Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 29 - Tinggal Di Apartemen?


__ADS_3

"Bapak masih lapar? Mau saya masakin lagi?" tanya Sifa.


"Tidak, tadi saya sudah memesan makanan. Saya juga pesan satu untuk kamu, tanpa nasi."


Tak berapa lama bel apartemen berbunyi, Abash langsung menghampiri pintu dan membukanya. Setelah membayar pesanan makanannya, Abash kembali masuk ke dalam apartemen dan menuju living room.


"Ayo makan. Kita makan di sini aja, sambil nonton," ujar Abash sambil meletakkan kotak makanan di atas meja.


Sifa berdiri berniat untuk mengambil piring.


"Mau ngapain?" tanya Abash.


"Mau ambil piring."


"Duduk aja, kaki kamu gak boleh banyak gerak," titah Abash dan Sifa langsung menurut.


Abash mengambil piring dan juga minuman untuk mereka berdua. Percayalah, ini yang pertama kalinya Abash lakukan untuk orang asing.


Abash dan Sifa mulai menikmati makanan mereka. "Enak banget, saya baru pertama kali makan makanan seenak ini," seru Sifa dengan mulut yang penuh.


Abash hanya bergumam menanggapi ucapan Sifa. Perlahan, Abash melirik kearah Sifa yang tengah menikmati makannya. Terlihat Sifa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Persis seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hadiah.


"Eemmm, ya Allah, ini enak banget." seru Sifa lagi sambil memasukan daging dan sayuran ke dalam mulutnya.


Tanpa sadar, sudut bibir Abash tersungging membentuk sebuah senyuman tipis saat melihat Sifa yang terlihat sangat menikmati makanannya.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Pak. Saya benar-benar kenyang," ujar Sifa dengan tulus.


Abash menganggukkan kepalanya tanpa sebuah senyuman di bibirnya.


"Kamu istirahat saja di kamar. Ini obat jangan lupa di minum. Oh ya, satu lagi, jika kamu lapar atau haus, kamu bisa mengambil makanan dan meminum apapun yang ada di dalam kulkas. Saya sudah memberikan kamu izin."


"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Saya janji, saya akan secepatnya mencari tempat tinggal."


Abash menatap wajah Sifa yang tersenyum dengan tulus kepadanya.


Tempat tinggal?


Abash meneliti apartemennya ini. Minggu depan apartemennya telah selesai di renov, jadi, sayang banget kan jika apartemen ini terabaikan?


Lagi pula menurut Abash, Sifa termasuk orang yang pembersih. Terlihat dari kebersihan dan kerapian rumahnya. Walaupun kecil, tetapi rumah Sifa terlihat bersih dan nyaman.

__ADS_1


"Kamu tinggal saja di sini, lagi pula tempat ini gak terpakai."


Sifa mengangkat kepalanya menatap wajah Abash. "Lalu, Bapak?"


"Apartemen saya Minggu depan sudah selesai renov. Ini sebenarnya apartemen sementara saja. Lagi pula, saya jarang tinggal di apartemen."


"Duh, jangan, Pak. Saya gak enak. Bapak udah baik banget sama saya. Saya cari tempat tinggal lain aja."


"Karena saya udah baik sama kamu, jadi kamu harus membalasnya kan? Jadi saya mau kamu tinggal di sini aja," titah Abash tak ingin di bantah.


"Tapi, Pak__"


"Oke, kalau kamu gak mau mendengarkan perintah saya. Kamu bisa cari pekerjaan lain." Ancam Abash lagi.


"Iih, Bapak. Mainnya ngancam," kesal Sifa.


Entah kenapa, Abash suka melihat wajah Sifa yang sedang tersenyum, kesal dan juga tertawa. Seketika Abash menggelengkan kepalanya dan meyakinkan dirinya jika dia tidak tertarik kepada Sifa.


'Ya, aku tidak tertarik dengannya. Aku hanya kasihan." batin Abash yang sudah mengetahui masa lalu Sifa.


Tidak sulit bagi Abash untuk mencari tahu tentang masa lalu Sifa. Maka dari itu, Abash tidak ragu untuk menyuruh Sifa tinggal di apartemennya. Selama ini, Sifa adalah gadis yang jujur dan pekerja keras.


"Bayar?" tanya Abash kembali.


