
Hidup tanpa orang yang kita cintai memanglah berat. Bahkan, sebagian orang tidak mampu menjalaninya dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seperti apa yang saat ini Arash rasakan, pria itu merasa hidupnya terasa hampa tanpa Putri. Cintanya kepada wanita itu begitu besar, hingga membuat dirinya melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Ya, terlalu takut kehilangan Putri, membuat Arash mengabaikan Rayyan dan putri kecilnya yang baru berusia tiga hari. Bahkan, pria itu belum memberikan nama untuk bayi cantiknya itu.
Selama tiga hari pula, Arash baru sekali melihat bayinya yang baru saja lahir ke dunia, dan itu pun di saat pria itu mengazani sang putri.
"Rash," tegur Mama Nayna.
Arash mengangkat kepalanya, pria itu pun mengusap air matanya dengan cepat.
"Ya, Ma?"
"Boleh mama bicara sama kamu sebentar?" tanya Mama Nayna.
Arash menghela napasnya pelan. "Mama mau bicara apa, Ma?" tanya Arash balik.
"Bagaimana kalau kita bicara di kantin saja?" usul Mama Nayna.
Arash menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Ma, Arash tidak ingin meninggalkan Putri. Jika Mama ingin berbicara dengan Arash, sebaiknya kita berbicara di sini saja, Ma," pinta Arash menolak usul dari Mama Nayna.
Mama Nayna tersenyum kecil, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu pun mengambil tangan Arash dan menggenggamnya dengan hangat.
"Rash, apa kamu tahu jika Putri dapat mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya?" ujar Mama Nayna yang mana membuat kening Arash mengerut dengan sempurna.
"Putri memang terlihat sedang tertidur, akan tetapi dia sebenarnya masih bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya! Putri dapat merasakan, jika kamu tidak pernah meninggalkannya semenit pun. Apa kamu, di saat Putri terbangun dia merasa sedih? Karena mengingat apa yang terjadi dengan suaminya?" tanya Mama Nayna yang mana membuat Arash menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita bicara di tempat lain, ya?" bujuk Mama Nayna.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu menoleh ke arah sang istri yang terlihat sedang tidur dengan wajahnya yang pucat.
"Hanya sebentar saja boleh, Ma?" pinta Arash yang diangguki oleh Mama Nayna.
"Iya, hanya sebentar saja."
__ADS_1
Arash akhirnya menuruti perrmintaan Mama Nayna untuk berbicara di tempat lain, di mana hanya ada mereka berdua saja.
Dan di sinilah Mama Nayna dan Arash, di depan ruangan bayi. Pandangan Arash hanya terpaku kepada lantai dan wajah Mama Nayna, pria itu belum menyadari jika dirinya saat ini berada di ruangan sang putri yang belum di beri nama olehnya.
"Rash, coba kamu lihat ke sana," tunjuk Mama Nayna ke arah putri kecil pria itu.
Dari balik kaca yang tebal, Arash pun menoleh ke arah bayi yang terlihat sedang tertidur pulas.
"Putri menahan rasa sakitnya demi bisa membawa bayi mungil itu ke dunia. Dia berjuang dengan mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan buah cinta kalian, Rash. Dan saat bayi mungil itu sudah keluar dan berharap pelukan hangat dari orang tuanya, dia malah terabaikan begitu saja. Bahkan, setelah tiga hari bayi mungil itu berada di dunia, tetapi sampai hari ini dia belum mendapatkan nama panggilan," ucap Mama Nayna.
Arash merasa jika saat ini dia baru saja di tampar secara tak langsung oleh sang mertua. Dia tidak menyangka, jika rasa cintanya kepada Putri membawa dirinya hingga mengabaikan putra putrinya.
"Kamu tahu, Rash, Allah merasa cemburu dengan orang yang begitu mencintai makhluknya dari pada diri-Nya. Dan kamu terlalu mencintai Putri, dari pada penciptanya, Rash. Bahkan, rasa cinta kamu itu menimbulkan hal buruk untuk orang-orang yang ada di sekitar kamu, di mana anak-anak kamu sendiri yang menjadi korban ketidak pedulian kamu terhadap mereka, Rash," sambung Mama Nayna.
"Mama tahu, kalau kamu begitu menyayangi Putri. Kamu begitu mencintai Putri, bahkan melebihi nyawa kamu sendiri, Rash. Tapi, gak begitu caranya, Rash."
