
Jadwal sidang akhir Sifa pun akhirnya telah keluar. Tidak lama lagi gadis itu akan mendapatkan gelar sarjananya.
Sifa yang sedang di sibukkan dengan tugas akhirnya pun, membuat perpindahan gadis itu dari kantornya Abash ke perusahaannya Farhan menjadi tertunda. Untungnya pihak dari Farhan pun mengerti akan kesibukan Sifa akhir-akhir ini yang sedang mengejar sidang akhirnya. Bahkan, Sifa sampai mengambil mata kuliah singkat demi memenuhi semua nilai-nilainya.
Abash selaku sang kekasih pun ikut membantu Sifa, agar gadis itu dapat menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin. Walaupun Sifa berhasil sampai ke tahap ini berkat bantuan Abash, akan tetapi kepintaran gadis itu tidak perlu diragukan lagi.
Yang jelas, semua skripsi Sifa adalah murni hasil dari karya gadis itu sendiri.
"Bash, Mama datang yaa besok ke kampus. Mama pingin lihat Sifa sidang dan memberikan dukungan ke dia," pinta Mama Kesya.
"Jangan, Ma. Nanti yang ada jadi masalah buat Sifa. Mama tau sendiri kan, kalau hubungan Abash dan Sifa masih harus di rahasiakan," ujar Abash mengingatkan.
"Iya sih, tapi kan kasihan Sifa sendirian, tidak ada yang menemani dia," ujar Mama Kesya memohon kepada sang putra.
Abash terdiam, pria itu pun teringat akan satu orang yang selama ini selalu ada untuk Sifa. Tapi, akhir-akhir ini gadis itu seolah menghindar dari Sifa, sehingga membuat kekasihnya itu merasa sedih.
Orang yang ada di dalam pikirkan Abash saat ini adalah Amel. Gadis yang diam-diam menyimpan perasaan kepadanya dan sempat membuat hubungan diantara dirinya dan Sifa terjadi kesalahpahaman. Amel awalnya sudah mengundurkan diri dari perusahan Abash, akan tetapi pria itu merobek surat pengunduran diri gadis itu.
Beberapa bulan lalu.
"Apa ini?" tanya Abash kepada Amel.
Pria itu baru saja mendapatkan kabar dari sang asisten, jika mahasiswa magang mereka yang lain baru saja mengundurkan diri. Hal itu pun membuat Abash tak suka. Bukannya Abash ingin mempertahankan Amel untuk tetap berada diperusahaannya, akan tetapi dia tidak ingin melihat sang kekasih merasa sedih atas kehilangan sahabat baiknya selama ini.
Lagi pula, apa yang terjadi antara Amel dan Sifa pun, hanya sebuah kesalahpahaman dan miskomunikasi saja. Sehingga membuat salah satu dari mereka menempuh cara yang salah. Namun, Sifa telah memaafkan semua kesalahan Amel dan meminta Abash untuk tidak menyalahkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Atas permintaan Sifa pula, Abash membiarkan Amel dan tidak mempermasalahkan apa yang telah gadis itu perbuat.
Amel melihat sebuah surat yang ada di tangan Abash, gadis itu mengernyitkan keningnya di saat melihat surat yang tidak asing di matanya.
"I-ini?"
Abash mengeluarkan isi surat yang ada di dalam amplop putih, kemudian menunjukkan isi yang tertulis di dalamnya.
"Sudah lihat?" tanya Abash.
Amel menghela napasnya pelan, ternyata dugaannya benar, jika surat yang ada di tangan Abash adalah surat pengunduran dirinya.
"Kenapa Pak Abash membawa surat itu ke sini? Bukannya itu yang Pak Abash inginkan?" ujar Amel dengan lemas dan menahan rasa sakit di hatinya.
Amel membulatkan matanya, di saat Abash merobek surat pengunduran dirinya.
Setelah mengatakan hal itu, Abash berbalik dan menjauh dari apartemen Amel. Amel pun merasa bingung, kalimat terakhir yang di ucapkan Abash membuat jantung, pikiran, dan tubuhnya bergetar. Bahkan, air matanya pun jatuh berlinang merasa bersalah terhadap sahabat baiknya selama ini.
"Sifa, kamu? hiks ... apa kamu sudah mengetahui semuanya"
Sejak saat itu, Amel tidak berani lagi mendekat ke arah Sifa. Walaupun gadis itu selalu menyapa dan mengajaknya untuk makan siang bersama, Amel selalu beralasan dan menghindari gadis itu. Bagi Amel, dia merasa tidak pantas untuk menjadi sahabat Sifa yang berhati baik dan mulia. Untuk itulah, Amel memilih untuk menjaga jarak dengannya.
"Bash, kok malah bengong, sih? Mama besok temani Sifa, ya?" bujuk Mana Kesya lagi.
Abash menoleh, pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ma, kita nonton dari rumah aja, ya?" putus Abash.
Mama Kesya pun terpaksa mengangguk dan menyetujui apa yang di katakan oleh sang putra. Walaupun dalam hati, Mama Kesya sangat ingin menemani calon menantunya itu.
*
"Bash, kamu sudah siapin semuanya, kan?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma.Abash sudah menyiapkan semuanya."
"Sifa sudah kamu kasih tahu belum? Tentang acara nanti malam?" tanya Mama Kesya memastkan sang putra.
"Sudah, Ma."
"Baguslah kalau begitu." Mama Kesya menghela napasnya degnan pelan.
Mama Kesya sudah mengajak semua orang yang ingin menonton sidang Sifa di rumah, termasuk Kakek Farel yang sangat bersemangat untuk melihat cucu menantunya itu. Abash sudah menayangkan video live saat Sifa menjalani sidangnya.
Satu hal yang membuat Mama Kesya sedih dan meneteskan air matanya. Tidak ada satu orang lain yang terlihat menemani Sifa.
"Rasanya Mama ingin sekali pergi ke sana," lirih Mama Kesya dan memeluk lengan sang suami.
"Sabar, Ma. Sebentar lagi Sifa kan menjadi menantu kita. Jadi, pasti semua orang akan menyesal karena telah memperlakukan gadis itu dengan buruk," bisik Papa Arka.
"lihat saja, Mama akan kasih pelajaran dengan orang-orang yang telah meremehkan Sifa," kesal Mama Kesya, Papa Arka pun berusaha untuk menenangkan sang istri.
__ADS_1
Di tempat lain, Sifa yang tengah menjalani proses sidang akhir kuliahnya, sempat melihat kehadiran Amel. Gadis itu bersembunyi untuk menonton dirinya.
"Aku tau, kamu pasti akan datang untuk menemani aku, sahabatku." lirih Sifa dan tersenyum ke arah di mana Amel bersembunyi.