Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 185 - Lemari Pendingin


__ADS_3

"Om!" Putri menghentikan pergerakan Om Martin yang hendak ingin melajukan mobilnya.


"Ya, Put?"


"Tolong, jangan bilang ke Papa, ya," pinta Putri dengan memohon. "Biarkan Putri menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan papa. Lagi pula, saat ini Zia lagi butuh Papa, Bara juga sedang fokus pada ujian akhirnya. Putri hanya tak ingin mereka merasa khawatir," lirih Putri dengan mata yagn berkaca-kaca.


"Kamu yakin ingin merahasiakan ini dari papa kamu?" tanya Om Martin.


"Iya, Om. Putri mohon."


Om Martin pun menghela napasnya pelan. "Baiklah, Om akan merahasiakan hal ini dari papa kamu dan Bara. Tapi, kamu harus janji sama Om, kalau kamu akan baik-baik saja," pinta Om Martin kepada anak dari sahabatnya itu.


"Iya, Om. Putri janji. Lagi pula, Putri sudah pengawal yang akan melindungi Putri," ujar Putri dengan tersenyum.


"Baguslah kalau begitu. Tapi, walaupun kamu sudah ada yang mengawal, kamu tetap harus hati-hati, ya, sayang. Yosi itu sangat licik, sebelum hatinya merasa puas untuk menghancurkan kamu, maka dia tidak akan berhenti. Apa lagi, Josi, adiknya terluka saat di dalam sel," terang Om Martin kepada Putri.


"Iya, Om. Putri mengerti. Putri paham betul cara kerja mafia seperti Yosi," ujar Putri dengan tersenyum manis.


"Iya, walau bagaimana pun, kamu tetap harus hati-hati. Om akan mencoba cari celah untuk menangkap Yosi."


Setelah membahas rencana apa yang akan di lakukan, Om Martin pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan.


Ya, saat Josi keluar dari dalam penjara. Pria itu mengadu kepada sang kakak dan mengatakan jika dirinya mendapatkan pukulan dari tahanan lain, sehingga membuat keningnya terluka. Hal itu pun membuat Yosi sangat marah.


Om Martin yang mendapatkan kabar jika Josi terluka, langsung memberikan peringatan kepada Abash dan Putri, agar mereka harus tetap hati-hati, karena Yosi bisa melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya.


*


"Mas," lirih Sifa dan menangkup wajah sang kekasih. Gadis itu pun tersenyum dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan kepada Abash.


"Aku percaya sama, Mas."


Ya, hal yang Abash butuhkan saat ini adalah kepercayaan dan dukungan dari sang kekasih. Untuk itu, Abash ingin melindungi Sifa dari bahaya yang akan menyerang mereka.


Penjagaan untuk seluruh keluarga Moza pun semakin di perketat, karena Abash tidak ingin jika anggota keluarganya ikut terluka. Begitu pun dengan Putri, dia juga sudah meminta penjagaan dari pria yang bernama Martin--kenalan Abash untuk menjaga anggota keluarganya. Terutama Mama Nayna.


"Terima kasih, Sifa. Terima kasih banyak karena kamu sudah mau mengerti aku," ujar Abash dan memeluk sang kekasih.


"Iya, Mas."


Sifa mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Putri, gadis itu memilih untuk mempercayai sang kekasih saat ini. Seperti apa yang di katakan oleh Amel, jika foto yang di lihat oleh Sifa, bisa saja tidak seperti apa yang gadis itu pikirkan saat ini.

__ADS_1


Cekrek .. Cekreek ....


Sebuah foto pun kembali di ambil oleh orang yang tak di kenal. Foto di mana Abash yang tidak menggunakan masker dan topinya, memeluk sang kekasih di saat mereka berada di atas puncak tertinggi bianglala.


*


"Hai, Max," sapa Putri kepada kucing yang tengah tidur di pinggiran taman apartemen.


Gadis itu pun mengelus bulu kucing yang sedang duduk santai menikmati angin malam. Sudah hampir satu jam Putri bersama max di taman, gadis itu belum juga terlihat ingin masuk ke dalam apartemennya, walaupun hujan saat ini mulai turun.


