Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 449


__ADS_3

Putri merasa ada yang aneh pada dirinya. Setiap mencium aroma tubuh Arash, wanita itu selalu saja merasa mual. Akan tetapi, di setiap Arash menjauh darinya, Putri merasa rindu dengan aroma tubuh sang suami. Arash pun di buat serba salah. Mendekat salah, menjauh salah. Melihat kejadian tersebut. Mama Nayna pun meminta Putri untuk melakukan pengecekan kehamilan.


"Mama beli tespack?" tanya Papa Satria saat menemukan alat pengecek kehamilan tersebut di atas meja nakas. "Mama hamil?" tebak Papa Satria yang mana membuat Mama Nayna melototkan matanya.


"Sembarangan aja kalau ngomong," cibir Mama Nayna.


"Jadi, ini tespack untuk apa?" tanya Papa Satria sambil menunjukkan alas tes kehamilan tersebut.


"Untuk Putri, Pa. Akhir-akhir ini Mama perhatiaan sifat Putri ke arah agak berbeda. Dia merasa kesal jika Arash berada di dekatnya. Dia juga merasa rindu jika Arash menjauh darinya," jelas Mama Nayna. "Mama curiga kalau Putri hamil lagi deh, Pa."


"Oh ya? Memangnya Putri gak KB?" tanya Papa Satria.


"KB sih. Tapi kan bisa aja kebobolan, Pa, jika Allah sudah mengizinkan."


"Iya juga sih," gumam Papa Satria. "Eh tapi, kenapa tespack nya ada sama Mama?" tanya Papa Satria dengan kening mengkerut.


"Oh, ini supaya Arash gak tahu, Pa," jawab Mama Nayna. "Putri gak ingin Arash tahu, kalau dugaan Mama ini benar jika Putri hamil. Kalau benar, Putri mau kasih kejutan untuk ulang tahun Arash katanya," ujar Mama Nayna memberitahu.


"Oh, begitu …" Papa Satria pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Semoga saja positif ya," doa Papa Satria yang langsung di amini oleh Mama Nayna.


Setelah sarapan, seperti biasa Putri mengantarkan suaminya hingga ke depan pintu rumah. Akan tetapi, wanita itu menggunakan masker yang sudah di olesi oleh minyak angin, agar dirinya tidak mencium aroma tubuh sang suami.


"Boleh cium?" tanya Arash kepada Putri.


"Jangan lama-lama ya, Mas." Putri pun membiarkan Arash mencium keningnya.


Merasa tidak ingin membuat sang istri tersiksa dengan aroma tubuhnya, Arash pun hanya mendaratkan sebuah kecupan yang secepat kilat.


"Aku pergi dulu ya," pamit Arash yang mana punggung tangannya tidak di salam atau di cium oleh Putri.


"Iya, Mas, hati-hati, ya. Jangan lupa kasih kabar."


Arash melambaikan tangannya, kemudian pria itu masuk ke dalam mobil.


Putri membuka maskernya di saat mobil Arash sudah berlalu, wanita itu pun mencoba menghirup aroma tubuh sang suami yang masih tertinggal.


"Hmm, mobilnya aja belum lewat pagar, tapi udah kangen sama aroma tubuhnya," lirih Putri dengan gelisah.


Putri pun masuk ke dalam rumah, di mana Mama Nayna sudah menunggu kedatangan sang putri.


"Arash sudah pergi?" tanya Mama Nayna yang diangguki oleh Putri.

__ADS_1


"Ini, sebaiknya kamu tes sekarang," titah Mama Nayna.


Putri pun mengambil tespack yang diberikan oleh Mama Nayna, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengetahui apa hasil yang di tunjukkan oleh alat tes kehamilan tersebut.


"Bagaimana?" tanya Mama Nayna kepada Putri yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Putri pun menunjukkan tespack yang ada di tangannya kepada Mama Nayna, di mana terlihat ada dua garis yang muncul di sana. Mama Nayna menutup mulutnya, merasa sangat senang sekali mengetahui kabar gembira ini.


"Alhamdulillah, selamat ya, sayang," ucap Mama Nayna sambil memeluk Putri.


"Iya, Ma, terima kasih banyak," ujar Putri dengan air mata yang berlinang.


Ya, Putri merasa sangat bahagia di saat mengetahui jika dirinya kembali hamil. Walaupun hati kecilnya juga merasa sedih secara bersamaan, karena Rayyan yang masih sangat kecil, sudah harus memiliki seorang adik.


"Jadi, apa rencana kamu sekarang?" tanya Mama Nayna sambil merelaikan pelukannya.


Mama Nayna mengangkat tangannya untuk menghapus air mata bahagia sang putri.


"Putri akan mengajak Mas Arash untuk makan malam romantis besok, Ma. Di mana kadonya ada ini," ujar Putri sambil menunjuk alat tes kehamilan yang ada di tangannya.


