
“Maaf ya, Kak, Saya terlambat.” Sifa menundukkan kepalanya di depan kakak seniornya yang terkenal galak.
“Niat jadi panitia gak sih, Lo?” pekiknya yang mana membuat seluruh mata langsung tertuju kepada Sifa.
Pilihan yang paling bagus saat ini adalah hanya berkata, “Maaf, Kak. Saya salah.”
“Hmm, Lo harus di hukum. Lo udah biasakan buat bersih-bersih? Jadi Gue mau Lo bersihin kamar mandi sekarang?!” pekik senior Sifa.
“Iya, Kak.”
Sifa berjalan menuju kamar mandi di aula kampus ternama ini. Beberapa seniornya memang tak menyukainya. Karena program yang telah susah payah mereka bikin dengan gampang dapat Sifa lumpuhkan dengan virus yang Sifa ciptakan.
Awalnya karena mereka menganggap remeh dengan kemampuan Sifa. Sifa tak terlihat pintar memang, tapi sebenarnya Sifa adalah anak yang rajin dan pintar. Bahkan Dosen killer sekalipun kagum dengan prestasi yang Sifa raih. Sayangnya beasiswa Sifa di tarik dari kampus ini, karena seseorang memfitnah Sifa. Dan hukuman yang harus Sifa terima adalah kehilangan beasiswa penuhnya. Untungnya kampus ini memiliki donatur yang baik hati bagi para mahasiswa yang ingin menyelesaikan kuliahnya namun tak mampu membayar kuliah dan tak mampu mendapatkan beasiswa penuh. Maka Donatur tersebut memberikan keringanan untuk mahasiswa yang mau berjuang di pendidikan perguruan tinggi ini dengan mendapakan beasiswa 50 persen. Sifa harus masih bersyukur karena semua berkas dirinya di terima, walaupun awalnya sempat di tolak oleh bagian administrasi.
Donatur tersebut adalah Mama Kesya. Namun, Mama Kesya enggan untuk di sebutkan namanya. Mama Kesya lebih suka memberikan donatur dengan nama ‘Hamba Allah’.
Sifa telah selesai membersihkan kamar mandi, ia pun berniat untuk membersihkan kamar mandi lainnya.
Braaak ....
“Aww ....” Sifa memegang keningnya yang terbentur dengan dinding.
Saat Sifa sedang berjalan mundur sambil membawa kain pel dan ember, tanpa sengaja Sifa menabrak orang yang ada di belakangnya. Tidak, bukan Sifa yang menabraknya, tetapi orang tersebut yang telah menabrak Sifa.
“Kamu baik-baik saja?”
Sifa langsung membalikkan badannya sambil memegang keningnya saat mengenali suara tersebut.
“Bapak?”
“Kamu?” ujar mereka hampir bersamaan.
“Aduh, Pak. Kalo jalan itu lihat-lihat dong. Kepala saya sampai kejedut ini ke dinding,” omel Sifa.
Ya, orang yang menabrak Sifa adalah Abash.
“Lah, lagian kamu jalan ngapain nungging gitu?”
__ADS_1
“Saya kan bawa ember dan kain pel, Pak.”
Abash menoleh ke samping Sifa, terdapat ember dan kain pel yang ada di dekat Sifa.
“Rajin juga kamu cari uangny,” gumam Abash yang masih di dengar oleh Sifa.
Sifa ingin menjawab, namun ponsel Abash berdering sehingga membuat Sifa menelan kembali kata-katanya. Tak ingin kembali berdebat dengan Abash, Sifa pun melangkah keluar kamar mandi dengan membawa ember dan kain pel. Sifa harus membersihkan kamar mandi yang lainnya lagi. Ada 5 kamar mandi di dalam aula besar kampus ternama ini.
*
“Udah selesai?” tanya Amel, satu-satunya teman yang Sifa miliki di kampus ini. Teman yang tak malu berteman dengannya, padahal Amel ini berasal dari keluarga yang ... lumayan kaya mungkin, atau memang orang kaya, Sifa juga tidak mengetahuinya. Lagi pula Sifa berteman dengan seseorang bukan karena latar belakangnya, melainkan karena memang merasa nyaman denagn orang tersebut.
“Udah, capek banget tau gak. Kayaknya dua kamar mandi ada yang sengaja ngotorin gitu. Ihh ....” Sifa bergidik jijik mengingat kotoran yang sepertinya sengaja di buang sembarangan di dalam kamar mandi. Sifa sampai muntah-muntah saat membersihkannya, mana sifa belum makan lagi.