"Max, temani aku tidur malam ini ya? Mau ya?" pinta Putri kepada kucing gemoy itu.


"Hai!" sapa Arash yang mana membuat Putri terkejut.


"Ya ampun, kamu ...," lirih Putri sambil mengusap dadanya dengan lembut. "Kagetin aja."


Arash pun terkekeh pelan dan duduk di samping Putri. Sebenarnya, sudah sedari awal Putri berada di taman itu, Arash sudah memperhatikannya. Entah mengapa pria itu enggan untuk meninggalkan Putri yang terlihat menyimpan semua bebannya sendirian.


"Sudah gerimis, gimana kalau kita masuk ke dalam?" ajak Arash.


Pria itu sengaja mendatangi Putri, karna melihat jika Putri masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, walaupun hujan sudah mulai turun secara perlahan.


Arash dan Putri pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam apartemen dengan Putri yang menggendong max.


"Aku izin bawa Max tidur sama aku, ya," pinta Putri kepada Arash.


"Silakan, lagi pula sepertinya dia juga sangat menyukai kamu."


Mereka pun naik ke dalam lift, hanya obrolan tentang max yang menemani mereka berdua.


Saat sudah tiba di lantai di mana apartemen mereka berada, Putri dan Arash pun berpisah.


"Aku masuk dulu, ya," pamit Putri kepada Arash.


"Silakan," ujar Arash dengan tersenyum.


Pria itu masih memperhatikan Putri, hingga gadis itu menghilang di balik pintu apartemennya, barulah Arash masuk ke dalam apartemennya.


Arash baru saja selesai mendapatkan panggilan, pria itu pun kembali keluar dari apartemennya untuk mengambil barang yang tertinggal di dalam mobil.


"Aaaaaaa ...."

__ADS_1


Terdengar suara teriakan yang berasal dari apertemen Putri, bergegas Arash mendekati pintu apartemen gadis itu dan menggedor pintunya.


"Put ... Putri?"


Arash mengingat jika Putri pernah menyebutkan password apartemennya, pria itu mencoba memasukkan nomor tersebut dan ...


Ceklek ...


Beberapa menit yang lalu.


"Max, makan dulu ya," ujar Putri sambil menuangkan makanan kucing ke dalam piring.


Setelah memberi max makan, Putri pun beranjak ke dalam kamar untuk meletakkan tas dan juga membuka kemeja yang dia kenakan, sehingga menyisakan tangtop yang menutupi tubuh bagian atasnya saja.


"Hah, haus banget," lirih Putri dan berjalan menuju dapur.


Gadis itu pun mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya, kemudian menegukknya hingga kandas.


"Makan apa ya malam ini?" lirih Putri sambil berpikir akan memasak apa. Padahal gadis itu sebelumnya sudah makan malam bersama Om Martin, tetapi cuaca dingin tadi kembali membuat perutnya terasa lapar.


Putri pun beralih menuju ke lemari pendingin, tangan gadis itu pun terulur untuk membuka lemari pendingin tersebut, hingga pintunya terbuka. Putri langsung membelalakkan matanya di saat dia melihat potongan tangan yang ada di dalam lemari pendinginnya.


"Aaaaaaa ...."


Gelas yang ada di tangan Putri pun terjatuh dan pecah, gadus itu memundurkan langkahnya dan menginjak pecahan kaca tersebut, sehingga membuatPutri pun terjatuh terduduk di lantai. Perlahan, gadis itu berungsut mundur menjauhi lemari pendinginnya yang masih terbuka.


Ceklek ...


"Putri?" pekik Arash saat melihat kaki Putri berdarah, dengan posisi gadis itu yang terduduk di lantai. Arash langsung berlari menghampiri Putri.


"Put, apa yang terjadi?" tanya Arash.


Dengan tangan yang bergetar, Putri menunjuk ke arah lemari pendinginnya.


"I-itu, hiks ..."


Arash mengikuti arah tunjuk Putri, sehingga membuat pria itu ikut membelalakkan matanya.


Dengan sekali gerakan, Arash membawa tubuh Putri yang sudah terlihat bergetar hebat ke dalam pelukannya.


"Tenanglah," bisik Arash kepada Putri.

__ADS_1


__ADS_2