"Iya, tiap bulan saya akan memberi uang sewa kepada Bapak. Gimana?"


"Sebaiknya kamu simpan saja uang itu,


cukup kamu bersihi dan rawat apartemen ini, sudah cukup bagi saya."


"Tapi, Pak___" Sifa menghentikan ucapannya karena Abash mengangkat tangannya untuk menyuruhnya diam.


Abash mengangkat panggilan yang masuk, tak berapa lama Abash pun bergegas menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan juga kunci mobilnya.


"Kamu istirahat saja, oh ya, lusa jangan lupa ke rumah sakit untuk menjumpai Dokter Lucas. Kaki kamu harus di Rontgen. Ingat, jangan sampai gak datang," titah Abash sebelum meninggalkan apartemen.


Sifa hanya memandang pintu itu terbuka hingga tubuh Abash menghilang dari balik pintu tersebut bersamaan dengan pintu yang tertutup.


Sifa menghela napasnya pelan. Dia memandang sekeliling apartemen yang dapat di jangkau oleh matanya. Haruskah dia tinggal di sini?


Kembali, Sifa memandang ke arah kakinya yang masih di gips. Sepertinya untuk sementara tinggal di sini, adalah pilihan tepat bagi Sifa saat ini. tak mungkin juga kan dia mencari tempat tinggal dengan keadaan kakinya seperti ini?

__ADS_1


Sifa pun beranjak dari tempat duduknya dan membereskan sisa makan mereka tadi. Sakin terburu-burunya, Abash sampai lupa membereskan bekas makan mereka. Tak apa, lagi pula ini akan menjadi tugas Sifa untuk membersihkan apartemen milik bos-nya ini.


Setelah membersihkan piring, Sifa pun kembali masuk ke dalam kamar. Sifa melihat ada tas yang di duganya berisi barang-barang miliknya. Gadis itu berjalan tertatih untuk memeriksa isi tas tersebut.


Sifa bersyukur karena isi dalam tas itu benar barang miliknya. Gadis itu mencari pakaiannya, dia sudah gerah dan ingin membersihkan dirinya. Tak lupa, Sifa mengisi daya baterai ponselnya. Dalam tasnya juga terdapat charger ponselnya.


Sifa bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


*


"Mafia?" tanya Abash kepada Farhan.


Ya, orang yang menghubungi dirinya adalah Farhan.


"Hmm, Veer juga sedang membawa Nafi menuju ke sini. Aku sudah menyuruh Arash bersiaga," ujar Farhan memberi tahu kepada Abash.


Abash memicit keningnya. Terlalu banyak pekerjaan dan juga cobaan yang tengah keluarga mereka hadapi.


Abash meraih ponselnya dan menghubungi Veer untuk menanyakan keadaan sang kakak ipar. Abash bernapas lega dan juga bersyukur karena Nafi tak terluka parah, tetapi, asisten Nafi, Tata, harus menjalani perawatan intensif di Korea.


Abash melirik jam tangannya, dia pun berpamitan dengan Farhan dan menuju kantornya. Sepertinya Abash harus mengerjakan pekerjannya di kantor.


*


Nafi dan Veer telah berada di Indonesia, kehadiran mereka langsung di sambut oleh tim di rumah sakit. Abash langsung bergegas menyusul ke rumah sakit saat mendapatkan kabar jika mereka telah tiba di tanah air.


"Bagaimana keadaan Kak Nafi?" tanya Abash kepada sang Mama.


"Kita tunggu pemeriksaannya dulu ya," ujar Mama Kesya dengan lembut.


Di tempat lain, Sifa menatap isi pesan dari sang sahabat. Haruskah dia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi saat ini? Tetapi, Sifa tak ingin jika Amel salah sangka kepadanya dan berpikir telah merayu Abash.


Ya, walaupun Sifa tak mengetahui jika Amel menyukai Abash. Bahkan, Amel masuk ke jurusan teknologi karena terinspirasi oleh Abash.


"Aku gak apa, kemarin aku hanya teringat dengan kamu dan mengkhawatirkanmu. Bagaimana kabarmu sekarang?"


Sifa mengirim pesan tersebut kepada Amel. Ya, Sifa tak akan mengatakan apa yang terjadi pada dirinya. Gadis itu tak ingin membuat sang sahabat merasa khawatir.


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH

__ADS_1


__ADS_2