
Sifa melirik melalui dinding lift ke arah Abash yang saat ini berdiri di belakangnya. Di mana Abash sedang menutup matanya dengan posisi bersandar di dinding lift dan tangan yang terlipat di atas perut.
"Kok Pak Abash biasa aja ya? Kayak gak DA kejadian apa-apa? Padahal kan tadi dia yang cium gue?" batin Sifa.
"Trus, tujuan dia cium gue apaan ya? Dia dia suka sama gue?" batin Sifa lagi.
"Ah, gak mungkinlah Pak Abash suka sama gue. Kasta kami kan jauh banget." lirih Sifa dalam hati. "Tapi, kenapa dia cium gue ya? Kalau cium kan artinya suka?" sambungnya lagi dalam hati dengan masih menatap wajah Abash dari pantulan di Ding lift.
"Mau sampai kapan kamu liatin saya terus?" tanya Abash yang mana membuat Sifa terkejut.
"Hah?"
Perlahan mata Abash terbuka dan membalas tatapan Sifa yang saat ini sedang menatapnya dari pantulan lift.
"Apa yang kamu ingin tanyakan?" tanya Abash.
"Hah? Oh, itu.. gak ada," jawab Sifa cepat dan menundukkan kepalanya.
"Katakan saja, apa yang mau kamu tanyakan?" ulang Abash lagi.
Sifa menarik napasnya dan membalikkan tubuhnya.
"Saya mau tanya, apa arti dari ciuman Bapak tadi?" tanya Sifa.
__ADS_1
Abash menaikkan alisnya sebelah, pria itu pun menegakkan tubuhnya.
"Ciuman?" tanya Abash.
"Iya, saat kita di dalam apertemen tadi, Bapak cium saya. Apa mak-- aww..." Sifa meringis di saat Abash menarik tubuhnya dan mengubah posisi mereka, di mana saat ini Sifa sudah berada di dalam Kungkungan Abash.
Abash perlahan mendekatkan wajahnya, sehingga membuat Sifa mengedipkan matanya dengan cepat dan perlahan menutup matanya di saat merasakan wajah Abash semakin mendekat.
"Apa kamu menyukai saya?" tanya Abash tepat di depan bibir Sifa.
Saat itu juga, Sifa membuka matanya dan menatap wajah Abash.
"Mak-maksud Bapak?" tanya Sifa.
Sifa mengedipkan matanya dengan cepat. "Tidak," jawabnya pelan.
"Lalu, kenapa kamu menutup mata kamu? Saat saya mendekatkan wajah saya?" tanya Abash.
"It-itu .. Itu saya refleks. Ya, saya refleks," jawab Sifa.
"Benarkah?" tanya Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Hmm, berarti kamu sekarang sudah tau kan jawaban saya?" ujar Abash dan menjauhkan tubuhnya dari Sifa.
__ADS_1
"Mak-maksud Bapak?"
"Tadi kamu bertanya kenapa saya mencium kamu. Saya mencium kamu karena situasi kita yang membuat saya mencium kamu. Dan satu hal yang harus kamu ingat, saya tidak suka sama kamu, serta kamu itu bukan tipe saya," ujar Abash dan menatap Sifa dari atas hingga ke bawah.
Sifa mengepalkan tangannya dan menatap Abash dengan penuh kekesalan. Apa Abash gak tahu? Jika itu adalah ciuman pertamanya?
Ya, setidaknya itu bukan ciuman yang tak di sengaja seperti sebelumnya terjadi.
"Ja-jadi ciuman itu gak ada artinya apa-apa dengan Bapak?" tanya Sifa dengan lirih.
"Hmm," jawab Abash dengan gimana.
Sifa merasa hatinya teremas-remas, wanita itu pun berharap agar pintu lift segera terbuka.
"Gue harus jaga jarak dengan Pak Abash mulai saat ini," batin Sifa.
Ting ...
Pintu lift pun terbuka, Sifa bergegas keluar tanpa pamit kepada Abash.
"Kenapa dia?" lirih Abash sambil menatap punggung Sifa yang perlahan menghilang dari balik pintu lift.
"Apa akua da salah bicara? Bukannya dia yang mengatakan jika tak suka sama aku? Lagi pula, aku juga gak punya perasaan apapun terhadap dia," lirih Abash dan perlahan memegang dadanya yang berdebar.
__ADS_1
"Tapi, kenapa perasaan ini sedikit aneh, ya?"