
Abash memicit keningnya di saat melihat coretan pada mobil mahalnya itu. Bukan masalah harga yang harus dia keluarkan untuk memmbersihkan mobilnya, akan tetapi ancaman yang ditujukan kepada dirinya.Hal itu pun membuat jika orang-orang terdekat pria itu semakin berada di dalam bahaya.
"Mas?" lirih Sifa saat melihat mobil Abash sudah di penuhi dengan coretan yang bertuliskan "Sekarang giliran lo".
Abash menoleh ke arah Sifa, pria itu harus menajga jarak dengan sang kekasih dan waspada dengan sekitarnya. Dia tidak ingin membahayakan sang kekasih. Bisa saja, jika ada yang memperhatikan gerak geriknya saat ini dna mengambil kesempatan itu untuk melukai Sifa.
Pria itu menghela napasnya dengan pelan, kemudian meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya dan mengirimkan pesan kepada sang kekasih.
"Pergilah, jangan menyapaku. Jangan perlihatkan jika kita memiliki kedekatan." Pesan Abash yang dia kirim untuk Sifa.
Sifa meraih ponselnya yang berbunyi. Dia melirik ke Abash yang berlalu begitu saja melewati dirinya tanpa menyapa. Sifa pun memilih untuk membaca pesan yang di kirimkan oleh sang kekasih.
"Mas?" lirihnya pelan dengan menatap nanar layar ponselnya.
Sifa tau, jika sepertinya saat ini mereka harus kembali menjaga jarak seperti beberapa hari yang lalu. Apakah ini artinya Abash akan kembali dekat dengan Putri?
Bolehkah Sifa merasa cemburu untuk saat ini?
Abash melihat hasil cctv yang ditunjukkan oleh pihak apartemen, di mana seorang pria bertopeng sedang mencoret-coret mobil pria itu dengan menggunakan cat semprot yang tidak mudah di hilangkan.
Pria bertopeng itu pun sempat melihat ke arah cctv, kemudian mengacungkan jari tengahnya.
"Brengsek," maki Abash pelan dengan geram.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini dengan pihak kepolisian," ujar manager apartemen memberitahu.
Abash pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kirimkan cctv itu kepada saya. Semua cctv yang ada di setiap gedung ini," titah Abash yang di turuti oleh manager apartemen tersebut.
Abash pun berlalu meninggalkan ruangan cctv, pria itu pun terpaksa menggunakan taksi online untuk menuju kantornya.
*
"Ada apa, Rash?" tanya Daddy Bara, saat sang keponakan menghubunginya dan ingin membahas perihal yang penting tentang Abash dan Putri.
"Ini, Dad. Abash mendapatkan sebuah ancaman," ujar Arash memberitahu sambil menunjukkan foto mobil Abashyang penuh dengan coretan.
Dady Bara pun menghela napasnya dengan pelan. Pria itu tadinya sempat memiliki satu pemikrian yang sama dengan Arash, di mana kenapa hanya Putri saja yang mendapatkan ancaman? Sedangkan Abash tidak.
Dan saat ini, keponakannya itu malah mendapakan sebuah ancaman.
Tapi, kenapa ancamannya tak se ekstrim Putri?
"Putri bagaimana keadaannya?" tanya Daddy Bara.
"Putri baik, tadi pagi Arash melarangnya untuk pergi ke kantor. Syukur alhamdulillah, dia juga menurut dengan apa yang Arash katakan. Lagi pula, ada Desi yang menemaninya di apartemen," ujar Arash memberitahu.
"Ah ya, soal pengacara yang mendampingi Putri." Daddy Bara pun mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini mengenai pria yang bernama Om Martin tersebut.
Pria paruh baya yang sebentar lagi akan pensiun dari jabatannya itu pun, menceritakan tentang Om Martin dan Papa Satria. Di mana ternyata, Om Martin pernah menjadi rival Papa Satria.
"Jadi, mereka pernah menjadi rival yang berat dan saling menjatuhkan?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
Di lihat dari perhatiannya Om Martin tadi malam kepada Putri, membuat Arash merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Daddy Bara. Tapi, bagaimana pun juga, mereka harus tetap waspada dengan siapapun yang ada di sekitar mereka saat ini. Termasuk mencurigai Om Martin kan?
__ADS_1
"Daddy juga tidak menyangka, jika pengacara yang di digandeng oleh Putri adalah rival papanya dulu," lirih Daddy Bara.
Arash menghela napasnya secara perlahan, pria itu pun sedang memikirkan suatu rencana yang hanya dirinya sendiri yang harus tahu.
Sepertinya, tawaran Om Martin untuk membawa Putri tinggal bersama pria itu pun, harus Arash gagalkan.Tapi apa alasan yang harus Arash katakan nanti?
Ingin rasanya pria itu menempatkan Putri di rumahnya, tetapi takut akan keluarganya yang mengetahui apa yang terjadi kepada Putri dan Arash, sehingga membuat Mama Kesya merasa khawatir.
Sempat juga terpikirkan oleh Arash untuk menitipkan Putri di rumah Daddy Bara, tetapi hal yang sama juga akan terjadi, bukan? Keluarganya pasti akan bertanya-tanya, kenapa Putri tinggal dengan Daddy bara, dan hal itu pula akan membuat keluarga besarnya tahu apa yang sedang menimpa Putri dan kembarannya itu.
"Apa kamu memiliki rencana?" tanya Daddy Bara.
"Untuk sementara, sebaiknya Putri tinggal bersama Arash," putus pria itu.
"Kamu yakin? Kalian bukan pasangan muhrim, Arash," ujar Daddy Bara yang sedikit meragukan ide sang keponakan.
