
"Kamu jangan lupa datang ya, Arash, ke pertunangannya Putri dan juga Soni."
Tak hanya Arash yang tersambar petir, tetapi Putri juga.
"Mak-maksud Mama apa?" tanya Putri dengan bingung.
Mama Nayna tersenyum, kemudian menghampiri sang putri dan membelai lengannya dengan lembut.
"Mama sudah tau tentang kamu dan Soni. Dia sudah melamar kamu, kan?" tanya Mama Nayna.
Ya, Mama Nayna memang sudah tahu tentang Soni yang telah melamar Putri. Dan juga, tentang jawaban Putri kepada pria itu, di mana Putri tidak bisa menerimanya saat ini karena mencintai pria lain.
Tetapi, untuk melancarkan aksi yang di rencanakan oleh Mama Kesya, Mama Nayna pun bersedia bersekutu dengan calon besannya itu. Wanita paruh baya itu juga ingin, seberapa besar tekad calon menantunya untuk mempersunting sang anak.
"Ma, tap-tapi ...."
"Maaf, Tante, jika saya menyela," potong Arash yang mana membuat Mama Nayna pun menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Apa Mama saya tidak ada menghubungi Tante? Tentang hubungan kami?" tanya Arash dengan percaya diri.
__ADS_1
Mama Nayna tersenyum, dalam hati mengagumi keberanian Arash.
"Ya, tadi Tante sempat berbicara dengan Mama kamu di telepon. Tapi kami tidak membicarakan tentang hubungan kalian," ujar Mama Nayna. "Memangnya ada apa dengan hubungan kalian?" sambungnya lagi seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi dengan dua anak muda itu.
Arash berdiri tegap dengan tangan yang saling bertautan di depannya. Berdiri dengan sopan dan berwibawa di hadapan calon mertuanya itu.
"Saya mencintai Putri, Tante. Dan saya berniat untuk melamarnya," ujar Arash tanpa ragu.
Mama Nayna membuka mulutnya, seolah terkejut dengan apa yang di katakan oleh Arash. Ya, walaupun sebenarnya benar-benar terkejut dengan apa yang pria itu katakan. Siapa yang menyangka, jika Arash seberani ini untuk menyatakan cintanya kepada Putri di hadapan Mama Nayna, Papa Satria, dan seluruh keluarga besarnya yang lain.
"Bagaimana bisa?" lirih Mama Nayna. "Tapi Putri sudah di lamar oleh Soni, dan mereka berdua akan bertunangan nanti malam, di saat bersamaan dengan ulang tahun Tante," sambung Mama Nayna.
"Tapi, sayang. Mama dan Papa sudah sepakat untuk menerima lamaran Soni nanti malam," ujar Mama Nayna.
"Ma ..." lirih Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Duh, gimana ini? Jika di batalkan dan membuat Om Martin malu, Mama takut kalau hubungan papa kamu dan Om Martin kembali renggang."
Putri terdiam. Jika sudah begini dia tidak bisa berkutik. Ya, dia sangat tahu bagaimana persahabatan Om Martin dan juga Papa Satria, di mana sempat ada selisi paham di antara keduanya sehingga menjadikan mereka rival.
"Putri." Suara Papa Satria pun mengambil atensi semuanya.
__ADS_1
"Pa?"
"Bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat ke hotel," titah Papa Satria.
"Tap-tapi, Pa?"
"Dan untuk Nak Arash. Om salut atas keberanian kamu untuk menyatakan cinta di depan Om dan Tante. Tapi maaf, kami sudah mengambil keputusan atas Putri."
"Pa, Putri gak cinta sama Soni, Putri mohon," lirih Putri dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Nak Arash, sebaiknya kamu pulang dan bersiaplah untuk menghadiri undangan yang sudah Om berikan ke orang tua kamu," titah Papa Satria.
"Om, saya mohon, tolong kasih saya satu kesempatan, Om. Saya janji, saya akan membahagiakan Putri. Saya janji, saya akan menjadi suami yang dewasa untuk Putri. Saya mohon, Om, tolong, jangan jodohkan Putri dengan yang lain," pinta Arash dengan mata yang basah.
"Maaf Nak Arash, ini sudah di putuskan."
Mama Nayna pun membawa Putri untuk menaiki tangga menuju kamarnya. Tatapan mata Putri pun tak lepas dari Arash, begitu pun sebaliknya. Mereka seolah tak bisa berkutik dengan apa yang sudah di putuskan oleh Papa Satria dan Mama Nayna.
Arash pun terpaksa berbalik arah, di saat tak lagi melihat siluet orang yang dia cintai.
"Papa serius jodohi Mbak Putri dengan Soni?" tanya Bara yang memang tak mengetahui apa yang telah di rencanakan oleh Mama Nayna.
__ADS_1