"Baiklah, Rayyan biar menjadi urusan Mama. Kamu nikmati saja makan malam romantisnya, ya?"


*


Hari ini adalah hari ulang tahun Arash. Awalnya Mama Kesya meminta kepada sang putra untuk merayakannya di rumah Oma Laura, akan tetapi pria itu menolak karena Putri sudah duluan ingin mengadakan acara makan romantis denganyya.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Lagi pula kalian juga perlu waktu untuk berpacaran kan?" ujar Mama Kesya yang mengerti dengan posisi Arash dan Putri saat ini.


"Iya, Ma. Maaf ya, Arash gak bisa menuruti permintaan Mama kali ini."


"Gak papa sayang. Masih ada hari yang lain kok."


Setelah berbincang sesaat dengan Mama Kesya, Arash pun memutuskan panggilannya.


"Ada apa, sayang?" tanya Putri yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Oh, ini. Mama tadi telpon, katanya mau rayain ulang tahun aku di rumah oma. Tapi aku menolaknya, karena sudah membuat janji dengan kamu, sayang," jawab Arash.


"Sayang banget jika harus di tolak, Sayang. Kenapa kamu gak iyakan saja?"


"Terus, rencana kamu untuk mengajak aku makan malam romantis berdua bagaimana?" tanya Arash.

__ADS_1


"Kita bisa melakukannya di lain waktu, Mas. Tapi, kebersamaan dengan keluarga itu lebih penting. Sebaiknya kamu menghubungi Mama untuk mengatakan jika kita akan merayakan ulang tahun kamu di rumah oma," titah Putri yang mana membuat Arash menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, istriku." Arash pun kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi sang mama dan memberitahu jika mereka akan mengadakan acara ulang tahunnya di rumah Oma Laura.


Putri membiarkan rencana makan malam romantisnya bersama sang suami gagal bergitu saja. Entah mengapa wanita itu merasa jika waktu kebersamaan dengan Oma Laura tidaklah lama lagi.


Putri ingin mengatakan hal itu kepada Arash, tapi Putri takut jika suaminya menuduh kalau dirinya berdoa agar Oma Laura segera menghadap kepada yang maha kuasa. Untuk itulah, Putri merelakan rencana makan malam romantisnya gagal demi bisa merayakan bersama dengan Oma Laura dan keluarga besar yang lainnya.


*


Seluruh keluarga sudah berkumpul, ada Zia juga di sana. Mama Kesya sangat senang, karena Arash akhirnya ingin merayakan ulang tahunnya di rumah Oma Laura bersama dengan keluarga besar mereka. Seluruh keluarga sudah memberikan hadiah untuk Arash, termasuk Zia yang memberikan hadiah berupa tali pinggang, di mana kepala gespernya itu dia yang menggambarnya untuk di cetak.


Hanya tinggal Putri yang belum memberikan hadiah untuk suaminya itu.


"Put, hadiah kamu mana?" tanya Kak Lana kepada adik iparnya itu.


Putri tersenyum, wanita itu pun memberikan sebuah kotak kecil yang sudah di bungkus dengan pita.


"Pasti jam tangan," tebak Kak Zein yang diangguki oleh Bang Fatih.


Arash hanya tersenyum, dugaannya pun sama dengan apa yang ada dikatakan oleh Kak Zein. Arash berpikir jika Putri pasti akan memberikan jam tangan sebagai hadiahnya.


Arash menarik tali pita hingga terlepas, agar dirinya bisa membuka kotak hadiah dari sang istri. Kening Arash mengkerut di saat melihat jika hadiah yang diberikan oleh Putri bukan seperti apa yang dia duga.


"Sayang, i-ini?" Arash menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga membuat semua orang yang ada disana pun merasa penasaran.


"Putri kasih apa, Rash?" tanya Bang Fatih.


Arash menunjukkan hasil tespeck yang ada di dalam kotak, sehingga membuat semua orang mengucap rasa syukur dan memberikan selamat kepada Arash dan Putri.


"Selamat ya, Raassh .. Putrrii …"


Terlihat seluruh keluarga sangat bahagia mendengar kabar bahagia yang sekaligus hadiah bagi mereka semua, bukan hanya untuk Arash saja.


Di sisi lain, Sifa menatap sendu ke arah Putri dan Arash, tangannya terangkat untuk menyentuh perutnya yang rata.


"Ya Allah, kapan engkau akan titipkan malaikat kecil di dalam rahim hamba?" batin Sifa.


Sifa terkejut, di saat sebuah tangan merangkul bahunya. Wanita itu menoleh ke arah si pelaku, di mana Abash sedang tersenyum manis dengannya.


"Insya Allah, giliran kamu akan segera tiba, sayang," bisik Abash menguatkan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2