Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 138 - Helm


__ADS_3

Arash melihat ponselnya yang berdering, dia baru saja tiba di toko kue milik sang mama dan bertemu dengan Tante Lena untuk memberikan titipan dari ibunda ratu.


Pria itu pun langsung menghidupkan aplikasi ojek onlinenya, hitung-hitung uangnya di gunakan untuk mengisi bensin.


"Putri?" lirih Arash saat membaca nama pelanggannya.


"Kenapa aku jadi kepikiran dengan dia?" lirih Arash saat melihat lokasi di mana dia harus menjemput gadis itu.


"Ah, yang namanya Putri kan bukan cuma satu," lirih Arash dan berpamitan kepada Tante Lena untuk kembali bekerja.


Arash pun menggunakan jaket ojek onlinenya dan langsung menuju ke lokasi penjemputan. Sesampainya di lokasi, Arash mencoba menghubungi pelanggannya yang bernama Putri itu.


"Halo, Mbak. Saya sudah di lobi," ujar Arash saat panggilan sudah tersambung.


"Iya, sebentar ya, Pak, saya lagi di dalam lift," jawab Putri.


Panggilan pun terputus, Arash turun dari motornya dan menghampiri satpam yang bertugas.


"Eh, Mas Arash," tegur satpam yang bernama Dono.


"Iya, Pak. Max mana?" tanya Arash tentang keberadaan kucingnya itu.


"Max? Oh, tadi malam ada penghuni sini yang tiba-tiba meminta Max untuk menemaninya tidur," ujar Satpam Dono.


"Perempuan? Penghuni di apartemen ini?" tanya Arash yang di angguki oleh satpam Dono.


"Iya, Mas."


"Tumben banget ada yang mau bawa Max?" lirih Arash dan sangat penasaran dengan siapa perempuan yang sudah menbawa kucing piharaannya itu.


"Maaf Pak satpam."


Terdengar suara perempuan yang sangat lembut, sehingga membuat Arash dan Satpam Dono menoleh ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Putri?" lirih Arash, pria itu langsung melihat Max yang ada di tangan gadis itu.


"Jadi kamu yang bawa Max?" tanya Arash yang mana membuat Putri menyadari keberadaan pria itu.


"Pak Arash?" lirih Putri dengan kening mengkerut.


"Loh, saling kenal toh ternyata," kekeh Satpam Dono sambil menunjuk ke arah Putri dan Arash.


"Iya, Pak. Gak sengaja pernah bertemu beberapa kali," jawab Putri sambil tersenyum kecil.


"Max, sini ke Papa," ujar Arash sambil mengulurkan tangannya.


"Papa?" lirih Putri pelan. "Jadi kucing ini punya Anda?" tanya Putri dengan terkejut.


"Iya, Max punya saya," jawab Arash.


"Ah, maaf. Saya gak tau. Saya mengambil Max semalam karena merasa kasihan dengan dia. Maaf ya. Tapi, saya udah minta izin kok dengan pak satpam," jelas Putri.


Arash tersenyum kecil. "Gak papa, lagi pula saya jarang pulang ke sini," ujar Arash.


"Emm, kalau begitu saya permisi dulu ya," pamit Putri yang di angguki oleh Arash.


Putri pun mengeluarkan ponselnya, kemudian dia menghubungi ojek yang sudah menunggunya di lobi.


Drrt ... drrt ..


Arash meraih ponselnya yang bergetar, sehingga membuat pria itu langsung menggeser tombol hijau di saat mendapatkan panggilan dari pelanggannya.


"Iya, Mbak," ujar Arash yang mana membuat Putri menoleh ke arahnya.


"Anda tukang ojeknya?" tanya Putri kepada Arash, yang mana membuat pria itu juga ikut menoleh ke arah Putri.


"Mbak Putri?" lirih Arash sambil menunjukkan layar ponselnya.

__ADS_1


"Hmm, saya,"


Putri dan Arash pun terkekeh bersamaan, siapa yang menyangka jika mereka saat ini di takdirkan untuk menjadi pelanggan dan tukang ojek.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Arash.


"Iya, saya sudah hampir terlambat," jawab Putri dengan tersenyum.


Arash pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada satpam Dono.


"Untuk beli kopi dan makanan Max" ujar Arash sambil tersenyum.


"Makasih, Mas."


"Ayo," ajak Arash kepada Putri.


Putri menganggukkan kepala dan mengikuti Arash menuju motor pria itu.


"Pakai ini," ujar Arash sambil memberikan helm kepada Putri.


Putri pun memakai helm tanpa mengancingkan tali helmnya. Saat Putri hendak naik, Arash pun menahan lengan gadis itu.


"Kenapa?" tanya Putri dengan wajah yang bingung.


"Pakai helmnya yang bener," ujar Arash sambil menunjuk ke arah tali helm yang belum di kancing.


"Oh." Putri pun berusaha mengancingkan helmnya, akan tetapi gadis itu terlihat kesulitan.


"Sini, saya bantu," ujar Arash dan mengulurkan tangannya untuk membantu Putri mengancingkan tali helmnya.


Putri pun membiarkan pria itu mengancingkan helmnya, sehingga membuat keduanya saling pandang.


"Sudah," ujar Arash memutuskan pandangan.

__ADS_1


"Terima kasih," cicit Putri dan meminta izin untuk naik ke atas motor.


"Huuff, kenapa gue berdebar-debar yaa?" batin Arash dalam hati.


__ADS_2