“Nih, baju ganti untuk kamu.” Amel memberikan satu stel baju kepada Sifa.
“Dari mana ini?”
“Ini? Oh, aku memang selalu bawa baju ganti kok di dalam motor.” Bohong Amel, padahal ia sengaja menyuruh supirnya untuk membelikan satu pasang baju dengan harga yang terjangkau.
Sifa tau, ini bukan baju bekas walaupun tak ada merk yang tergantung di baju tersebut, melainkan baju baru. Sifa dapat mencium aroma baju baru yang keluar dari kain tersebut. Dengan cepat Sifa berganti pakaian sebelum seniornya kembali mencarinya dan menghukumnya lagi.
Seluruh panitia di kumpulkan dan di kenalkan kepada pengisi pemateri mereka hari ini. Sifa membulatkan matanya disaat mengetahui jika Abash lah yang menjadi pemateri acara hari ini.
Sifa dan Abash sempat bertemu pandang, namun Abash yang duluan memutuskan pandangannya duluan. Sifa pun tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu. Toh di sini ia bukannya sebagai bawahan Abash, melainkan seorang mahasiswa. Ya, Sifa seorang mahasiswa jurusan Teknologi informatika. Setelah acara perkenalan, seluruh
panitia pun di bubarkan untuk kembali ke posisi mereka masing-masing. Banyak pujian yang terdengar oleh Sifa untuk Abash. Mereka memuji Abash sangat lah tampan dan juga sangat pintar. Mereka berharap agar bisa membuat Abash jatuh cinta kepada mereka.
“Sifa!” panggil seorang dosen.
“Saya, Pak.”
“Kamu ada bawa bahan yang saya minta kemarin?”
“Ada, Pak.”
“Baiklah, nanti setelah acara, Kamu ke ruangan saya ya, kita kan bahas program anti virus kamu bersama Pak Abash.”
__ADS_1
Abash menaikkan alisnya sebelah, ia tak menyangka jika seorang office girl di kantornya ternyata seorang mahasiwa yang berbakat. Bukannya Abash mremehkan, namun Abash ingin tahu seberapa pintar Sifa ini sampai dosen merekomendasikannya.
“Baik, Pak.”
Acara seminar ini pun berjalan lancar. Banyak mahasiswa yang terkesima dengan ketampanan dan juga isi dari materi yang Abash bawakan. Namun, Sifa hanya fokus kepada materi yang Abash bawakan. Sifa akui jika isi dari materinya sangat bagus sekali, Abash juga menjelaskannya secara detail, sedernahan, dan mudah di mengerti oleh semua orang.
Sifa pun membantu teman-teman yang lain untuk membersihkan aula tersebut, namun tak berapa lama dosen memanggil dirinya.
“Sifa, kita keruangan saya sekarang dan bawa bahan-bahan kamu ya. Pak Abash ini orang yang sibuk, jadi ia harus segera kembali ke kantornya.”
Sifa menganggukkan kepalanya dan meminta izin kepada seniornya untuk tak membantu mereka membersihkan aula. Tentu saja seniornya itu sangat geram dan akan membalas Sifa nanti. Ingin rasanya ia tak memberikan izin kepada Sifa, namun mengingat jika dosen killer lah yang menyarankan agar Sifa bergabung dengan panitia,
mungkin nama Sifa tak akan pernah ada di daftar panitia. Dan jika bukan karena dosen killer yang memanggil Sifa, maka senior tersebut tak akan pernah memberi Sifa izin untuk pergi sebelum membersihkan semuanya.
*
Abash menatap progam anti virus yang Sifa buat. Harus Abash akui, jika program Sifa ini sudah mendekati sempurna.
“Apa kamu suka bermain dengan coding dan layar hitam?” tanya Abash kepada Sifa.
Sifa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak."
“Baiklah, besok temui saya di kantor jam 9.”
“Untuk apa, Pak?”
“Sifa, ini kesempatan kamu untuk bisa magang di perusahan Pak Abash. Asal kamu tahu, di tempat Pak Abash ini tidak menerima anak magang, mereka hanya menerima yang terbaik saja. Kamu beruntung, karena Pak Abash menerima kamu untuk bisa magang di sana.”
“Iya sih, tapi apa gak terlalu cepat ya, Pak?”
“Lebih cepat lebih baik,” ujar dosen killer tersebut.
Sifa menghela napasnya pelan. Baiklah, ini mungkin kesempatannya untuk menjadi sukses. Tak ada salahnya kan Sifa mengambil kesempatan emas ini.
\== Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.
__ADS_1