Mama Nayna menarik napas dan menghelanya secara perlahan. Wanita itu sedari tadi menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
"Rash, Mama sangat berterima kasih sekali kepada kamu, karena kamu telah mencintai Putri dengan tulus dan sepenuh hati. Tapi, Mama mohon, Rash, jangan abaikan anak-anak kamu. Mereka juga membutuhkan kamu, Rash. Mereka sangat membutuhkan sosok ayahnya berada di dekat mereka," ucap Mama Nayna yang sudah tidak tahan lagi menahan air mata yang sedari tadi sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Rash, Mama minta tolong sama kamu, jangan abaikan cucu-cucu Mama," pinta Mama Nayna sambil terisak. "Andai Putri tahu jika kamu mengabaikan mereka, pasti hati Putri juga akan sakit, Rash. Tidak ada seorang ibu pun yang rela jika anaknya di abaikan. Percayalah!"
*
Arash masih berdiri menatap putrinya yang belum dia berikan nama. Pria itu merasa malu dan bersalah kepada putri kecilnya itu, karena sudah mengabaikan dan melupakan keberadaannya. Arash menghela napasnya berat, pria itu menengadahkan kepalanya menatap ke arah langit-langit.
"Aku harus memberinya nama siapa, sayang?" tanya Arash entah kepada siapa.
Arash menatap sekali lagi bayi mungilnya itu dari balik kaca, pria itu mengumpulkan keberanian untuk menghampiri dan menggendong sang bayi untuk yang kedua kalinya.
"Permisi, sus, Saya ingin melihat putri saya," izin Arash kepada perawat yang berjaga.
"Ya? Atas nama nyonya siapa bayinya, Pak?" tanya perawat yang berjaga tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba saja lengan perawat itu di senggol oleh teman seprofesinya yang sudah lama bekerja di rumah sakit. Tentu saja perawat yang lain sudah mengetahui siapa Arash.
"Maafkan teman saya, Pak, dia baru dua minggu bekerja di sini," ujar perawat yang satunya lagi.
"Iya, gak papa. Apa saya bisa melihat bayi saya?" tanya Arash kembali.
"Ya, silahkan, Pak." Perawat senior itu pun mempersilahkan Arash untuk masuk ke ruangan bayi.
"Eh, Mbak, memangnya itu siapa? Apa tidak di data dulu?" tanya perawat sebelumnya.
"Kamu ini, beliau itu anak dari pemilik rumah sakit ini, tau. Dia itu salah satu keluarga moza," ujar perawat senior yang mana membuat juniornya itu membuka mulutnya.
"Hah? Serius? Jadi----" perawat junior itu pun menutup mulutnya, rasanya tidak percaya jika dia bisa bertemu dengan keturunan Moza yang lainnya selain Dokter Anggel, Dokter Naya, dan juga Dokter Lucas.
"Bening-bening semua keturunan Moza ya, Mbak."
*
Arash menatap bayi bayi mungilnya yang terlihat tertidur pulas. Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk mengangkat bayi mungilnya itu ke dalam gendongannya secara perlahan.
"Sstt … sttt … sstt … Assalamualaikum, sayang. Ini Papa," bisik Arash kepada sang bayi yang terlihat menggeliat di dalam pelukannya.
Arash menepuk-nepuk pelan bokong sang bayi, agar anaknya itu kembali tenang, nyaman, dan tertidur di dalam pelukannya.
"Maafin Papa ya, sayang, karena baru menjenguk kamu lagi." Arash mendaratkan sebuah kecupan di pipi gembul sang putri.
"Kamu cantik sekali, sayang, persis seperti mama kamu."
Pandangan Arash pun mengabur, di saat kembali teringat akan sang istri. "Hah, kira-kira nama yang cocok untuk kamu siapa, ya?"
Arash merasa bingung harus memberikan nama apa untuk putrinya itu. Nama-nama yang sudah dirinya dan Putri simpan untuk di berikan kepada sang putri pun, seketika hilang begitu saja bersama kebahagiaan Arash yang hanya menyisakan kesedihan. Pria itu lupa dengan nama-nama yang sudah dia rangkai bersama sang istri, sebelum Putri menjalani operasi.
"Papa harap, kelak hidup kamu selalu bercahaya, bahagia dan selalu di limpahi kasih sayang dan penuh keberuntungan."
__ADS_1
Arash membacakan ayat kursi dan meniupkannya ke atas ubun-ubun sang bayi.
"Bismillah, Papa kasih nama kamu Yumna Zehra Moza."