Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 43 - Pencopet


__ADS_3

Waktu terus berjalan, setiap detiknya akan menciptakan sebuah kenangan. Seperti saat ini, Sifa dan Abash masih saling terpaku dalam tatapan masing-masing.


Ting ....


Suara dentingan Lift membuat keduanya tersadar dan memutuskan kontak mata. Abash sempat berdehem pelan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Deg ... deg .. deg ...


Sifa tak tahu, ini detak jantung miliknya atau milik Abash. Karena saat ini, yang dia rasakan adalah, detak jantung yang berpacu cepat seolah-olah dirinya baru saja berlari maraton. Tanpa sadar, Sifa semakin mempererat pegangan tangannya yang mengalung di leher Abash.


Ceklek ...


Pintu apartemen itu terbuka, Sifa masih sibuk dengan pikirannya yang melayang entah ke mana.


"Apa kamu tidak akan melepaskannya?" tanya Abash menyadarkan lamunan Sifa.


"Hah?"


Sifa tersadar jika saat ini dia telah berada di dalam apartemen, lebih tepatnya di atas sofa dengan Abash yang masih membungkuk dan dirinya yang masih setia mengalungi tangannya di leher Abash.


"Eh, maaf," cicit Sifa sambil melepaskan lingkaran tangannya di leher Abash.


Abash menegakkan tubuhnya. "Sebaiknya kamu mengganti pembalut, sebelum tembus ke atas sofa," ujar Abash dan berbalik menuju dapur.


Sifa menggigit bibir dan menutup matanya. Dia sungguh malu, belum lagi jas yang di pakai untuk menutupi bokongnya adalah milik Abash, sang bos jutek tapi perhatian.


Perhatian? Benarkah?


Hmm, Sifa tak ingin salah paham dalam mengartikan kata itu, mungkin kata 'Baik' lebih cocok di gunakan.


Sifa bergegas bangkit dan lari menuju kamarnya.


Di dapur, Abash yang baru saja menghabiskan segelas air putih, memegangi jantungnya yang berdegup kencang.


"Perasaan apa ini? Kenapa berdetak cepat seperti ini?" lirihnya.


Lagi, Abash menuangkan segelas pulenuh air putih dan memeguknya hingga tandas.


"Akhh ...." Abash menggeram karena jantungnya masih berdebar dengan cepat. Belum lagi, aroma tubuh Sifa yang menguar dari tubuhnya, memanjakan hidungnya untuk terus menghirupnya.


"Tapi, wanginya kenapa bisa seenak itu ya? Padahal kan parfum yang dia gunakan bukan parfum mahal?" cicit Abash.


"Akhh, udah lah. Bukan urusan aku juga. Sebaiknya aku segera pulang, sebelum ibu ratu marah."


Abash meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja, kemudian dia berbalik dan meninggalkan apartemen Sifa.


*


Sifa memegangi dadanya, di mana dia dapat merasakan degupan kencang dari jantungnya.


"Pak Abash denger gak yaa? Kenceng banget gini. Aku aja sampai bisa denger sendiri detak jantungku!" cicit Sifa yang menyandarkan tubuhnya di balik pintu.


Terdengar suara pintu apartemen tertutup, menandakan jika Abash telah keluar tanpa pamit dengannya.


Tiba-tiba saja Sifa merasa sedih, karena Abash tak berpamitan dengannya.

__ADS_1


"Sifa, sadarlah. Kamu bukan siapa-siapa," lirih Sifa dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


*


"Ma," sapa Abash saat melihat sang mama yang tengah menonton film India.


"Ya, sayang."


Abash melangkahkan kakinya mendekati sang mama dan duduk di sampingnya. Tak lupa, Abash memeluk tubuh sang mama.


Mama Kesya tersenyum dan mengelus rambut sang putra dengan sayang.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Mama Kesya.


Abash menggelengkan kepalanya. "Cuma pingin peluk aja."


Mama Kesya tersenyum, walaupun sudah bisa merasakan jika ada yang tak beres dengan sang putra, tapi, Mama Kesya tetap diam dan membiarkannya. Mama Kesya tak akan memaksa anak-anaknya untuk bercerita, karena pasti akan ada masanya sang anak akan menceritakan hal yang menjanggal di dalam hati kepadanya.


Tak ada tempat curhat yang lebih baik, selain sang mama.


"Tumben manja?" tanya Papa Arka yang baru saja keluar dari dalam kamar.


"Lagi pingin aja. Hari ini mama milik aku, Papa gak boleh rebut," ujar Abash sambil mempererat pelukannya.


Mama Kesya terkekeh, sedangkan Papa Arka sudah mendengus kesal.