"Daddy tahu bagaimana Arash. Arash tidak akan berlaku kurang ajar kepada Putri. Arash masih punya saudara perempuan yang harus Arash lindungi dengna sikap Arash kepada seorang wanita"' ujarnya yang mana membuat Daddy Bara menganggukkan kepalanya.
Pria paruh baya itu pun sangat mengetahui bagaimaan anak-anak dan juga keponakannya itu. Mereka dididik dengan dasar agama yang kuat. Semoga saja tidak khilaf dengan dunia.
Tetapi, tetap saja, rasa khawatir tetap menghantui perasaan Daddy Bara. Arash adalah pria dewasa yang normal, bisa saja suatu saat dia khilaf dan melakukan hal itu.
Tidak, itu tidak boleh terjadi.
"Arash," panggil Daddy Bara yang mana mebuat pria itu menoleh ke arah sang daddy.
"Apa sebaiknya kamu menikahi Putri saja?" saran Daddy Bara yang mana membuat Arash membulatkan matanya.
"Demi keamananan dia. Hanya menikah di atas sebuah kontrak tertulis," sambung Daddy Bara.
*
"Baru pulang?" tanya Abash saat melihat kembarannya itu masuk dan bergabung bersama mereka.
"Iya," jawab Arash dan melirik ke arah Putri.
Pria itu kemudian teringat akan pembicaraannya dengan Daddy Bara.
"Menikahi Putri?" batinnya.
"Rash?" panggil Abash yang mana membuat Arash menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Putri bilang, dia akan tinggal bersama Om Martin, pengacaranya itu," ujar Abash memberi tahu.
"Tidak boleh," jawab Arash cepat, yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
Bukankah tadi pagi mereka sudah membahas hal ini? Dan pria itu menyetujui usul dari Om Martin?
"Kenapa?" tanya Putri dengan kening mengkerut. Hal itu pun juga menjadi pertanyaan bagi Abash.
"I-itu ..."
Arash bingung harus memberikan alasan apa kepada Putri. Masalahnya, pria itu belum memikirkan alasan apa yang akan dia berikan Putri perihal melarang gadis itu tinggal bersama Om Martin, karena yang ada di dalam pikriannya adalah saran dari Daddy Bara, menikahi Putri.
__ADS_1
"Kenapa, Rash?" tanya Abash lagi yang mengambil atensi sang kembaran.
"I-itu? Eng ..."
Sembari menunggu jawaban dari Arash, ponsel Putri pun berdering, sehingga membuat Abash dan Arash pun menoleh ke arah gadis itu.
"Siapa?" tanya Arash.
"Om Martin," jawab Putri dan menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Om?"
Abash dan Arash pun menunggu dalam diam hingga Putri memberikan ponselnya kepada Arash.
"Kenapa?" tanya Arash dengan bingung sambil melihat ke arah ponsel Putri.
"Om Martin mau bicara sama kamu," ujar Putri memberi tahu.
Arash pun mengernyitkan keningnya dan mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Putri.
"Halo, Pak?"
"Arash, saya sepertinya tidak bisa membawa Putri tinggal bersama saya, karena saya malam ini harus kembali ke Bandung," ujar Om Martin dari seberang panggilan.
"Iya, Pak," jawab Arash sambil menghela napas lega, karena pria itu tidak perlu mencari-cari alasan apa untuk melarang Putri tinggal dengan Om Martin.
"Saya tidak tahu harus berada di Badnung berapa lama, karena orang tua dari istri saya sedang sakit keras," ujar Om Martin memberi tahu. "Jadi, tolong kamu jaga Putri, ya," pinta Om Martin.
"Iya, Pak, Saya akan menjaga Putri."
Panggilan pun berakhir, Arash mengembalikan ponsel gadis itu kepada si pemiliknya.
"Sepertinya kamu harus tetap tinggal di sini," ujar Arash dengan tersenyum tipis.
"Lo yakin, Rash?" tanya Abash. "Hanya ada kalian berdua di sini?" tanya pria itu lagi.
"Desi akan tinggal di sini, dan juga, kalao lo mau tinggal di sini, boleh juga," jawab Arash yang mana membuat Abash menggelengkan kepalanya.
Dia harus tetap tinggal di apartemen yang sama dengan Sifa, karena pria itu harus melindungi sang kekasih dari jarak yang dekat. Bisa saja, jika hubungannya dengan Sifa terbongkar, maka Yosi akan mengincar Sifa. Abash tidak ingin hal itu terjadi.
Saat ini, yang sudah mengetahui hubungannya dengan Sifa hanya ada tiga orang. Mama Kesya, Didi--sang assiten, dan Amel. Di antara ketiga orang tersebut, yang paling di curigai Abash adalah Amel.
"Gue ada kerjaan, lo tau sendiri gimana kerjaan gue. Peralatan gue itu berada di apartemen. Jadi, gue tidak bisa tinggal di sini," ujar Abash menolak tawaran sang kembaran.
"Ya sudah kalau gitu, lagi pula sudah ada Desi yang akan menginap di sini. Jadi, kami terhindar dari fitnah zina," ujar Arash dengan tersenyum lebar.
"Bagaimana, Put? Kamu gak papa kan?Tinggal di sini?" tanya Arash.
"Apa ini tidak akan merepotkan, kamu?" tanya Putri kepada Arash.
"Tidak, lagi pula ada Desi kan di sini yang akan menemani kamu tidur," jawab Arash. "Eh, kamu gak papa kan berbagi tempat tidur dengan Desi?" tanya Arash yang baru menyadari bagaimana kenyamana Putri nanti.
"Aku gak masalah," jawab Putri dengan tersenyum.
Ya, Putri tidak masalah berbagi tempat tidur dengan Desi, karena gadis itu memang bukanlah orang yang ribet akan urusan seperti itu.
__ADS_1