Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 462


__ADS_3

Arash benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, di saat Lucas menolak untuk menerima donoran hati untuk Putri.


"Rash, lo gak bisa mendonorkan hati lo lagi untuk Putri, Rash," tegas Lucas.


"Kalau Kak Lucas gak bisa ambil setengahnya, maka ambil semuanya, Kak. Ambil hati Arash untuk Putri, Kak. Ambil," pekik Arash.


"Lalu, setelah Kakak mengambil hati kamu? Apa yang akan terjadi dengan kamu, Rash? Kami akan kehilangan kamu untuk selamanya?" tanya Kak Lucas.


"Demi menyelamatan Putri, Kak. Arash rela mati," jawabnya.


Mama Kesya yang mendengar perkataan Arash pun, merasa kakinya lemas hingga tak sanggung menopang tubuhnya. Andai saja Quin tak berada di dekat Mama Kesya, mungkin wanita paruh baya itu pun sudah terjatuh terduduk di lantai, saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang putra yang sudah susah payah dia lahirkan ke dunia.


Mama Kesya benar-benar terkejut mendengar perkataan Arash. Putranya itu begitu mencintai Putri, sehingga dia terlupakan jika Putri bukanlah miliknya. Putri hanya titipan dari Allah, yang di titikan ke Arash sementara waktu, untuk membuat wanita itu bahagia.


"Arash, apa yang kamu katakan? Sadar, Rash, kamu harus sadar dengan ucapan kamu sendiri," bentak Kak Lucas.


"Asal kamu tahu, Rash, kalau Kakak mengambil semua hati kamu dan memindahkannya kepada Putri. Kemungkinan untuk Putri selamat itu juga kecil. Kondisi Putri saat ini benar-benar sangat buruk, Rash. Kemungkinan dia untuk hidup setelah mendapatkan cangkokan hati pun hanya ada dua puluh persen, Rash. Hanya dua puluh persen," tegas Kak Lucas.


"Setidaknya kemungkinan untuk Putri hidup ada, Kak."


"Bagaiman jika Putri tidak bertahan hidup dengan lama? Bagaimana, Rash? Apa kamu senang karena akan bertemu dengan Putri di akhirat?" tanya Kak Lucas.


"Lucas," tegur Quin.


"Biar aja, Quin. Biar dia bisa berpikir dengan otaknya yang pintar itu," geram Lucas.


"Jawab, Rash. Apa kamu senang jika akan bertemu dengan Putri saat di akhirat?" ulang Lucas lagi.  "Lalu bagaimana dengan anak kalian, Rash? Apa kamu akan membiarkan anak-anak yang tidak bersalah itu menjadi yatim piatu karena keegoisan kamu?" bentak Lucas.


Arash terdiam. Pria itu seolah baru saja kembali di tampat dengan kuat oleh kak Lucas.


Kak Lucas berjalan mendekat ke arah Arash, kemudian menarik lengan pria itu dan berjalan mendekat ke arah Mama Kesya.


"Kamu lihat, Rash. Kamu lihat Mama," tunjuk Kak Lucas yang sudah membawa Arash ke depan hadapan Mama Kesya.


"Apa kamu pikir Mama tidak akan terluka dengan perkataan dan permintaan kamu itu, Rash? Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini, Rash? Apa kamu tidak memikirkan hal itu?" geram Lucas.


Arash hanya bisa terdiam, pria itu meneteskan air matanya karena merasa bersalah dengan apa yang telah dia ucapkan tadi.

__ADS_1


"Dan kamu lihat, Rash, kamu lihat orang-orang yang ada di sekeliling kamu. Apa mereka merasa senang dengan permintaan kamu, Rash?" tanya Kak Lucas sambil menunjuk ke semua orang yang ada di sana.


Mata Arash pun menatap ke arah Mama Nayna yang sudah menangis terisak di dalam pelukan Pap Satria. Terlihat wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.


"Mama tidak akan pernah  bahagia, Rash, jika kamu melakukan hal itu," ujar Mama Nayna sambil terisak.


"Kamu dengar sendiri kan, Rash? Kamu bisa mendengarnya kan?" tanya Kak Lucas. "Lalu, apa kamu masih mau mendonorkan hati kamu dan mengabaikan semua orang-orang yang menyayangi kamu, Rash?" tanya Kak Lucas lagi. "Dan apa kamu akan lega di akhirat nanti? Jika kamu telah meninggalkan tanggung jawab kamu sebagai seorang kepala keluarga dan seorang ayah, karena sudah mengabaikan dan menelantarkan anak-anaknya?"


Air mata Arash semakin tak terbendung. Pria itu semakin terisak mendengar perkataan Kak Lucas.


"Sekarang, kamu ambil ponsel dan kamu hubungi orang yang ada di rumah. Kamu lihat wajah Yumna, Rash, kamu lihat. Apa dia punya salah dengan kamu, Rash? Apa dia yang meminta jika kondisi ibunya seperti ini di saat mengandungnya?" ujar Kak Lucas.


"Kak---"


"Kamu pandang foto Rayyan, Rash. Apa putra kamu itu bisa mengingat wajah orang tuanya nanti jika kamu tak ada, Rash?" tanya Kak Lucas lagi.


