
"Kamu tau aku datang, lalu kenapa gak bukain pintu?"
Sifa mengerjapkan matanya, gadis itu merasa bingung, kenapa Abash datang ke apartemennya saat ini.
"Mas? Mas kenapa ke sini?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.
Abash mengangkat kantong plastik yang ada di kedua tangannya. Sifa mengernyitkan kening, merasa bingung dengan apa yang di maksud oleh sang kekasih.
"Aku sengaja bawain ini, karena kamu pasti belum makan," ujar Abash memperjelas maksud kedatangannya.
"Untuk apa? Aku kan udah makan, Mas!"
Abash menghela napasnya dengan sedikit kasar, pria itu pun dengan susah payah berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Mas, biar aku bawain," pinta Sifa dan mengambil kantong plastik yang ada di tangan Abash, karena pria itu menggunakan tongkat di salah satu tangannya.
Sifa pun membawa makanan yang dia ambil dari tangan Abash, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Mas beli apa aja? Kenapa sampai repot-repot beliin makanan?" tanya Sifa sambil mengeluarkan makanan yang di bawa oleh Abash dari kantong plastik.
"Aku pikir kamu bohong, kalau kamu belum makan," ujar Abash sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Aku udh makan roti tadi." Sifa pun membuka salah satu bungkusan yang berisi takoyaki.
"Ini apa?" tanya Sifa yang memang tidak mengetahui makanan yang sedang dia lihat saat ini.
"Takoyaki, cobain deh, pasti kamu suka."
Sifa pun menuruti apa yang di katakan oleh Abash, gadis itu memasukkan satu buah takoyaki ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Di gigit dikit-dikit, Sifa, biar gak belepotan gitu," ujar Abash, pria itu pun mengambil tisu yang ada di atas meja dan membersihkan bibir sang kekasih yang terlihat belepotan.
"Enak banget, Mas," seru Sifa dengan matanya yang membulat.
Abash tersenyum, pria itu sangat suka sekali melihat ekspresi Sifa dengan mata yang membulat seperti saat ini. Gadis itu terlihat sangat lucu sekali, bagaikan burung hantu yang sedang menatap sekelilingnya.
Sifa mengambil kembali takoyaki yang ada di dalam steroform. Kali ini dia menggigit setengah takoyaki seperti apa yang di katakan oleh Abash, tidak seperti sebelumnya yang langsung memasukkan satu bulat takoyaki ke dalam mulut.
Bisa di bayangin kan, bagaimana besarnya mulut Sifa saat memasukkan semua takoyaki ke dalam mulut?
"Mas, mau?" tawar Sifa saat melihat wajah Abash yang terus memandang ke arahnya.
Abash menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kamu aja yang makan, lihat kamu makan aja aku udah merasa sangat kekenyangan," ujar Abash sambil tersenyum kecil.
"Mas beli apa aja?" tanya Sifa sambil melihat bungkusan plastik yang lain.
"Kenapa banyak banget belinya? Ini untuk aku semua?" tanya Sifa.
"Huum, untuk kamu semua," angguk Abash.
"Kenapa harus di beli semua? Kan bisa salah satunya aja?"
"Aku bingung mau beli apa, makanya aku beli aja semuanya, takut kamu kelaparan," kekeh Abash.
Sifa menggelengkan kepalanya, gadis itu pun mengulurkan burger ke arah Abash.
"Untuk Mas, biar gak bengong liatin aku makan," ujar Sifa sambil mengulurkan burger ke arah sang kekasih.
__ADS_1
"Makasih sayang." Abash pun mengambil burger yang di ulurkan oleh sang kekasih.
Malam ini, mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan menikmati makanan yang Abash beli saat menuju ke apartemen Sifa.
Di tempat lain.
"Akhirnya, kamu benar-benar menjadi calon istri aku," ujar Arash sambil menggenggam tangan Putri dengan penuh cinta.
"Iya, awalnya aku benar-benar shock saat Mama mengatakan mau menjodohkan aku dengan Soni. Di tambah Papa yang juga mendukung keputusan Mama," kekeh Putri.
"Dan ternyata kita berdua di bohongi," kekeh Arash pula.
"Tidak, bukan kita berdua. Tapi kamu," ujar Putri sambil mengulum bibirnya.
"Saat kamu pergi dan aku masuk ke dalam kamar, Mama langsung mengatakan yang sebenarnya kepada aku," ujar Putri memberitahu apa yang sebenarnya terjadi saat kepergian Arash dari rumahnya.
"Kalau kamu sudah tau, kenapa kamu gak bilang ke aku?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
"Karena ini semua rencana Tante Kesya, Mama kamu," jawab Putri sambil tertawa pelan.
"Mama? Jadi ini semua rencana Mama?" tanya Arash dengan terkejut.
"Huum, ini semua rencana calon mertua aku."
Arash mendengus sambil tertawa, pria itu tidak menyangka jika dia juga akan jadi korban dari kejahilan orang tuanya.
"Kalau kamu sudah tau, kenapa kamu gak bilang aku?" tanya Arash sekali lagi dengan smrik wajah yang berbeda saat ini.
Putri yang melihat wajah lain dari Arash pun, menelan ludahnya dengan kasar. Apa yang akan Arash lakukan kepadanya saat ini?
__ADS_1
"I-itu ...."
"Terima hukuman kamu sayang."