
Abash mengalihkan perhatiannya di saat pintu mobilnya terbuka. Pria itu dengan cepat menyimpan ponselnya ke dalam kantong celana.
"Sudah?" tanya Abash kepada Putri.
"Hmm, kita berangkat sekarang," ajak Putri dengan suara yang parau
Abash tahu, jika Putri sedang menangis tadi. Gadis itu menangis sesenggukan karena harus berpisah dengan sang adik untuk sementara waktu di saat gadis belia itu membutuhkan keberadaannya. Tapi, semua ini demi kebaikan keluarga mereka juga. Semakin cepat mereka mencabut tuntutan itu, maka semakin cepat pula semua urusan ini selesai. Abash pun dapat mengumumkan hubungannya dengan Sifa ke semua orang. Setidaknya kepada keluarganya besarnya dulu.
Abash melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membelah jalanan yang padat. Tidak ada percakapan di antara dirinya dan Putri, kesunyian mereka hanya di temani musik yang mengalun merdu.
Putri menurunkan sedikit sandaran kursinya, gadis itu merasa mengantuk karena terlalu banyak menangis.
"Maaf, jika saya tidur tidak apa-apa kan?" tanya Putri kepada Abash.
"Silakan," jawab Abash yang mana membuat Putri merasa lega dan tidak perlu merasa bersalah karena sudah membiarkan Abash menyetir sendirian.
Putri membuka matanya di saat merasakan mobil tak lagi bergerak.
"Apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara khas baru bangun tidur.
Gadis itu pun melihat jika sudah ada jas milik Abash di atas tubuhnya, di mana sudah bisa di pastikan jika pria itu yang melakukannya.
Tidak mungkin kan jas itu jalan sendiri untuk menutupi tubuhnya.
"Kita ngopi dulu ya," ujar Abash sambil menunjuk tempat makan yang ada di rest area.
Putri meliihat ke arah jam tangannya. Jika benar hitungan dan dugaan gadis itu, mereka seharusnya sudah sampai dari tiga puluh menit yang lalu di rest area. Tetapi, kenapa Abash tidak membangunkannya?
"Kenapa Anda tidak membangunkan saya?" tanya Putri yang sudah membenarkan letak duduknya.
"Saya gak tega banguninnya," ujar Abash dengan wajah datarnya.
"Seharusnya bangunin aja," ujar Putri sambil menguap.
"Ayo turun," ajak Putri yang sudah duluan membuka pintu mobil.
"Lah? Kenapa jadi dia yang duluan turun?" cibir Abash sambil melihat punggung Putri yang semakin menjauh.
Melihat ke arah mana Putri berjalan pun, membuat Abash mendapatkan jawaban dari kekesalannya tadi, karena gadis itu sudah meninggalkannya duluan.
Abash pun berjalan menuju kursi yang tersedia. Pria itu memesan kopi hangat untuknya. Sebenarnya dia ingin memesankan minuman untuk Putri, tetapi dia takut jika Putri tidak menyukai pesanannya.
"Anda sudah pesan?" tanya Putri yang sudah duduk di hadapannya.
Abash memperhatikan Putri yang tengah menggulung rambutnya ke atas, menampilkan leher jenjang gadis itu. Sedikit pun gadis itu terlihat tak peduli dengan penampilannya di depan seorang pria tampan sepertinya.
Jika di pikir-pikir, apa yang di katakan oleh Quin ada benarnya, jika Putri ini sebenarnya termasuk kriteria perempuan yang Abash inginkan. Putri ini sangat cantik. Tidak hanya cantik, tetapi juga gadis yang pintar, berani, pekerja keras, manja, dan yang terpenting bisa membuat kue sus.
__ADS_1
Abash menggelengkan kepalanya di saat pikirannya sudah menelantur terlalu jauh.
"Kenapa? Apa Anda pusing?" tanya Putri yang melihat di saat Abash menggelengkan kepalanya.
"Tidak," jawab Abash sambil mengusap hidungnya yang tak gatal. "Ah ya, saya belum memesan apa-apa untuk Anda. Karena saya takuk jika Anda tidak menyukai pesanan saya," ujar Abash memberi tahu.
"Tidak apa, lagian saya sudah memesannya tadi," ujar Putri sambil menunjuk ke arah pelayan yang sedang membawakan pesanannya.
"Ini, Mbak, pesanannya," ujar pelayan tersebut dengan ramah sambil meletakkan es teh manis dan juga mie instan goreng dengan toping telur di atasnya.
"Terima kasih, Mbak," jawab Putri tak kalah ramah.
Abash yang melihat mie instan yang di pesan oleh Putri pun, membuat perut pria itu terasa lapar.
