad?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
"Karena kamu berada di dekat Putri. Lagi pula, sepertinya target utama mereka bukanlah Abash, melainkan Putri," ungkap Daddy Bara yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
"Kenapa harus Putri?" lirih Arash dengan bingung.
"Daddy juga belum tau pastinya kenapa. Tapi, seperti yang di selidiki oleh anak buah Daddy, jika Putri-lah yang menjadi target utamanya," ujar Daddy Bara.
"Apa ini ada hubungannya dengan dendam pribadi?" tebak Arash dengan keningnya yang mengkerut.
"Daddy rasa juga begitu. Tapi, ini semua belum pasti. Sebaiknya kita jangan berburuk sangka dulu."
"Kalau begitu Putri saat ini dalam bahaya, Dad?" ujar Arash dengan perasaan khawatir.
"Kamu tenang saja. Putri bersama dengan Soni. Daddy yakin, jika Soni pasti bisa melindungi dia." Perkataan Daddy Bara membuat sesuatu di dalam hati Arash pun merasa tercubit.
"Oh, jadi Putri sudah ada yang melindungi?" ujar Arash dan menghela napasnya, seolah dia merasa lega karena gadis itu sudah berada bersama orang yang tepat.
*
"Tante senang kamu menginap di sini lagi, Put," ujar Tante Riska—istri dari Om Martin.
"Iya, Tante," jawab Putri dengan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat di kamar aja, ya. Tante sudah siapin kamarnya. Ada juga pakaian ganti untuk kamu," ujar Tante Riska dengan tersenyum.
Putri pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar yang sudah dia tempati kemarin.
"Soni?" tegur Tante Riska yang sedari tadi pria itu tidak melepaskan tatapan matanya dari Putri.
__ADS_1
"Iya, Tante, Soni pulang," ujar pria itu dengan terpaksa.
Padahal tadi dia sudah merengek untuk menginapp di rumah Oom-nya itu, akan tetapi Tante Riska melarang, karena Soni adalah pria dewasa yang menyukai Putri.