Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 246 - Bantu Aku Cari Putri


__ADS_3

Ciiit ....


Suara decitan ban mobil yang bergesek dengan aspal pun, membuat semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arah mobil Arash. Pria itu pun turun dengan bergegas dan meminta kepada satpam yang ada di sana untuk memarkirkan mobilnya.


"Tolong, Pak," ujar Arash sambil melempar kunci mobil dan berlari menuju lift.


"Siap,Pak."


"Ehh ... Eh .. eh ..."


Ciit ... Bruuk ...


Saking kencangnya Arash berlari, sehingga membuat pria itu harus mengerem kakinya agar tidak menabrak Desi yang baru saja keluar dari lift. Namun sayang, lantai yang kurang kesat membuat kecepatan Arash sulit di hentikan sehingga membuat pria itu terpaksa menubruk tubuh Desi.


"Awww ...." ringis Desi saat bokongnya mendarat sempurna di lantai, begitu pun dengan Arash.


"Kenapa sih, Rash?" ketus Desi dengan sebal.


"Maaf ... maaf, aku terburu-buru." Arash pun mengusap bokongnya yang terasa perih.


Jo menghampiri Desi yang masih terduduk di lantai, kemudian pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu sang kekasih berdiri.


"Kamu gak papa?" tanya Jo kepada Desi.


"Ya, aku gak papa. Hanya sedikit perih aja pantatnya," jawab Desi yang mana membuat Jo menggelengkan kepalanya.


"Jo, aku gak di bantu?" Arash pun mengulurkan tangannya kepada pria yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya.


"Bangun aja sendiri," ketus Jo yang mana membuat Arash membulatkan matanya.


Arash pun mencebikkan bibirnya dan berusaha untuk berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun.


"Kamu kenapa sih, Rash? Kok kayak orang kesetanan gitu? Atau lagi diare? Makanya buru-buru gitu?" tanya Desi yang merasa sebal karena penampilannya sedikit berantakan gara-gara anak dari majikan orang tuanya itu.

__ADS_1


"Aku cari Putri. Aku harus tahan dia untuk tidak pergi," ujar Arash kepada Desi dan Jo, kemudian pria itu pun berlalu meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam lift.


"Rash, Putri sudah pergi sama Soni." Suara teriakan Desi pun membuat Arash menahan pintu lift yang hendak tertutup.


"Apa?" lirih Arash dengan kening mengkerut.


"Putri sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu bersama Soni," ulang Desi yang mana membuat tangan Arash yang menahan pintu lift pun terjatuh lemas.


Arash melangkahkan kakinya dengan perlahan dan keluar dari dalam lift. Pria itu pun kembali bergabung bersama Desi dan Jo.


"Apa kamu tau Putri ke mana?" tanya Arash dengan tatapan memohon.


Desi menghela napasnya dengan pelan, kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Arash.


"Kenapa kamu cari Putri?" Suara Jo mengambi atensi Desi dan Arash.


Pria itu terlihat menatap Arash dengan tatapan kurang bersahabat.


"Apa aku harus memiliki alasan untuk mencari dia?" tanya Arash kepada Jo.


"Ada apa, Jo? Kenapa kamu menatapku dengan tajam?" tanya Arash.


"Tanyakan kepada diri kamu sendiri, kenapa kamu membuat Putri menangis sepanjang jalan." Ungkapan yang di ucapkan oleh Jo pun, membuat Desi dan Arash terkejut dan membulatkan matanya.


"Ayo," ajak Jo kepada Desi.


"Tunggu, Jo. Apa maksud kamu?" tanya Arash dengan bingung. "Kenapa Putri harus menangis sepanjang jalan?"


Jo berdecih pelan, pria itu pun semakin membusungkan dadanya dan menatap sepupu jauhnya itu.


"Apa yang telah kamu perbuat dengan Putri sore tadi?" tanya Jo yang mana membuat Arash semakin mengerutkan keningnya.


"Kamu menahannya, tetapi kamu membiarkan dia pergi dengan terluka!" lirih Jo yang mana membuat Arash semakin merasa bersalah kepada Putri.

__ADS_1


"Untuk apa kamu menahannya, Rash? Untuk memberikan harapan palsu kepada dia?" tanya Jo yang mana membuat Arash kembali mengerutkan keningnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Arash tak mengerti.


"Kamu memang pria bodoh yang pernah aku temui. Bisa-bisanya kamu tidak menyadari jika Putri mencintai kamu," ungkap Jo yang mana membuat Arash membulatkan matanya.


"A-apa? Putri mencintai aku?" tanya Arash dengan terkejut.


"Menurut kamu? Bahkan aku saja bisa melihatnya, Rash. Masa kamu enggak?" sambung Desi yang mana membuat Arash menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan mata yang penuh dengan tanya.


"Ka-kamu yakin Putri mencintai aku? Bukan Abash?" tanya Arash yang mana membuat Desi merasa gemas dan menyentil kening pria itu.


"Aww ... " ringis Arash sambil mengusap keningnya.


Mari, tepuk tangan kepada Desi yang sudah berani menyentil kening anak dari atasannya itu.


"Kamu tuh bego atau gimana sih, Rash? Masa kamu gak bisa bedakan tatapan mata Putri ke kamu dan ke Abash? Yang ada kamu yang terlalu terobsesi kepada Sifa, sehingga membuat mata batin kamu itu buta dan tidak bisa melihat jika ada wanita yang diam-diam mencintai kamu," ujar Desi yang mana membuat jantung arash semakin berdegup kencang.


"Ja-jadi Putri mencintai aku?" tanya Arash dengan pancaran kebahagiaan di wajahnya.


"Menurut lo?" ujar Desi sambil memutar bola matanya malas. "Dan kamu sendiri gimana? Baru sadar kalau kamu jatuh cintanya sama Putri?" tanya Desi sambil tersenyum miring.


Arash menyentuh dadanya yang terasa berdebar, pria itu tersenyum dengan manis dan menganggukkan kepalanya.


"Ya, sepertinya aku mencintai Putri," jawab Arash yang mana membuat Desi dan Jo memutar bola matanya malas.


"Kita pergi aja yuk, Bang. Malas ngomong sama orang bego," ajak Desi dan merangkul lengan sang kekasih.


"Kalian mau ke mana?" tanya Arash dengan kening mengkerut.


"Malas uk ladenin orang yang tidak menyadari perasaannya sendiri," jawab Desi dan berlalu meninggalkan Arash.


Arash pun langsung bergegas menahan Desi dan Jo dengan menghalangi jalan mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Desi yang mana membuat Arash tersenyum lebar.


"Bantu aku cari Putri."


__ADS_2