"Mbak, saya pesan satu lagi yang seperti itu ya," tunjuk Abash menahan pelayan yang ingin pergi itu.
"Pedas juga, Mas?" tanya pelayan tersebut.
"Sedang aja," jawab Abash yang diangguki oleh pelayan.
"Baik, Mas, tunggu sebentar."
Putri tersenyum sambil menyeruput es teh manisnya.
"Doyan mie instan juga?" tanya Putri hanya sekedar basa basi untuk mencari bahan obrolan di antara mereka.
"Tidak juga, hanya saja melihat mie instannya yang di masak seperti itu, membuat cacing di perut saya berdemon," ujar Abash yang mana membuat Putri tertawa.
"Ah ya, saya duluan ya, mie instan yang di masak begini, gak enak kalau di makan sudah dingin," ujar Putri yang diangguki oleh Abash.
"Silakan."
Putri pun mulai menyendokkan mie ke dalam mulutnya, gadis itu langsung berseru nikmat dengan bibir yang kepedasan.
"Ini enak, tapi sangat pedas," lirihnya sambil menyeruput es teh manisnya.
TIba-tiba saja dia teringat akan Arash, di mana pria itu mengatakan jika rasa pedas akan hilang dengan meminum air hangat.
"Ini, Mas, pesanannya," ujar pelayan sambil memberikan pesanan Abash.
"Mbak, minta air putih hangat satu ya," pinta Putri.
"Baik, Mbak."
"Cepet ya, Mbak," ujar Putri yang sudah kepedasan.
"Iya, Mbak."
__ADS_1
"Gak tahan pedas, kenapa pesan yang pedas?" tanya Abash.
"Saya pikir gak sepedas ini. Kayaknya ini pakai cabe bencong deh," ujar Putri yang mana membuat Abash tersedak mie yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Uhuk ..uhukk .. Uhukk ..
"Eh, kenapa? Minum dulu," ujar Putri merasa bingung harus memberikan air minum apa kepada Abash, karena pria itu hanya memesan kopi. Tak mungkin 'kan dia memberikan kopi kepada pria itu untuk meredakan batuknya? Gak mungkin juga memberikan air teh manis dingin miliknya kepada Abash, karena sudah bekas dia minum.
Putri pun mellihat di meja sebelah mereka ada air mineral botol, gadis itu pun berdiri dan mengambil air minera botol tersebut, pastinya sudah meminta izin kepada orang yang duduk di sana.
"Minum dulu," titah Putri yang sudah membuka tutup botol air mineral.
Abash meneguk air tersebut hingga setengah botol, barulah pria itu bernapas dengan lega.
"Kenapa bisa sampai tersedak?" tanya Putri di saat melihat Abash sudah mulai tenang.
"Gara-gara kamu bilang cabai bencong," ujar Abash yang masih merasa tenggorokannya terasa perih.
"Masa iya cabe bisa jadi bencong?" cibirnya dengan bingung.
Putri pun tertawa, dia merasa lucu dengan pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Bukan cabenya yang jadi bencong, tetapi memang nama cabe tersebut cabe bencong. Karena rasanya yang pedas dan warnanya yang sangat mencolok, makanya di beri nama cabe bencong," kekeh Putri yang mana membuat Abash semakin bingung.
"Apa pun itu alasan namanya, tetap saja tidak masuk akal," ketusnya.
"Ya sudah, ayo di lanjut lagi makannya," ajak Putri
Tak berapa lama air putih hangat pesanan Putri pun tiba.
"Makasih, Mbak," ujar Putri kepada pelayan tersebut.
"Mbak, saya pesan jus jeruk dingin dong," pinta Abash dengan kepedasan.
"Eh, jangan minum yang dingin kalau kepedasan. Sebaiknya minum minuman yang hangat, agar pedesnya hilang," saran Putri yang akhirnya diangguki oleh Abash.
"Jerus hangat, Mbak, gak pake lama," pesan Abash yang diangguki oleh pelayan tersebut.
"Baik, Mas, tunggu sebentar ya," ujar pelayan itu.
Putri pun dan Abash pun kembali melanjutkan makanannya.
"Tahan banget Anda pedas," tanya Abash yang sudah sangat kepedasan. Bahkan pria itu sudah menghabiskan ari mineral yang ada di dalam botol tadi. Walaupun pedas, akan tetapi rasa mie yang nikmat itu membuat dia tak ingin berhenti untuk memakannya.
"Gak tau, rasanya enak aja gitu," ujar Putri sambil menyerutut air hangatnya.
"Anda tau, Anda sama seperti Arash, kalau makan yang pedas, suka minumnya yang hangat."
__ADS_1
Uhuk ...uhhuk ..uhuk ..
Kali ini gantian Putri yang tersedak.