
"Maaf ya," cicit Putri saat Toto dan tukang pijit telah pergi dari apartemen.
"Gak masalah, lagian kamu pasti gak sengaja kan?" jawab Arash yang sudah terbaring lemah di sofa.
"Ah ya, tadi aku minta tolong ke asisten kamu, buat ambilin bahan makanan di kulkas aku, gak papa kan? Sekalian, aku mau minta izin buat pakai dapur kamu sebentar, boleh?" izin Putri.
Arash mengerjapkan matanya, kemudian pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Silakan."
Putri tersenyum manis. "Terima kasih."
Tak berapa lama pintu apartemen kembali terbuka, Toto berjalan masuk ke dalam apartemen dan langsung di kejar oleh Putri.
"Terima kasih," ujar Putri sambil menerima barang bawaan yang ada di tangan Toto.
"Nona gak papa?" tanya Toto yang merasa shock saat melihat betapa berantakannya apartemen gadis itu.
"Ya, saya gak papa," jawab Putri sambil tersenyum kecil.
"Mau saya panggilkan orang untuk membersihkan apartemen Nona?" tawar Toto.
"Emang boleh?" tanya Putri.
Gadis itu tidak kepikiran ke arah sana. Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah kesehatan Arash.
"Tapi, apa mereka bisa di percaya?" tanya Putri cepat.
__ADS_1
"Nona tenang saja, mereka semua bisa di percaya," jawab Toto penuh keyakinan.
Putri melirik ke arah Arash, hingga pria itu menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja, mereka semua berlisensi kok," ujar Arash yang mana membuat Putri terkekeh.
"Baiklah, terima kasih banyak," ujar Putri kepada Toto.
Toto pun pamit setelah merasa tugasnya selesai, pria itu kembali keluar dari apartemen sang bos.
"Aku siapin sarapan dulu ya," pamit Putri yang di angguki oleh Arash.
Putri pun berencana untuk membuat omelet sosis sebagai menu sarapan mereka lagi ini.
"Aaaaa ...." pekik Putri yang mana membuat Arash bangkit dari tidurnya dan berjalan pelan menuju dapur.
"Ada apa?" tanya Arash merasa khawatir.
"I-itu ..." tunjuk Putri yang sudah berjongkok di bawah kitchen set dengan tangan yang menutupi wajahnya.
Arash mengikuti arah tunjuk Putri, pria itu awalnya merasa bingung apa yang di maksud oleh gadis itu, akan tetapi saat dia memperhatikan semua bahan-bahan yang ada di atas meja, Arash pun mulai memahami apa yang di takutkan oleh Putri.
Arash mengambil semua sosis-sosis itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Berdirilah," titah Arah yang langsung di turuti oleh Putri.
__ADS_1
Arash terkejut di saat Putri langsung memeluk tubuhnya sambil terisak. Dapat pria itu rasakan jika saat ini tubuh Putri sedang gemetar hebat.
"A-aku melihat jari yang berdarah di sana, hiks .."
"Tenanglah, itu hanya sosis," bisik Arash sambil mengusap punggung Putri.
"A-aku takut," lirih Putri dalam pelukan Arash.
*
Abash mendapatkan kabar jika sang kembaran tidak masuk kerja hari ini, begitu pun dengan Putri.
"Kenapa, Mas?" tanya Sifa yang memang masih berada bersama dengan sang kekasih.
"Putri dan Arash gak masuk kerja, aku tiba-tiba merasa khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mereka," ujar Abash yang mana takut jika Putri dan Arash di jebak oleh orang yang tidak di kenal, sehingga membuat mereka tidur bersama.
"Sebaiknya Mas lihat keadaan mereka dulu," saran Sifa.
"Tapi aku masih ingin bersama kamu di sini, Sifa," rengek Abash.
"Besok lagi, oke!" ujar Sifa sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Udah mulai genit sekarang ya." Abash pun dengan cepat menahan kepala Sifa dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir manis gadis itu.
"Mas, jangan nakal. Ini di kantor," ujar Sifa dengan malu.
__ADS_1