Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 73 - Ayam Kakek


__ADS_3

Arash mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar penjelasan dari sang kembaran.


"Jadi, rumah yang kamu tempati selama ini hancur?" tanya Arash.


"Iya, Pak," jawab Sifa.


"Makanya kamu terima tawaran Abash untuk tinggal di apertemen dia?"


"Iya, Pak."


"Intinya, saat aku ajakin Sifa tinggal di apartemen, aku udah pindah ke apartemen yang lain. Aku hanya membantu Sifa aja untuk mencari tempat tinggal. Gak salah kan? Lagian apartemen aku kan bisa di rawat sama dia," ujar Abash.


"Gak salah sih, ada bener juga malahan, cuma aneh aja gitu," lirih Arash sambil melirik ke arah sang kembaran.


"Anehnya?" tanya Abash.


"Apa kamu tertarik dengan Sifa?"


Byuurr ...


Sifa yang tengah minum pun menyemburkan air dari dalam mulutnya ke arah Arash. Sehingga membuat wajah tampan pria itu pun basah. Arash tersenyum dan mengambil sapu tangan yang ada di atas meja dan mengeringkan wajahnya.


"Pak, Maaf, Pak," ujar Sifa sambil berdiri dan menghampiri Arash dengan perasaan bersalah.


Arash tetap tersenyum dan menoleh ke arah Sifa.


"Iya, Gak papa kok," ujarnya.


"Ta-tapii.."

__ADS_1


"Maaf, ini pesanannya sudah tiba," ujar Pelayan sambil membawakan pesanan makanan mereka.


"Sifa, duduk," titah Arash yang langsung di angguki oleh Sifa.


"Bapak beneran gak papa kan?" tanya Sifa khawatir.


"Iya, saya gak papa kok. Cuma air aja yang kamu sembur, bukan lahar," kekeh Arash.


"Emangnya saya naga, Pak?" cibir Sifa yang mana membuat Arash tertawa.


"Kamu ini, lucu deh," puji Arash.


Abash hanya menatap kedua orang yang saat ini sedang mengacaukan perasaannya. Dia berharap agar dirinya dan sang kembaran tak menyukai gadis yang sama, tetapi dia juga berharap agar Sifa tak tertarik dengan Arash.


Pria itu mulai merasakan sesuatu yang aneh saat melihat kedekatan Arash dan Sifa.


Tunggu, apa Abash mulai menyadari jika dia menyukai Sifa?


"Ayo di makan." Suara Arash pun mengambil alih perhatian Abash, sehingga membuat pria itu pun menatap makanan yang tersaji di hadapannya saat ini.


"Kamu mau coba? Ini enak loh, Sifa," tawar Arash.


"Gak papa, Pak. Saya makan kentang aja," tolak Sifa.


"Udah, gak usah malu-malu. Nih, kamu cobain punya saya aja," ujar Arash dan memberikan spageti miliknya kepada Sifa.


"Saya serius, Pak. Saya gak papa kok. Lagian masih kenyang juga," tolak Sifa lagi.


"Atau kamu mau punya saya?" tawar Abash yang mana membuat Sifa terdiam.

__ADS_1


"Bash, kan sama aja punya aku dan punya kamu," ujar Arash.


"Ya mana tau. Dia maunya punya aku," ujar Abash sambil melirik ke arah Sifa.


"Kamu pilih yang mana? punya saya apa Arash?" tanya Abash kepada Sifa.


"Ini aja, sama aja kan, Pak?" ujar Sifa sambil menarik piring Arash.


"Hmm, sama aja sih. Sama-sama spageti," kekeh Arash dengan tersenyum manis.


"Ya udah, aku pesan yang lain," ujar Arash yang di tahan oleh Abash.


"Gak usah, kamu makan punya aku aja. Lagian aku udah kenyang juga," ujar Abash sambil memberikan spageti miliknya.


"Serius?" tanya Arash.


"Hmm, lagian ada kentang goreng juga yang bisa aku makan."


"Oh, ya udah kalau gitu, Aku makan ya,." Arash pun mengambil spageti milik Abash dan memakannya.


"Gimana Sifa? Enak?" tanya Arash saat melihat Sifa sudah menikmati spageti miliknya.


"Iya, Pak. Enak. Ini rasanya beda sama yang di ayam kakek," ujar Sifa.


"Ayam kakek?" tanya Arash dengan kening berkerut.


"Iya, ayam kakek. Ayam yang logonya kakek itu, Pak. Gak boleh sebutin merk, penulisnya gak di bayar soalnya," kekeh Sifa yang mana membuat Arash pun langsung mengerti.


"Oh, ya.. ya.. saya mengerti. ha .. ha .. kamu lucu banget, Sifa," kekeh Arash.

__ADS_1


"Ayam kakek? Apaan emangnya?" tanya Abash yang mana memang belum tau apa itu ayam kakek.


__ADS_2