
Di luar ruangan Kak Farhan, Dewi dan seluruh tim cobra sudah menanti Sifa keluar. Maka dari itu, di saat wanita itu baru saja membuka pintu, Sifa pun di kejutkan dengan semua keberadaan teman-teman satu timnya itu.
"Sampai bertemu lagi, Sifa. Jangan lupakan kami, semoga kita bertemu lagi suatu saat nanti, Sifa," ujar Dewi mewakili teman-temannya yang lain.
Dewi pun memberikan buket bunga untuk Sifa, sehingga tangis wanita itu pun akhirnya pecah.
"Hiks, terima kasih banyak."
Dewi menarik Sifa ke dalam pelukannya, menenangkan wanita itu hingga tangisnya pun sedikit mereda.
"Sayang!" Suara bariton yang sangat Sifa kenali pun, membuat wanita itu menoleh ke arahnya.
"Mas, kamu di sini?" kejut Sifa di saat melihat sosok sang suami berada di dalam barisan tim cobra.
"Berhubung hari ini adalah hari terakhir kamu di sini, maka sesuai janji aku, aku akan mentraktir semua tim cobra untuk makan di restoran mewah, sebagai pengganti acara perpisahan kalian," ujar Abash yang mana membuat Sifa kembali meneteskan air matanya.
"Tapi, Mas, ini masih jam kerja," ujar Sifa dengan lirih.
"Khusus untuk hari ini, saya beri izin untuk kalian mengadakan pesta perpisahan," sahut Kak Farhan dari belakang Sifa.
"Beneran, Pak?" tanya Dewi memastikan.
"Iya." Jawaban singkat dan senyuman tipis yang Kak Farhan berikan pun, membuat Dewi dan teman-temannya bersorak pelan.
"Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" usul Abash yang di angguki oleh Kak Farhan.
__ADS_1
"Ayo."
Kak Farhan pun mempersilahkan kepada seluruh tim cobra untuk bersiap-siap, karena mereka akan pergi menuju ke restoran mewah seperti apa yang Abash janjikan.
"Pak Farhan ikut juga?" tanya Dewi gugup.
"Iya dong, saya kan juga mau ikut bergabung dalam acara perpisahan dengan Sifa," sahut Kak Farhan dengan senyuman tipisnya.
"O-oo ... begitu ya?" Dewi pun terlihat semakin gugup dan bergegas untuk kembali ke ruangannya.
"Gimana, Wi? Pak Farhan ikut juga?" tanya teman se tim Dewi.
"Iya."
"Yaah, bakal canggung nih acara kita," ujar yang lain.
"Huum, bener. Semoga saja nanti gak akan terasa canggung ya."
Mereka pun bergegas membersihkan meja dan peralatan kantor lainnya. Tak lupa mematikan komputer serta laptop yang ada di meja masing-masing.
"Dah beres?" tanya Dewi kepada teman-temannya.
"Udah."
"Yuk lah, kita temui Sifa. Mereka sudah menunggu di lobi."
__ADS_1
Sesampainya di lobi, beberapa teman Sifa yang menggunakan kendaraan pribadi pun, langsung naik ke mobil masing-masing, begitu pun dengan teman-teman yang tidak memiliki kendaraan pribadi, mereka juga menebeng dengan teman yang memiliki kendaraan.
"Gak muat lagi di situ, naik ke mobil saya saja," ujar Abash kepada tiga teman Sifa yang mau naik ke mobil Dewi, di mana di dalam mobil itu sudah penuh dengan teman-teman yang lain.
"Udah, sana," usir Dewi sambil tersenyum.
Ya, jika di paksa tiga teman lainnya itu untuk tetap naik ke dalam mobilnya, maka bisa di pastikan mereka akan duduk bersempit-sempitan dan juga berpangku-pangku. Kan kasihan kalau harus duduk seperti itu.
"Emm, tapi …" gumam Dini merasa tak enak.
"Udah, ayo," ajak Sifa dan menarik ketiga lengan teman setimnya itu.
Jadilah Dini dan yang lainnya masuk ke dalam mobil Abash.
Sesampainya di restoran, mereka semua tercengan dengan restoran yang di bawa oleh Abash. Termasuk Sifa, wanita itu ikut tercengang saat mengetahui restoran pilihan sang suami.
Bukannya Sifa pelit, karena restoran yang di pilih oleh Abash adalah restoran mewah. Sifa hanya takut jika teman-temannya itu tidak akan merasa nyaman.
"Ayo," ajak Abash yang mana membuat Dewi dan yang lainnya merasa ragu dan gugup.
"Fa, yakin makan di sini?" tanya Dewi.
"Iya," jawab Sifa canggung.
"Di sini mahal banget loh, Fa. Masa suami kamu mau traktir kita di sini? Yang bener?" tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Emm, i-itu …"
"Saya tidak akan mentraktir orang-orang spesial seperti kalian di tempat sembarangan. Ayo, jangan segan-segan dan ragu," ujar Abash yang mendengar percakapan Sifa dan Dewi.