"Kak, cukup Kak, cukup," mohon Arash sambil terisak. "Cukup, Kak, hiks … Cukup …"


"Kalau kamu merasa bersalah, seharusnya kamu berjanji dengan Putri untuk tetap kuat, Rash, bukan lemah dan cengeng seperti ini."


Arash tak tahu harus berkata apa. Lagi dan lagi pria itu kembali di tampar atas apa yang telah dia ucapkan. Tanpa dia sadari, jika ucapannya itu ternyata telah menyakitkan banyak orang. Karena keegosiannya itu, dia telah membuat banyak orang merasa kecewa.


*


Zia menghela napasnya pelan. Wanita itu baru saja berbicara dengan Bunda Sasa perihal tentang jawabannya atas permintaan Ibra.


"Bunda bisa maklum kok, sayang. Dan Bunda yakin, jika Ibra pasti juga akan mengerti," ujar Bunda Sasa sambil membelai rambut calon menantunya itu.


"Maafin Zia ya, Bun, karena Zia meminta Bunda untuk merahasiakan dulu hal ini dari mama dan papa," ucap Zia merasa bersalah.


"Gak papa, kok. Lagi pula, kondisinya saat ini memang sedang tidak mendukung kan? Semua orang sedang fokus dengan kesehatan Putri."


"Iya, Bun. Sekali lagi, Maafin Zia ya, Bun. Dan terima kasih juga karena Bunda sudah mau memahami kondisi Zia saat ini."


Tanpa Zia dan Bunda sadari, jika Mama Nayna mendengar pembicaraan keduanya. Akan tetapi, Mama Nayna tidak bisa menghampiri kedua wanita berbeda usia dan generasi itu. Mama Nayna juga belum siap untuk melepaskan Zia ke dalam pelukan seorang pria.


Mama Nayna pun berbalik, wanita itu tidak ingin Zia dan Mama Nayna menyadari keberadaannya saat ini.

__ADS_1


*


"Ada apa, Ma?" tanya Papa Satria kepada sang istri.


Mama Nayna pun menoleh ke arah sang suami.  Terlihat wanita paruh baya itu menghela napasnya dengan berat.


"Begini, Pa, tadi Mama tidak sengaja mendengar pembicaraan Zia dan Mbak Sasa," ujar Mama Nayna memberi tahu,


"Memangnya mereka membicarakan apa, Ma? Sampai Mama termenung begini?" tanya Papa Satria lagi merasa penasaran.


"Emm, itu Pa, katanya Ibra ingin melamar Zia," jawab Mama Nayna. Papa Satria ikut terkejut mendengar apa yang di katakan oleh sang istri.


"Yang benar, Ma? Memangnya Zia dan Ibra masih berhubungan?" tanya Papa Satria merasa penasaran.


Selama ini, Papa Satria tidak pernah mendengar kabar tentang Zia yang masih berhubungan dengan Ibra. Bahkan, setiap Papa Satria bertanya tentang hubungan sang putri dengan Ibra pun, Zia selalu menjawab jika tidak ada hubungan yang serius di antara mereka. Dan juga, Zia dan Ibra juga tidak lagi sering berhubungan. Mau itu melalui dari sering bertukar pesan, atau melalui panggilan suara.


Ya, memang Ibra tidak pernah menghubungi Zia selama di Papua.


Saat Ibra menghubungi Zia pun, kebetulan sekali Ibra sedang tidak bertugas dan bisa pergi ke daerah yang bisa mendapatkan sinyal. Saat itulah Ibra menghubungi Zia untuk meminta jawaban dari gadis itu.


"Mama belum siap, Pa, jika harus berpisah dengan Zia," ucap Mama Nayna dengan lirih. "Setidaknya, biarkan Zia sembuh dulu, Pa. Biarkan Mama merawat Zia terlebih dahulu, hingga Zia bisa menggunakan kakinya untuk berjalan kembali. Hiks … Mama hanya belum siap untuk berpisah dengan Zia, Pa. Mama belum siap." Tangis Mama Nayna pun pecah di dalam pelukan sang suami.


Mama Nayna tidak bisa membayangkan, jika dirinya harus kehilanga Putri untuk selama-lamanya, kemudian juga harus kehilangan Zia lagi karena harus ikut bertugas di mana suaminya di tugaskan.


"Mama belum siap, Pa, hiks … Mama belum siap jika harus membiarkan Zia menikah dalam kondisinya seperti itu. Zia masih membutuhkan Mama."


*


Dua hari berlalu, kabar baik kembali menghampiri keluarga Moza dan Papa Satria. Putri akhirnya kembali membuka matanya setelah tak sadarkan diri beberapa hari lalu.


"Sayang, kami senang kamu kembali," ujar Mama Nayna dengan mengecup kening sang putri.


Mama Nayna pun juga memberikan kesempatan kepada Mama Kesya dan yang lainnya untuk bergantian mencium Putri dan mengucapkan selamat.


"R-rash, a-aku ingin melihat Yumna," pinta Putri dengan suara yang lemah dan terbata.


"Yumna? Yumna ada di rumah, sayang," jawab Arash.

__ADS_1


"A-aku mohon, bawa Yumna dan Rayyan ke sini, sa-yang. A-aku mohon. A-aku i-ingin melihat wajah mereka," pinta Putri dengan tatapan matanya yang sendu.


Seketika, darah semua orang yang ada di ruangan itu pun berdesir, mendengar permintaan Putri.


__ADS_2