
Putri meringis kesakitan, Zia dan Arash pun serentak menyentuh punggung wanita itu. Tapi, karena berhubung tangan Arash dan Zia saling menangkup, dengan cepat Zia menarik tangannya dan menoleh ke arah lain, begitu pun dengan Arash.
Tidak ingin memperkeruh keadaan, Arash pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada sang istri.
"Kamu gak papa, sayang?" tanya Arash kepada Putri.
"Iya, Mas, anak kita nendangnya kuat banget, deh," lirih Putri yang masih merasa kesakitan.
"Tarik napas perlahan, Mbak, terus hembuskannya secara perlahan juga," titah Zia yang langsung di turuti oleh Putri.
Ya, Zia sedikit mengerti tentang dunia kesehatan, karena dirinya dulu sering mengikuti kegiatan palang merah indonesia dan menjadi relawan di setiap ada kejadian musibah yang terjadi di Swiss.
Zia mengikuti kegiatan tersebut secara diam-diam, karena dia tidak ingin membuat sang papa yang sangat mengkhawatirkan dirinya itu mengetahui apa yang sedang dia lakukan.
Ya, Zia memang terlalu di sayang oleh Papa Satria dari pada Mama Nayna. Tapi, bukan berarti Mama Nayna tidak menyayangi Zia, tidak. Mama Nayna sayang kepada Zia. Tetapi, yaa begitu lah ... Sepertinya emak tidak perlu menjelaskan lagi, kan. Karena readers pasti sudah tahu sesayang apa Mama Nayna kepada Zia dan Putri.
Putri mengikuti intruksi yang diberikan oleh Zia, hingga akhirnya wanita itu pun merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Gimana, Mbak? Sudah enakkan?" tanya Zia memastikan.
__ADS_1
"Iya, Dek, terima kasih banyak, ya," sahut Putri dan membelai punggung tangan Zia dengan lembut.
"Ternyata kamu siaga juga ya, Zia," seru Sifa yang mana membuat Zia menolehkan kepalanya.
"Begitulah, Mbak. Mengambil pembelajaran apa yang diajarkan," sahut Zia.
"Bagus itu. Tapi, apa hubungan kamu dengan si bule itu berjalan dengan baik?" goda Sifa sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Bule mana?" tanya Putri merasa penasaran.
"Bukan bule mana-mana, Mbak," sahut Zia sambil mendelikkan matanya kepada Sifa.
Sifa pun terkekeh pelan, wanita itu merasa lucu dengan Zia yang memiliki wajah merona dan kesal seperti saat ini.
"Oh, jadi kalian berdua sudah punya rahasia?" tanya Putri dengan kesal.
"Dan kamu, Zia, apa kamu tidak mau bercerita dengan Mbak lagi?" ujar Putri dengan nada yang kesal.
Ya, Zia tahu, jika saat ini sang kakak sedang merasa kesal kepadanya. Dalam artian benar-benar kesal, ya. Bukan kesal main-main.
__ADS_1
"Bukan begitu, Mbak. Aku gak ada rahasia apa-apa kok sama Mbak Sifa. Lagi pula, bule yang di maksudoleh Mbak Sifa itu, Mbak juga mengenalnya," ujar Zia menenangkan perasaannya.
"Benarkah? Memangnya siapa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Itu loh, Put, sahabatku pujaan hatiku," ujar Sifa sambil terkekeh pelan.
Putri masih belum bisa mengingat siapa bule yang dimaksud oleh Sifa dan Zia, sehingga membuat wanita itu merasa sedikit kesal.
"Jadi, kalian tidak mau memberitahu aku?" ujar Putri sambil mencebikkan bibirnya kesal.
"Antonio namanya, Mbak, masa Mbak gak ingat, sih?" ujar Zia akhirnya.
"Oh, diaa ..." seru Putri yang di angguki oleh Zia dan Sifa secara serentak.
"Iya, Mbak, dia."
"Kalau sama dia, sih. Mbak setuju aja. Jadi gimana hubungan kamu sama Antonio?" tanya Putri yangs udah lebih bersemangat dari sebelumya.
"Masih berteman seperti biasa aja, Mbak, gak gimna-gimana juga kok."
__ADS_1
"Tunggu, jangan bilang kalau orang yang nanti malam akan kamu temui adalah dia?" tebak Putri yang dijawab gelengan oleh Zia.
"Bukan, Mbak."