Abash menutup matanya sambil memeluk sang mama. Namun, hanya mata yang tertutup, tidak dengan pikirannya. Abash masih berpikir, kenapa jantungnya bisa berdegup dengan kencang saat matanya bertemu dengan milik Sifa.


*


"Pagi, duuh, semenjak udah gabung di tim elang, makin cantik aja. Penampilannya juga makin rapi," ujar satpam tersebut.


"Harus, Pak. Kan sesuain dengan di mana tempat kita kerja."


"Tapi, kalau pakai heals, lebih mantap lagi sepertinya," tambah Bimo yang baru saja tiba dan mendengarkan percakapan Sifa dan satpam.


Sifa menoleh dan tersenyum tipis. Tak berapa lama, sebuah mobil mewah berhenti di depan lobi. Satpam yang sudah hafal milik siapa mobil tersebut, langsung menghampiri dan menyambut kedatangan bos besar.


Seluruh karyawan yang masih berada di lobi, langsung memberikan sikap berdiri tegap.


"Siapa?" bisik Sifa.


"Oh, Tuan besar Riko, kamu tau?"


Sifa membelalakkan matanya. "Orang tuanya Pak Farhan?"


"Iya."


Saat Riko berjalan, semua karyawan menundukkan kepalanya memberi hormat, termasuk Sifa.


"Kenapa bisa di sini?" tanya Sifa lagi saat Riko telah berlalu.


Bimo hanya mengendikkan bahunya. "Yuk, masuk."


Bimo dan Sifa pun berjalan beriringan menuju ruangan mereka.

__ADS_1


*


Seluruh tim elang terkejut, saat Abash mengatkan jika ujian tahap awal bergabung dengan tim kobra di percepat.


Sifa *******-***** tangannya, dia sangat berharap bisa masuk ke tim kobra, karena dia bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya.


"Baiklah, persiapkan diri kalian yang ingin bergabung dengan tim kobra, dua Minggu lagi kita akan melakukan seleksi tahap awal," ujar Abash kepada seluruh tim elang.


Rapat dadakan tersebut berakhir, Abash dan Riko keluar dari ruang rapat.


"Huuff ...." Sifa menghela napasnya dengan sedikit berat.


"Kenapa?" tanya Bimo yang memang berada di sampingnya.


"Tidak ada," jawab Sifa dengan lesu.


Bagaimana mungkin Sifa bisa mengatakan kepada Bimo, jika dirinya sangat berharap bisa masuk ke tim kobra demi mendapatkan beasiswa. Sedangkan dirinya masih berstatus anak magang, dan itu belum genap sebulan.


*


Sepulang kantor, Sifa memanfaatkan waktunya untuk mencari buku referensi di toko buku. Pastinya di toko buku lama, yang mana menjual dan menyewakan segala macam buku-buku keluaran lama.


Hanya ini usaha yang bisa Sifa lakukan, secara dia tak memiliki banyak uang untuk membeli buku-buku keluaran terbaru.


Setelah memilih beberapa buku, Sifa pun membayar uang sewa buku tersebut di kasir. Dari jendela kasir, Sifa melihat seorang ibu-ibu yang sedang berdiri di pinggir jalan, kemudian hingga seorang pria bertopi merampas tas yang di sandang oleh ibu itu.


Sifa yang melihatnya refleks keluar dari toko dan mengejar pencopet tersebut.


"Copeeet," jerit Sifa sambil mengejar si pencopet.


Sifa harus berterima kasih kepada guru olah raganya yang selalu menghukum dirinya berlari mengitari lapangan, karena selalu terlambat saat masuk sekolah.


Sifa melepas sepatunya dan melemparkan sepatu tersebut ke arah si pencopet.


Bughh....


Telat sasaran, sepatu Sifa mendarat mulus di kepala si pencopet sehingga membuatnya terhoyong.


Sifa melepas tasnya dan memukuli si pencopet tersebut.


"Dasar copet," pekik Sifa sambil terus memukulinya.


Si pencopet pun meraih tas Sifa dan menariknya kuat hingga gadis itu tersungkur. Sifa mengangkat tangannya saat melihat si pencopet ingin memukulinya.


Bugh ... bugh ... bugh ...


Perlahan, Sifa menurunkan tangan yang melindungi kepalanya, mata gadis itu terbelalak saat melihat si pencopet sudah di hajar oleh pria berbaju hitam.


"Kamu gak papa?" tanya suara lembut yang sangat ke ibuan.


Mata Sifa kembali terbelalak, diabtak percaya jika orang yang di tolongnya adalah salah satu ratu Moza.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...

__ADS_1


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2